Ketos Tampan Itu, Kekasihku

Ketos Tampan Itu, Kekasihku
Priscilla dan Alvaro


__ADS_3

“Makasih.” Dinda menerima helm itu lalu memakainya. Setelah itu, ia segera menaiki bangku belakang motor sport milik Ryan. Namun, kali ini ia hanya berpegangan pada pundak Ryan.


Dia kenapa? Bukannya dulu berani peluk? gumam Ryan dalam hati.


“Peluk dong, kamu gak takut jatuh?” tanya Ryan.


“Engga, aku gak takut,” sahut Dinda. Namun, ia tetap melingkarkan kedua lengannya di pinggang Ryan.


“Terus, kenapa peluk?” balas Ryan.


“Kamu yang minta,” jawab Dinda.


“Iya, peluk yang erat, ya, Sayang,” kata Ryan sambil mengusap kedua tangan Dinda yang ada di pinggangnya dengan lembut. Setelah itu, Ryan segera melajukan motornya ke rumah Dinda.


*****


Di halaman rumah Dinda


“Makasih udah anterin aku pulang,” kata Dinda setelah melepaskan helm dari kepalanya.


“Sama-sama, Sayang,” sahut Ryan.


“Kamu hari ini kenapa? Ada masalah?” tanya Ryan yang mulai khawatir dengan keadaan Dinda. Sejak tadi, Dinda menjadi lebih diam daripada biasanya.


“Hmm, tapi…” jawab Dinda ragu.


“Aku bilangnya besok aja, ya?” tanya Dinda sambil menatap wajah Ryan.


“Oke,” sahut Ryan sambil tersenyum. Lalu, ia memegang kedua pipi Dinda.


“Sekarang kamu masuk aja, udara malam hari dingin, gak bagus buat kamu,” kata Ryan yang masih memainkan kedua pipi Dinda. Menurutnya, wajah Dinda saat ini terlihat sangat lucu dan manis seperti boneka.


“Iya, kamu juga cepetan pulang,” balas Dinda sambil melepaskan tangan Ryan dari kedua pipinya.


“Aku bakal pulang setelah kamu masuk,” sahut Ryan. Ia segera mengelus kepala Dinda seperti yang Leo lakukan tadi.


“Yaudah, kalau gitu, aku masuk dulu,” kata Dinda sambil tersenyum. Ia merasakan perasaan Ryan yang tulus kepadanya.


“Hmm, sampai besok,” balas Ryan sambil melambaikan tangannya.


“Sampai besok,” sahut Dinda yang juga ikut melambaikan tangannya. Setelah itu, Dinda segera masuk ke dalam rumahnya dan Ryan segera meninggalkan halaman rumah itu.


*****


Di restoran milik keluarga Alvaro

__ADS_1


“Cilla,” panggil Alvaro saat melihat Priscilla yang akhirnya bersedia datang menemuinya. Tanpa basa-basi, Priscilla segera duduk di hadapan Alvaro lalu menanyakan inti dari topiknya, yaitu tentang pernikahan mereka.


“Varo, tanggalnya udah ditentuin, menurut kamu gimana?” tanya Priscilla sambil menatap mata Alvaro yang terlihat tenang.


“Hmm… aku setuju aja sih, kalau kamu?” jawab Alvaro.


“Bukannya tanggalnya terlalu cepet?” tanya Priscilla. Alvaro tidak merespon, tetapi dari mimik mukanya sudah jelas bahwa ia sedang kebingungan harus menjawab apa.


“KIta memang udah lama kenal, tapi bukan sebagai pasangan, ‘kan?” tanya Priscilla yang bertanya sekali lagi.


“Aku tau. Maaf, Cilla. Di masa lalu, aku yang melukai…” jawab Alvaro berusaha meminta maaf dan meluruskan kesalahannya di masa lalu.


“Varo. Tolong jangan bahas masa lalu lagi,” sela Priscilla dengan mata yang berkaca-kaca. Alvaro diam dan memberikan Priscilla waktu untuk menenangkan diri. Sampai Priscilla menjadi lebih tenang, ia mulai membuka percakapan lagi.


“Apa kamu masih belum maafin aku?” tanya Alvaro sambil memegang kedua tangan Priscilla yang terletak di atas meja.


“Aku udah maafin kamu dari dulu,” jawab Priscilla lesu.


“Aku cuma belum siap menikah. Kamu juga tau, impian aku belum semuanya terwujud,” imbuhnya.


“Aku berjanji, setelah kita menikah, aku gak akan melarang kamu buat mewujudkan mimpimu,” sahut Alvaro seraya mengencangkan genggamannya pada kedua tangan Priscilla.


“Tapi apa jadinya pernikahan kita nantinya? Keluarga kita gak akan jadi harmonis,” jawab Priscilla tanpa menatap Alvaro.


“Tapi kita gak saling mencintai,” balas Priscilla dengan nada lirih.


“Aku cinta kamu, Cilla,” kata Alvaro dengan suaranya yang serak. Priscilla bisa mendengar itu dengan jelas, tetapi ia tidak ingin langsung memercayainya begitu saja.


“Kamu gak percaya? Kamu mau aku lakuin apa buat buktiin perasaan aku ke kamu?” tanya Alvaro dengan nada serius.


“Bukan begitu, Varo. Aku… aku cuma ragu hubungan kita sebagai suami istri nantinya bisa berjalan dengan baik atau engga,” jelas Priscilla gugup. Ia menarik kedua tangannya dari genggaman Alvaro lalu menaruhnya di pangkuannya. Alvaro yang pengertian langsung berdiri lalu melangkah ke arah Priscilla. Ia segera menggengam salah satu tangan tunangannya itu kemudian mengajaknya naik ke lantai atas.


“Ada apa? Kenapa mengajakku ke sini?” tanya Priscilla saat mereka sudah sampai di balkon restoran itu.


“Lihat langit sore ini, indah, ‘kan?” sahut Alvaro sambil tersenyum menatap langit sore hari yang berwarna jingga kali ini. Priscilla pun ikut menatap langit itu sambil tersenyum.


“Iya, langitnya indah banget,” jawab Priscilla tanpa menatap Alvaro. Alvaro ikut senang saat melihat Priscilla senang. Lalu, ia mulai menghadapkan badan Priscilla ke arahnya.


“Pernikahan memang perlu cinta, tapi cinta bisa datang kapanpun, Cilla. Asalkan kamu mau membuka hatimu untuk menerimaku, aku akan berusaha semampuku untuk membuatmu mencintaiku dan membuatmu bahagia. Sisanya tergantung kamu, apa kamu mau mencoba mencintaiku?” tanya Alvaro dengan nada lembut. Priscilla berpikir beberapa saat sampai akhirnya ia kembali menatap mata Alvaro dan memberikan jawabannya.


“Aku mau,” jawab Priscilla akhirnya.


“Makasih, Cilla,” kata Alvaro. Ia mencium kening tunangannya itu lalu memeluk Priscilla dengan erat.


*****

__ADS_1


Di dalam kamar Priscilla


“Ryan,” panggil Priscilla dengan antusias.


“Hmm? Kenapa memanggilku ke sini, Ci?” tanya Ryan.


“Apa ciri-ciri seorang pria yang serius dengan perkataannya?” sahut Priscilla yang langsung menanyakan pertanyaannya.


“Ehem, apa Ko Varo bilang akan membuat Cici bahagia?” tanya Ryan sambil tersenyum lalu menggeleng pelan.


“Darimana kamu tau?” balas Priscilla kaget.


“Apa Cici khawatir Ko Varo cuma berpura-pura?” tanya Ryan. Priscilla hanya mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Ryan tadi.


“Saat Cici menatap matanya, apa menurut Cici, Ko Varo serius?” imbuhnya.


“Iya, tapi…” jawab Priscilla yang tidak dapat melanjutkan kalimatnya lagi.


“Ci? Cici kenapa?” tanya Ryan saat melihat ekspresi aneh kakaknya yang sedang khawatir sekaligus bahagia kali ini.


“Menurut kamu?” sahut Priscilla yang balik bertanya.


“Mana aku tau?” sahut Ryan sambil mengangkat kedua bahunya.


“Tadi, ada kejadian apa?” tanya Ryan sambil tersenyum.


“Itu… Gak ada apa-apa!” seru Priscilla mengelak.


“Cici gak perlu kasih tau kalau gak mau, tapi bohong itu gak baik,” kata Ryan sambil menaikkan alisnya.


“Kamu udah dewasa, ya!” teriak Priscilla sambil mengacak-acak rambut adiknya itu.


“By the way, kamu sama Dinda gimana?” tanya Priscilla penasaran.


“Apanya?” sahut Ryan yang berpura-pura tidak tahu apa-apa.


“Hubungan kalian udah sampai tahap mana?” balas Priscilla sambil menepuk pundak Ryan.


“Itu…” Ryan terdiam sejenak. Ia bingung harus menjawab apa. Namun, untungnya, smartphone milik kakaknya berbunyi. Priscilla segera mengambil smartphone-nya yang ia letakkan di atas meja.


“Udah angkat aja dulu, Kakak ipar pasti udah kangen,” kata Ryan sambil tertawa.


“Apaan sih kamu? Udah sana keluar,” usir Priscilla. Ryan segera keluar dari kamar itu dan melangkah masuk ke dalam kamarnya.


Bersambung……

__ADS_1


__ADS_2