
Dinda baru saja naik ke atas kasurnya untuk tidur, tapi ia melihat mobil Papanya yang melintas masuk ke dalam pagar di depan rumahnya. Dinda pun penasaran dan langsung turun ke lantai bawah menggunakan lift untuk memastikan kepulangan Papanya. Sementara itu, Satrio masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke dapur karena ia sudah sangat haus. Ia menuang air putih ke dalam sebuah gelas kaca yang mewah dan meminum air putih itu. Kemudian, Satrio hendak pergi ke ruang kerjanya, tapi Dinda mencegahnya.
“Papa kalo udah pulang kenapa diem aja sih?” tanya Dinda dengan wajahnya yang cemberut.
“Dinda, ini udah malem. Kamu gak mau tidur?” tanya Satrio bingung. Biasanya, Dinda harusnya sudah tidur di jam segini.
“Aku mau bilang sesuatu sama Papa,” kata Dinda. Satrio pun mengajak Dinda untuk duduk di sofa ruang tamu dan Dinda duduk di sebelah kanannya.
“Ada apa, Sayang?” tanya Satrio sambil mengelus rambut Dinda dengan tangan kanannya.
“Pa, aku udah punya pacar,” kata Dinda berterus terang. Satrio tidak langsung menjawab walaupun ia cukup terkejut dengan perkataan Dinda barusan.
“Sejak kapan?” tanya Satrio setelah beberapa menit ia dan Dinda tidak berbicara.
“Tahun lalu,” jawab Dinda.
“Terus kenapa? Kamu mau minta Papa restuin kamu sama dia?” tanya Satrio sambil menatap ke arah Dinda.
“Iya, Pa. Aku ‘kan udah pacaran sama dia dari tahun lalu, tapi Papa gak pernah pulang ke rumah. Aku gak enak kalau ceritain tentang dia lewat telepon,” sahut Dinda.
“Maaf, ya, Sayang. Sekarang Papa udah pulang, kamu bisa ceritain semuanya sama Papa,” kata Satrio sambil tersenyum untuk membuat Dinda merasa nyaman bercerita dengannya.
__ADS_1
“Jadi, aku punya pacar namanya Ryan Jonathan. Dia itu murid terpinter di sekolah. Kita awalnya ketemu pas karya wisata. Aku sama dia udah pacaran satu tahun. Tapi, Papanya dia gak setuju sama hubungan kita karena Papanya pernah konflik sama Papa dulu. Aku cuma bisa pacaran sama Ryan kalau Papa sama Papanya mau damai. Aku boleh minta tolong gak ke Papa buat ketemu sama Papanya Ryan dan selesaiin konfliknya baik-baik?” tanya Dinda sembari menyatukan kedua tangannya di depan dada untuk mengambil simpati dari Papanya itu.
“Oke, Papa akan mencoba berdamai sama Jonathan. Tapi kamu harus jawab pertanyaan Papa. Kenapa kamu harus pacaran sama Ryan?” tanya Satrio penasaran.
“Karena… Cuma dia laki-laki yang aku suka, Pa. Aku gak pernah mikirin alesannya kenapa aku bisa suka sama dia, tapi yang aku tau dia itu orang yang aku suka dan aku mau supaya aku bisa tetep berhubungan sama dia dengan restu dari Papa sama orang tuanya,” jawab Dinda jujur.
“Oke. Coba sekarang kamu tutup mata kamu dan bayangin hidup kamu lima tahun ke depan,” kata Satrio. Dinda pun mulai menutup kedua matanya dan membayangkan kehidupannya selama lima tahun ke depan. Ia melihat dirinya yang sedang melempar topi bersama teman-temannya saat wisuda di kampus, ia melihat kalau ia akan bekerja di sebuah perusahaan yang besar, dan terakhir ia melihat dirinya menikah dengan seseorang yang sangat tulus mencintainya.
“Kamu bayangin apa aja di dalam imajinasi kamu itu?” tanya Satrio setelah Dinda membuka kedua matanya.
“Aku udah lulus kuliah, bekerja, dan… menikah,” jawab Dinda.
“Siapa pasangan yang kamu lihat di pikiran kamu itu?” tanya Satrio sambil menatap kedua mata anak bungsunya itu.
“Kenapa kamu bisa yakin kalau itu Ryan?” balas Satrio.
“Karena itu semua cuma bayangan yang ada di pikiran aku sekarang, tapi sekarang aku belum tau masa depan aku bakal kayak gimana. Aku cuma tau yang aku bayangin sekarang itu harapan aku buat hidup aku lima tahun lagi,” jawab Dinda.
“Dinda, kamu udah cinta sama dia,” kata Satrio.
“Hah?” sahut Dinda bingung.
__ADS_1
“Rasa cinta kamu ke Ryan mungkin lebih besar daripada rasa cinta kamu ke Papa lima tahun lagi,” jawab Satrio datar.
“Papa ngomong apa sih? Aku tuh lebih sayang sama Papa daripada sama Ryan,” protes Dinda.
“Iya, Papa tau. Papa tadi cuma bercanda kok,” kata Satrio sambil tersenyum.
“Dinda, Papa mau tanya sama kamu sekali lagi,” imbuh Satrio.
“Kenapa, Pa?” tanya Dinda.
“Kalau suatu saat nanti Ryan selingkuh dari kamu, apa yang akan kamu lakuin?” sahut Satrio.
“Kalau dia selingkuh dari aku karena dia mau sama cewe yang lain, aku bakal lupain dia secepet mungkin,” jawab Dinda tanpa ragu-ragu.
“Anak gadis Papa udah dewasa sekarang,” kata Satrio sambil tersenyum.
“Dinda, tolong kamu bilangin ke Ryan kalau Papa bakal ketemu sama Papanya minggu ini pas hari Minggu sore jam lima di lapangan golf yang dulu,” imbuh Satrio.
“Oke, Pa. Makasih, Pa,” kata Dinda sambil memeluk Papanya.
“Sama-sama, Dinda,” sahut Satrio sembari membalas pelukan dari anak kesayangannya itu.
__ADS_1
Bersambung……