
"Din.. Apa kamu bisa berjanji satu hal padaku?" Leo malah balik bertanya dengan muka serius.
"Bisa. Apa itu?" sahut Dinda.
"Begini.. Aku rasa kita sudah menghabiskan banyak waktu bersama. Bagaimana jika.. Aku menyukaimu?" tanya Leo.
"Kau? Kamu menyukaiku? Leo, jangan bercanda!" seru Dinda sambil mengerutkan keningnya.
"Aku tidak.." sahut Leo.
"Aku lelah hari ini. Aku pulang dulu." timpal Dinda.
"Sampai nanti. Maaf, kita bertemu kapan-kapan lagi saja." kata Dinda setelah selesai membereskan semua barang bawaannya. Ia hendak pergi dan membayar ke kasir.
"Permisi, Tante. Saya mau bayar pesanan di meja no. 56." kata Dinda kepada sang kasir.
"Udah dibayar tadi, Non." sahut seorang wanita paruh baya pemilik cafe itu.
"Udah dibayar?" tanya Dinda bingung.
"Iya, sama pemuda itu." jawab wanita itu.
"Oh, makasih ya, Tante." kata Dinda pelan sambil tersenyum.
"Sama-sama." sahut wanita itu.
Ada apa dengannya? Apa dia kelelahan? batin Leo sambil menggelengkan kepalanya.
...****************...
Sebenarnya, aku menyukaimu. Aku.. Tau ini tidak masuk akal, tapi, aku memang menyukaimu.
"Ah tidak-tidak. Dinda, fokuslah!" bentak Dinda pada dirinya sendiri.
"Mungkin aku hanya kelelahan. Aku akan mandi saja." kata Dinda sambil menuju ke kamar mandi.
Aku.. tau ini tidak masuk akal, tapi, aku memang menyukaimu.
"Benar! Ini memang tidak masuk akal! Kenapa dia menyukaiku jika dia sendiri tau kalo ini tidak masuk akal?" seru Dinda sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil di tangannya seusai mandi. Ia berniat berjalan ke meja belajarnya untuk belajar.
"Kenapa dia selalu melintas di kepalaku?" tanya Dinda sambil menghela napasnya.
...****************...
"Tuan mu.. Ryan." panggil Pak Herman.
"Ada apa, Pak?" tanya Ryan.
"Tuan Leo sudah menunggu Anda di ruang tamu." jawab Pak Herman.
"Leo? Kenapa dia kemari?" tanya Ryan penasaran.
"Saya juga tidak tahu, Tuan. Dia hanya bilang dia ingin bertemu Anda untuk menanyakan sesuatu." jawab Pak Herman.
"Oh, ya? Baiklah. Aku akan turun dan menemuinya." kata Ryan sambil menghela napasnya.
"Leo." panggil Ryan.
__ADS_1
"Ah, Ryan."
"Ada apa kemari?"
"Tidak. Aku hanya ingin menanyakan sesuatu."
"Kalau begitu kenapa tidak tanya di telepon saja?"
"Bisakah kita bicara di balkon kamarmu saja, Ryan?"
"Bisa. Ikut aku." jawab Ryan. Leo pun mengekori Ryan untuk naik ke lantai tiga dimana kamar Ryan berada.
...****************...
"Apa kamu mau snack dan minuman?" tanya Ryan. Leo sangat terkejut mendengar pertanyaan itu.
Anak ini sedang kerasukan apa? Kenapa tiba-tiba dia menawarkan snack dan minuman? batin Leo. Meski begitu, ia tetap merasa senang.
"Boleh." jawab Leo sambil tersenyum.
"Minta sendiri. Kamu bukan anak kecil." sahut Ryan yang membuat senyuman Leo pudar seketika.
"Apa?" tanya Leo.
"Apa? Kenapa?" sahut Ryan.
"Gapapa. Sebentar, aku akan ke bawah menemui Pak Bagus." jawab Leo yang langsung pergi ke dapur untuk meminta snack dan minuman.
"Hmm." sahut Ryan. Setelah beberapa saat, Leo pun sudah naik dan membawa nampan berisi dua gelas air putih dan biskuit.
"Iya." jawab Leo seusai dirinya menaruh nampan itu di atas meja.
"Apa yang kamu mau tanyakan, Leo?" tanya Ryan dengan nada sinis.
"Jawab aku dengan jujur." jawab Leo sama sinisnya.
"Hmm." sahut Ryan sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Ryan." panggil Leo.
"Apa kamu sudah menyatakan perasaanmu kepada Dinda?" tanya Ryan.
"Bagaimana kalau sudah? Apa hubungannya denganmu?" tanya Ryan.
"Tidak. Aku hanya bertanya." jawab Leo.
"Kenapa bertanya jika sudah tau? Kamu datang malam-malam hanya untuk menanyakan ini?" tanya Ryan sambil mengangkat kedua alisnya lalu menatap ke arah sepupunya.
"Ya.. Aku hanya memastikan." sahut Leo mengerucutkan bibirnya.
"Kamu pasti belum menyatakan perasaanmu padanya, 'kan?" tanya Ryan sambil tersenyum. Namun, senyumnya nyaris tidak terlihat.
"Memang belum. Aku belum sempat. Tapi, aku tidak mencemaskan itu. Aku lebih cemas pada Dinda." jawab Leo sambil mengedikkan bahunya.
"Memangnya Dinda kenapa?" tanya Ryan sambil menatap mata Leo.
"Saat tadi aku bertemu dengannya di cafe, dia banyak diam. Dia juga terlihat sedang memikirkan sesuatu. Pandangannya terus mengarah ke bawah. Selain itu, ia juga tidak berselera makan.." jelas Leo.
__ADS_1
"Ia tidak berselera karena ia makan bersama denganmu." timpal Ryan.
"Hei. Bukan begitu!" seru Leo kesal.
"Terus?" tanya Ryan.
"Terus apa?" sahut Leo.
"Langsung ke intinya saja." jawab Ryan.
"Aku juga akan menyatakan perasaanku padanya. Sekalipun kamu sudah duluan, tapi, aku masih punya kesempatan."
"Leo, menurutmu, seberapa tampan dirimu?" tanya Ryan dengan nada serius.
"Um.." sahut Leo mulai berpikir. Ia tidak memberikan jawaban apapun.
"Aku bercanda. Dinda tidak akan melihat seberapa tampannya dirimu. Sudahlah, kalau kamu memang merasa masih punya kesempatan, silahkan saja bilang padanya. Namun, jangan datang cari aku nantinya jika kamu ditolak." kata Ryan.
"Hei. Kamu berbicara seperti itu seolah perasaanmu pasti diterima olehnya." sahut Leo kesal.
"Perasaanku diterima atau tidak, itu hak Dinda. Selama aku bisa melihatnya bahagia, itu sudah cukup." kata Ryan sambil menatap lurus ke depan. Entah apa yang ia pikirkan.
"Hah? Apa kamu masih Ryan yang aku kenal?" tanya Leo kaget.
"Kenapa?" tanya Ryan.
"Kamu bahkan tidak begitu saat dulu." jawab Leo.
"Oh." sahut Ryan.
"Baiklah. Terserah kamu saja." kata Leo sambil menghela napasnya. Ia memakan biskuit dan meminum air yang tadi sudah ia bawa.
"Pulanglah, apa kamu mau menginap disini?" tanya Ryan sambil menatap tajam pada Leo.
"Memang kenapa jika aku mau menginap disini?" tanya Leo.
"Boleh saja. Tapi, tidurlah di sini." jawab Ryan sambil menunjuk kursi yang sedang diduduki oleh Leo.
"Hei, kamu keterlaluan! Dari antara banyak kamar di rumahmu, kamu sengaja menyuruhku tidur di kursi ini di balkon?" seru Leo.
"Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu. Jika kamu mau menginap, pergilah ke kamar kedua dari kanan di lantai tiga." jawab Ryan tanpa menoleh kearah sepupunya itu.
"Apa? Aku hanya bercanda. Aku juga belum membawa pakaianku dan.." sahut Leo.
"Semua sudah ada disana." kata Ryan.
"Kalau begitu, aku pergi dulu." sahut Leo. Ia menepuk bahu Ryan lalu berlalu pergi dari sana.
"Kenapa kesini lagi?" tanya Ryan sambil menghela napas.
"Apa besok kamu akan memberiku makan pagi?" tanya Leo dengan wajah tanpa berdosanya.
"Memangnya aku seburuk itu?" tanya Ryan kesal.
"Hehe.. Maaf. Aku pergi dulu, Bye." sahut Leo yang langsung beranjak pergi dari sana.
Bersambung......
__ADS_1