
“Pelukkin kamu, boleh gak?” sahut Ryan sambil membuka kedua lengannya ke depan untuk bersiap memeluk Dinda.
Yaudahlah ya, yang penting sekarang dia gak sebel lagi, gumam Dinda dalam hati.
Dinda pun melangkah maju mendekati Ryan dan memeluk punggungnya. Setelah itu, Ryan balas memeluk punggung Dinda dan meletakkan tangan satunya lagi di puncak kepala Dinda sambil mengelus lembut rambut kekasihnya itu. Dinda cukup kaget dengan cara Ryan memeluknya, tapi ia tidak mempermasalahkan hal itu.
“5 menit lagi, Sayang,” gumam Ryan saat Dinda hampir melepaskan pelukan mereka. Dinda hanya bisa pasrah dengan permintaan Ryan.
“Makasih,” kata Ryan saat ia akhirnya melepaskan pelukan di antaranya dan Dinda. Dinda mengangguk pelan lalu mereka berpisah di depan lobi sekolah karena sudah harus pulang.
*****
Di dalam mobil Ryan
Semenjak Ryan masuk ke dalam mobil sampai saat ini mereka sedang berada di jalanan, Ryan terus menerus tersenyum. Seolah seperti baru saja mengalami sesuatu yang ajaib. Walaupun itu hanya sekedar memeluk kekasihnya selama 8 menit, tetapi baginya itu sudah seperti dunia hanya milik dirinya dan Dinda. Herman yang mengemudi pun cukup terkejut dengan ekspresi Tuan Mudanya hari ini yang sangat berbeda dari hari-hari biasanya.
“Tuan Muda,” panggil Herman.
“Kenapa?” tanya Ryan masih sambil menatap layar ponselnya untuk menunggu chat dari Dinda. Saking senangnya, ia sampai tidak mempedulikan panggilan ‘Tuan Muda’ yang biasanya ia benci mendengarkannya.
“Apa Anda punya kabar baik?” tanya Herman sambil mengerutkan dahinya karena terlalu penasaran dengan apa yang terjadi hari ini sampai Tuan Muda dingin itu bisa tersenyum tanpa henti.
“Kabar baik?” tanya Ryan sambil mengangkat kedua alisnya. Sebenarnya, Ryan ingin memberitahukan kejadian tadi kepada Pak Herman, tapi ia tidak begitu percaya pada Pak Herman mengingat Papanya menentang hubungannya dengan Dinda.
“Kenapa bertanya, Pak?” Ryan balik bertanya.
“Tidak ada apa-apa, Tuan Muda,” jawab Herman yang tetap berusaha untuk terlihat santai.
“Tuan Muda,” panggil Herman setelah beberapa saat ia terdiam.
__ADS_1
“Hmm?” sahut Ryan tanpa menatap ke arah Herman.
“Tanggal pernikahan Nona Muda dan Tuan Alvaro sudah ditentukan,” jawab Herman.
“Oh, ya? Kapan?” tanya Ryan yang raut wajahnya mulai berubah karena belum mendapat chat dari Dinda.
“27 Juli, Tuan Muda,” jawab Herman dengan sopan.
“Oke, antar aku ke Rumah Ko Alvaro sekarang,” sahut Ryan yang akhirnya menyimpan ponselnya di saku celananya.
“Baik, Tuan Muda,” kata Herman.
*****
Di Rumah Alvaro
Alvaro Bramasta merupakan sosok orang yang sangat misterius. Ia memiliki paras yang tampan dan juga tubuh yang atletis. Kekurangannya hanya satu, yaitu dia tidak mau terbuka tentang apa pun apalagi soal perasaannya sendiri. Oleh karena itu, hubungannya dengan Priscilla ibaratnya seperti orang yang berjalan di tempat saja.
“Aku cuma mau mengobrol aja, Ko,” jawab Ryan santai.
“Silakan,” sahut Alvaro sambil mengambil duduk di sofa seberang Ryan.
“Apa Koko udah tau tanggal pernikahan Koko sama Cici aku?” tanya Ryan.
“Iya, aku tau,” jawab Alvaro sambil mengangguk.
“Sebenarnya, boleh aku tanya kenapa Koko mau bertunangan dengan Cici aku sekalipun Koko tidak mencintainya sejak awal?” tanya Ryan yang langsung menuju ke intinya.
“Awalnya, aku dikhianati oleh mantan pacarku. Di saat-saat tersulitku pada waktu itu, Cicimu, yang seharusnya adalah temanku berada disampingku untuk menghiburku,” jawab Alvaro dengan jujur sambil menghela napasnya untuk menceritakannya dengan lebih detail tentang hubungannya dengan Priscilla.
__ADS_1
“Aku berpikir Cilla mungkin menyukaiku, tapi ternyata aku salah. Akulah yang menyukainya. Jadi, aku menyetujui permintaan Papa untuk bertunangan dengannya supaya aku bisa membalas perbuatan yang dilakukan mantan pacarku dulu. Suatu hari, Cilla tau bahwa selama ini aku cuma memanfaatkannya. Dia tidak ingin menemuiku selama 2 bulan. Selama itu, aku merenung dan menyadari semuanya, termasuk perasaanku padanya. Tapi, saat aku menyadari perasaanku yang sebenarnya, mungkin sudah terlambat untuk memperbaiki hubunganku dengannya seperti dulu lagi. Mengingatnya saat ini membuatku merasa semakin bersalah padanya,” jelasnya sambil membuang napasnya dengan kasar.
“Kenapa terlambat?” balas Ryan.
“Cilla tidak pernah mau mendengarkan penjelasanku,” sahut Alvaro sambil mengacak-acak rambutnya. Baru kali ini, Ryan melihat Alvaro yang frustasi dan mau terbuka kepada orang lain.
“Terus sekarang? Kalau kalian menikah, tapi tidak ada komunikasi yang baik, apa Koko yakin pernikahan ini masih akan berjalan dengan baik?” tanya Ryan lagi.
“Intinya, kalau aku sudah menikahinya, aku akan memulai awal yang baru dengannya. Kamu tenang saja, aku akan mendapatkan hatinya kali ini,” kata Alvaro dengan tegas. Ryan tahu kalau kali ini Alvaro benar-benar serius akan ucapannya.
”Kenapa Koko seyakin itu?” tanya Ryan sambil mengerutkan dahinya
“Aku sudah punya pengalaman, Bro,” jawab Alvaro dengan santainya.
“Hahaha, oke, aku bakal percaya pada Koko kali ini,” kata Ryan sambil tertawa untuk mencairkan suasana.
“Tapi, Koko yakin kalau Koko benar-benar mencintai Ciciku?” imbuhnya.
“Tentu saja,” jawab Alvaro dengan wajah seriusnya.
“Oke, aku akan membantu Koko bicara pada Ciciku,” sahut Ryan sambil bangkit berdiri dan menepuk pundak Alvaro. Sebenarnya, mereka cukup akrab sekalipun usia mereka beda jauh.
“Beneran nih? Terima kasih, Ryan,” kata Alvaro sambil tersenyum.
“Ngomong-ngomong, apa kamu sekarang mencintai seseorang? Kamu mungkin tidak mengerti kalimatku tadi kalau kamu belum mencintai seseorang. Tapi kamu akan segera menemukan pasanganmu. Jadi, ingat baik-baik kalimatku,” lanjut Alvaro.
“Aku udah punya pacar,” balas Ryan yang langsung membuat Alvaro berpindah duduk menjadi di sebelahnya.
“Siapa dia? Kamu belum putus dengan si Alexa itu?” sahut Alvaro dengan antusias.
__ADS_1
“Bukan dia, tapi gadis yang lebih baik dan cantik darinya,” jawab Ryan sambil menatap ke arah Alvaro lalu tersenyum lebar.
Bersambung……