
“Hei, Jo. Udah lama kita gak ketemu. Gimana kabar lu?” tanya Satrio. Jonathan segera mendudukkan dirinya di kursi yang ada di samping Satrio.
“Baik, lu gimana?” sahut Jonathan datar.
“Kabar gua juga baik,” jawab Satrio sambil tersenyum. Kemudian, ia bangkit berdiri lalu mengeluarkan stik golfnya dan mulai mengambil bola golf.
“Sepuluh ronde,” kata Satrio sambil menatap ke arah Jonathan.
“Ayo! Siapa takut?” sahut Jonathan yang langsung berdiri di belakang Satrio untuk menunggu gilirannya.
“Gua mulai dulu, ya,” kata Satrio. Ia mulai memukul bola golfnya sampai masuk ke dalam lubang. Mereka terus bermain secara bergantian sampai akhirnya Satrio memenangkan ronde tersebut dengan skor 72. Mereka berdua pun kembali ke tempat duduk mereka yang tadi.
“Lu masih hebat juga main golf sampai sekarang,” puji Jonathan.
“Makasih, Jo. Memang lu udah gak main golf lagi?” tanya Satrio penasaran.
“Masih, tapi jarang,” jawab Jonathan datar.
“Jo, kenapa hari ini lu mau dateng ke sini?” tanya Satrio. Ia sebenarnya suudah tau jawabannya, tapi ia ingin menguji kejujuran Jonathan.
“Gua lagi kebetulan lewat sekitar daerah sini aja, jadi sekalian mampir,” jawab Jonathan asal.
“Pasti karena Nadia, ‘kan?” tanya Satrio memastikan. Jonathan terdiam cukup lama sebelum ia kembali menjawab pertanyaan Satrio.
“Ya,” jawab Jonathan.
“Lu udah ketemu dia lagi?” tanya Satrio.
“Udah,” balas Jonathan sambil mengangguk.
“Jadi kalian mau rujuk?” sahut Satrio penasaran.
“Nadia gak minta rujuk,” kata Jonathan dengan jujur.
“Tapi di dalem hati lu, lu mau ‘kan rujuk sama dia?” tanya Satrio.
“Sekarang rujuk atau engga udah gak penting. Anak-anak udah dewasa. Mereka udah gak gitu butuh sosok Mama di dalam hidup mereka,” jawab Jonathan dengan santainya..
“Oke. Kita bahasin anak-anak aja. Lu bilang mereka udah dewasa. Lu gak bakal izinin Ryan pacaran sama anak gua?” sahut Satrio yang langsung ke inti pembicaraannya.
“Ya,” jawab Jonathan sambil mengangguk.
__ADS_1
“Kenapa? Memang anak gua pernah nyinggung lu?” tanya Satrio bingung.
“Gak pernah,” balas Jonathan.
”Jadi, kenapa lu menentang hubungan mereka berdua?” sahut Satrio.
“Gapapa, gua cuma gak setuju aja. Mereka udah mau ujian, jadi lebih baik mereka gak pacaran dulu,” jawab Jonathan sambil mengangkat kedua alisnya.
“Jo, lu jangan lupa kalau apa yang keluar dari mulut lu itu sering bertentangan sama kata hati lu,” kata Satrio mengingatkan.
“Maksud lu apa?” balas Jonathan pura-pura tidak tau.
“Lu gak restuin mereka karena lu masih khawatir kalau gua bakal nusuk lu pelan-pelan dari belakang,” jawab Satrio sambil menatap tajam kedua mata Jonathan.
“Gua gak mau, Jo,” imbuh Satrio.
“Hah?” tanya Jonathan yang langsung kebingungan.
“Gua gak mau lu salah paham. Dari awal, lu anggep konflik kita di masa lalu belum selesai dan gua bakal bales dendam. Gua udah lupain semuanya dan gua gak akan bales dendam, apalagi melalui Ryan,” jelas Satrio dengan nada tegas.
“Kenapa lu gak akan bales dendam?” sahut Jonathan penasaran.
“Karena Ryan gak salah,” jawab Satrio.
“Kenapa lu tiba-tiba ngomong kayak gini?” tanya Jonathan terkejut.
“Gua udah salah sama Cindy, jadi gua gak mau itu terulang ke Dinda. Dulu gua selalu larang Cindy pacaran. Sekarang dia benci sama gua karena dia susah ketemu cowo yang mau serius sama dia di umurnya yang sekarang. Dinda itu perempuan sama kayak Cindy. Gua gak mau larang dia pacaran karena gua mau dia bisa bahagia sama pasangan yang dia pilih sendiri,” balas Satrio.
“Cindy benci sama lu?” sahut Jonathan tidak percaya.
“Ya, dia masih gak mau ketemu sama gua sampai hari ini,” jawab Satrio sambil mengangguk.
“Gimana Priscilla? Gua denger dia udah nikah. Dia bahagia sama pasangannya?” imbuh Satrio.
“Ya, harusnya dia bahagia,” balas Jonathan sambil menatap kosong ke arah lapangan golf.
“Lu harus tanya soal perasaan dia, Jo,” kata Satrio memberi saran.
“Iya, nanti gua tanyain,” sahut Jonathan sambil mengangguk.
“Coba lu pikirin baik-baik, Jo. Kita damai hari ini dan kita restuin anak kita pacaran atau kita tetep konflik dan lu gak mau anak kita bahagia? Kalau lu udah dapet jawabannya, bilang ke gua, ya. Gua mau beli minuman dulu di depan sana,” kata Satrio sambil menepuk pundak Jonathan. Setelah itu, ia bangkit berdiri lalu berjalan pergi untuk membeli air putih.
__ADS_1
“Gimana, Jo? Udah dapet jawabannya?” tanya Satrio sambil menyodorkan salah satu botol air putih ke arah Jonathan. Jonathan mengambil botol itu lalu membuka tutupnya dan meneguk air putih di dalam botol itu.
“Mungkin lu ada benernya,” kata Jonathan.
“Soal apa?” tanya Satrio.
”Gua inget momen paling bahagia dalam hidup gua itu waktu gua masih pacaran sama Nadia,” kata Jonathan sambil tersenyum.
“Liat ‘kan, Jo? Walaupun lu kaya, kebahagiaan lu gak diukur dari kekayaan lu,” sahut Satrio yang ikut tersenyum.
“Iya, lu bener,” balas Jonathan.
“Gua mau damai,” imbuh Jonathan.
“Lu yakin?” tanya Satrio memastikan.
“Bagi Ryan, Dinda lebih penting daripada semua fasilitas yang udah gua kasih ke dia. Jadi sekalipun gua gak restuin hubungannya sama Dinda, dia juga gak bakal nyerah sama perasaannya,” jawab Jonathan. Kemudian, ia kembali meneguk air putih yang diberikan oleh Satrio tadi.
”Bagus, Jo. Lu udah sadar sekarang. Mulai hari ini, kita udah damai. Tinggal lu aja mau restuin hubungan mereka atau gak,” balas Satrio.
“Gua restuin aja, lu gimana?” tanya Jonathan.
“Gua juga restuin mereka,” jawab Satrio.
“Gak kerasa udah 2 jam kita di sini,” kata Jonathan sambil melihat waktu di jam tangannya.
“Lu udah mau balik ke rumah?” tanya Satrio.
“Iya,” jawab Jonathan sambil mengangguk.
“Oke, bye,” kata Satrio.
“Bye,” sahut Jonathan. Satrio dan Jonathan pun pergi ke parkiran. Namun, saat Satrio hendak masuk ke dalam mobilnya, Jonathan memanggilnya.
“Rio,” seru Jonathan.
“Ya?” sahut Satrio.
”Makasih buat semuanya,” kata Jonathan sambil tersenyum.
“Sama-sama,” balas Satrio.
__ADS_1
Bersambung……