
"Ryan, tadi kamu pergi kemana?" tanya Leo setelah melihat penampilan sepupunya yang terlihat lesu itu.
"Hei, Ryan." panggil Leo. Namun, Ryan tidak juga menyahut panggilannya.
"RYAN!!" teriak Leo.
"APA KAMU MENGANGGAP AKU HANTU?" tanya Leo dengan nada tinggi karena kesal.
"Tidak." jawab Ryan sambil menghela napas.
"Lalu, kenapa kamu diam saja seperti orang bisu?" tanya Leo menghampiri Ryan.
"Ada apa, sobat?" tanya Leo sambil menepuk pundak Ryan.
"Tidak ada." sahut Ryan.
"Huh.. Mendengarmu bicara tidak ada maka aku akan menganggap kamu menemui Dinda dan ia menolakmu." kata Leo sambil mengedikkan bahunya.
"Kalau sudah tau, untuk apa masih bertanya?" tanya Ryan kesal.
"Jadi, itu benar? Haha, kupikir kamu tidak akan pernah ditolak oleh wanita. Dinda benar-benar hebat." timpal Leo.
"Hei, sudahlah, cari yang lain saja." tambah Leo.
"Memangnya aku pernah mencari wanita di hidupku? Bagus juga kalau dia menolakku. Keadaan keluargaku sangat berantakan. Jadi, aku bisa selalu sendirian seperti ini." seru Ryan. Ia mengambil bola basketnya lalu pergi ke lapangan basket di lantai bawah. Leo pun mengikutinya turun ke lantai bawah.
"Hei, berhentilah berpura-pura." seru Leo. Namun, Ryan sama sekali tidak memedulikan perkataan Leo.
"Ryan! Apa kamu sudah gila?" teriak Leo saat melihat Ryan bermain basket seperti orang yang kerasukan.
"Apa anak ini sudah gila? Ring basketnya bisa rusak kalau dia bermain dengan brutal seperti itu dan dia bisa terluka." kata Leo yang mencemaskan segala situasi yang terjadi sekarang.
"Hei! Ryan, hati-hati!" teriak Leo sambil berlari ke arah Ryan saat melihat situasinya semakin parah. Benar saja, Ryan jatuh dan melukai lengannya.
"Ada apa denganmu?" tanya Leo saat melihat luka di tangan Ryan.
"Tunggu sebentar disini." kata Leo yang langsung berlari pergi ke lantai 2 untuk menanyakan dimana kotak P3K. Setelah menemukannya, Leo segera membawanya ke lapangan untuk mengobati Ryan.
"Luruskan lenganmu." kata Leo. Setelah Ryan meluruskan lengannya, Leo mengobati dan membalut luka itu.
__ADS_1
"Kamu seperti ibu-ibu." sahut Ryan sambil menatap mata Leo.
"Dan kamu seperti anak kecil yang putus cinta!" seru Leo kesal.
"Aku tidak putus cinta." kata Ryan.
"Terserah." timpal Leo sambil terus fokus mengobati luka Ryan.
"Istirahatlah. Kamu jangan gila. Ci Cilla bisa marah jika tahu kamu begini." kata Leo setelah selesai mengobati luka Ryan.
"Terima kasih." kata Ryan.
"Kamu takut padanya?" tanya Ryan sambil tertawa.
"Dia akan memarahimu bukan aku!" teriak Leo kesal. Namun, Ryan malah berjalan begitu saja ke kamarnya.
"Benar-benar menyebalkan." desah Leo sambil menggelengkan kepalanya.
...****************...
"Hei." panggil Leo.
"Kamu.. baik-baik saja?" tanya Leo.
"Memangnya aku bisa kenapa?" tanya Ryan yang balik bertanya.
"Tidak, tapi.." kata Leo.
"Sudahlah. Tidak usah dibahas." sahut Ryan.
"Aku juga tidak ingin membahasnya." kata Leo.
"Bukankah kamu masih ingin menyatakan perasaanmu?" tanya Ryan.
"Itu benar, tapi.." sahut Leo. Ia tidak bisa berkata-kata lagi.
"Ya, tentu. Kamu akan menunggu waktu yang tepat sampai dia bisa menerimamu." timpal Ryan.
"Tidak. Waktu yang tepat tidak menjamin segalanya." kata Leo sambil menatap ke arah depan. Tatapannya terlihat kosong.
__ADS_1
"Aku ingin menanyakan sesuatu." kata Leo sambil menatap mata Ryan.
"Apa?" tanya Ryan.
"Apa.. Apa yang akan kamu lakukan jika Dinda sebenarnya menyukaimu?" tanya Leo gagap.
"Ya.. jika dia memang menyukaiku, tapi, dia tidak yakin pada perasaannya maka aku akan meyakinkannya." jawab Ryan.
"Tapi, jika kalian tidak bisa bersama?" tanya Leo.
"Kenapa tidak?" tanya Ryan yang mulai curiga pada Leo.
"Karena.. Pada akhirnya keadaan akan sulit untuk kalian berdua." jawab Leo.
"Jika itu kamu, apa kamu akan menyerah?" tanya Ryan sambil menghela napas dalam.
"Tentu tidak." jawab Leo.
"Kenapa?" tanya Ryan.
"Karena aku menyukainya." kata Leo tegas.
"Bagiku juga seperti itu." sahut Ryan.
"Hei, Leo." panggil Ryan.
"Apa?" tanya Leo.
"Kalau dia menerimamu, maka kamu harus membahagiakannya, mengerti?" tanya Ryan dengan tatapan serius.
"Iya, aku mengerti. Tapi, aku sungguh tidak menyangka kamu akan berbicara seperti itu. Apa kamu benar-benar sudah menyerah pada perasaanmu?" sahut Leo.
"Akan kucoba." jawab Ryan.
"Baiklah. Aku pergi ke kamarku dulu." kata Leo sambil menepuk pundak Ryan.
Apa kamu benar-benar sudah menyerah pada perasaanmu? pertanyaan Leo kembali terngiang di kepala Ryan saat ini.
"Entahlah." kata Ryan sambil menghembuskan napas kasar.
__ADS_1
Bersambung......