Ketos Tampan Itu, Kekasihku

Ketos Tampan Itu, Kekasihku
Kebersamaan di Mal


__ADS_3

“Maaf, aku belum terbiasa,” lanjutnya.


“Gapapa,” kata Ryan sambil mengelus kepala Dinda dengan tangan kirinya.


“Kita ke mall aja?” tanya Ryan.


“Oke,” jawab Dinda.


********


Di mall


“Mau belanja? Atau main? Atau makan?” tanya Ryan sambil menggandeng tangan Dinda.


“KIta kelilingin mallnya aja, ya,”sahut Dinda.


“Kamu gak mau beli apa-apa?” tanya Ryan yang cukup terkejut. Biasanya, wanita selalu suka belanja. Apalagi saat dirinya dulu masih berkencan dengan Alexa, setiap kali mereka ke mall pasti Alexa akan menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk berbelanja. Dan ia pasti harus menemani dan membelikan apapun yang Alexa inginkan.


“Hmm… aku mau aja asal sama kamu,” kata Dinda sengaja mengetes Ryan. Apa Ryan juga bisa menjadi romantis seperti laki-laki pada umumnya?


“Ya iyalah sama aku sayang, memang aku bisa pergi ke mana lagi? Yaudah, ayo kita belanja dulu!” ajak Ryan.


Hah? Dia ngomong apa? Dia bisa romantis juga ternyata. Oke, Din. Muka kamu gak boleh sampe merah. Pura-pura gak tau aja kalau dia ngomong gitu, kata Dinda dalam hati.


“Mau belanja apa?” tanya Ryan.


“Hmm, kita ke toko itu aja. Nanti baru aku pilih mau beli apa di sana,” jawab Dinda.


“Oke,” kata Ryan. Mereka pun masuk ke dalam sebuah toko aksesoris yang ada di hadapan mereka saat ini.


********


Di dalam toko aksesoris


“Aaaaa yang ini lucu banget!” teriak Dinda sambil memegang gantungan kunci bermotif bunga.


“Kamu mau itu?” tanya Ryan. Dinda mengangguk sambil tersenyum manis.


“Yang ini juga lucu!” seru Dinda saat melihat gantungan kunci bermotif hati yang ada di hadapannya saat ini.


“Iya, sama kayak kamu,” sahut Ryan sambil menatap wajah Dinda yang sangat manis saat ini.


“By the way, ini ada warna pink sama biru. Kayaknya ini bisa buat couple. Kamu mau pake gak?” tanya Dinda sambil menyodorkan yang berwarna biru ke arah Ryan.

__ADS_1


“Oke, aku bakal pake itu,” jawab Ryan.


“Kamu beneran mau pake?” tanya Dinda.


“Apa sih yang enggak buat kamu sayang?” goda Ryan sambil mengangkat kedua alisnya. Dinda benar-benar sudah tidak bisa berkata-kata lagi.


“Aku bayar dulu, ya. Kamu tunggu aja di sini,” kata Ryan sambil mengelus kepala pacarnya itu.


“Jangan! Biar aku aja yang bayar sayang,” tolak Dinda dengan tegas.


“Udah gapapa, biar aku aja yang bayar. Sini, kasih aku barangnya,” kata Ryan sambil memberikan kedua tangannya untuk memegang barang-barang yang akan dibeli. Dinda mau tidak mau menyerahkan semua barang yang ada di kedua tangannya kepada Ryan untuk dibayar. Ryan pun segera mengantre di kasir untuk membayarnya. Ryan pun kembali dengan sebuah kantong belanja di tangannya beserta barang-barang yang sudah dibeli dari toko aksesoris itu.


“Makasih. Maaf aku jadi repotin kamu sayang,” kata Dinda.


“Enggak kok, kamu masih mau belanja lagi?” tanya Ryan.


“Gak, gak usah. Aku gak mau belanja kalau pake uang kamu,” jawab Dinda.


“Gapapa, kamu harus tau kalau ke depannya aku yang akan terus bayarin. Jadi, biasain diri kamu, oke?” tanya Ryan.


“Tapi, aku gak enak sama kamu… aku ganti uang kamu yang tadi, ya?” sahut Dinda memelas.


“Hmm… kalau kamu merasa gak enak, jangan ganti pake uang,” jawab Ryan.


“Pake hati kamu aja,” kata Ryan.


“Hati aku?” sahut Dinda yang tampak kebingungan.


“Iya, hati kamu itu cuma boleh buat aku,” jawab Ryan. Dinda tidak bisa mengendalikan ekspresinya dan menahan senyumnya di saat seperti ini, sehingga ia mengalihkan pandangannya ke arah lain supaya Ryan tidak melihat dirinya yang saat ini sedang salah tingkah.


Walaupun gitu, dia gak seharusnya ngomong itu sekarang, ‘kan? batin Dinda.


“Mau makan sekarang?” tanya Ryan.


“Oke,” jawab Dinda.


“Kamu mau makan di mana?” sahut Ryan.


“Hmm… kita makan di food court aja di sana,” kata Dinda.


“Food court?” tanya Ryan sambil mengerutkan dahinya.


Dinda itu anak orang kaya, kenapa dia mau makan di food court? Apa karena dia gak enak kalau aku yang bayarin? Ryan mulai tenggelam dalam pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa ia jawab.

__ADS_1


“Iya. Ayo!” ajak Dinda.


“Oke. Ayo!” seru Ryan.


“Aku lagi mau makan bakmi, kalau kamu?” tanya Dinda.


“Aku juga,” jawab Ryan sambil tersenyum kecut. Sebenarnya, dirinya sudah tidak pernah makan bakmi lagi semenjak ibunya pergi dari rumah saat usianya masih enam tahun.


“Kamu mau yang mana? Aku yang ini,” sahut Dinda sambil menunjuk ke arah menu yang tersedia di meja kasir.


“Samain aja,” jawab Ryan.


“Pak, pesen bakmi spesialnya dua, ya,” kata Dinda kepada sang kasir.


“Baik, Kak. Mohon ditunggu, ya,” sahut kasir itu.


“Gimana rasanya? Enak?” tanya Dinda saat Ryan hanya menyantap bakminya sedikit.


“Iya,” jawab Ryan sambil mengangguk.


Bagaimanapun juga, aku harus menghabiskannya, kata Ryan dalam hati.


“Abis ini kita mau main?” tanya Ryan.


“Main apa?” sahut Dinda balik bertanya.


“Hmm… kalau ice skating di sebelah sana?” tanya Ryan sambil menunjuk ke arah ice skating rinks yang terletak di lantai di bawah mereka.


“Tapi…” kata Dinda ragu.


“Kenapa?” tanya Ryan.


“Aku gak bisa main itu,” jawab Dinda sambil menunduk.


“Aku agak payah, ‘kan?” imbuhnya.


“Kenapa kamu bilang gitu? Di dunia ini, gak ada yang bisa kita lakukan tanpa usaha. Gapapa, nanti aku ajarin kamu, oke?” tanya Ryan sambil tersenyum. Dinda hanya mengangguk pertanda ia setuju. Mereka pun menuju ke ice skating rinks dan Ryan yang membayar tiket masuk supaya mereka bisa bermain. Mereka berdua mengambil sepatu untuk ice skating.


“Kamu duduk aja, biar aku yang pakein sepatunya,” kata Ryan. Dinda menurut saja dan langsung duduk di kursi yang tersedia di situ. Ryan mulai memakaikannya ke kaki Dinda dan ia mengikat tali sepatunya. Melihat perlakuan Ryan yang selembut ini padanya, Dinda merasa menyesal karena dulu ia pernah salah paham pada Ryan.


Diliat dari deket sih dia memang lumayan tampan, tidak, dia sangat tampan. Dia juga tidak dingin dan sangat lembut. Kenapa aku baru sadar sekarang? tanya Dinda pada dirinya sendiri.


“Udah selesai. Ayo kita masuk ke dalam!” ajak Ryan. Dinda mengangguk dan mengikuti Ryan masuk ke ice skating rinks.

__ADS_1


Bersambung……


__ADS_2