
"Kamu bahkan tidak mau tahu apa tujuanku?" tanya Leo saat Ryan mengabaikannya. Ryan terus menaiki tangga itu untuk menuju ke kamarnya. Ia lalu memasuki kamarnya dan membuka pintu kaca untuk bisa bicara di balkon kamarnya.
"Apa?" tanya Ryan saat dirinya dan Leo sudah berada di balkon.
"Hah?" sahut Leo bingung.
"Tujuanmu? Bukannya kamu datang untuk itu?" tanya Ryan mengulanginya lagi.
"Oh, ngomong yang jelas dong!" seru Leo kesal karena Ryan selalu pelit bicara seperti biasanya. Ryan hanya bisa menghela napasnya dan mengulangi pertanyaannya sekali lagi.
"Apa tujuanmu, Leo?" tanya Ryan tanpa menoleh ke arah Leo yang masih kesal dengannya.
"Kamu... yakin sudah siap menjaga Dinda dalam kondisi apapun?" tanya Leo ragu.
"Hmm." kata Ryan.
"Seyakin itu?" sahut Leo memastikan.
"Kamu datang hanya untuk menanyakan ini?" tanya Ryan sambil mengerutkan dahinya.
"Tidak juga." jawab Leo.
"Terus?" tanya Ryan.
"Terus apa?" sahut Leo bingung.
"Terus kenapa kamu masih diam? Katakan!" seru Ryan.
"Sejujurnya aku benci mengatakan ini tapi..." kata Leo menghentikan kalimatnya sejenak lalu menarik napasnya dalam-dalam.
"Jaga Dinda baik-baik. Jangan sekali-kali kamu berani melukai perasaanya! Kalau tidak, kamu akan berurusan denganku!" lanjutnya dengan nada tegas.
"Sekalipun kamu tidak suruh aku juga akan melakukannya. Tenang saja, aku akan memastikan itu." kata Ryan sambil menepuk bahu Leo lalu tersenyum.
"Aku tidak percaya aku harus mengatakan ini padamu." gumam Leo pelan. Namun, perkataan Leo tadi masih bisa didengar Ryan walau hanya samar-samar.
__ADS_1
"Satu lagi, kamu tahu 'kan Dinda itu mencintaimu sama seperti kamu mencintainya." kata Leo.
"Iya, aku mengerti." sahut Ryan.
"Lalu, apa dia bilang akan menjawabmu?" tanya Leo.
"Belum. Selama satu minggu ini, aku juga tidak sering bertemu dengannya. Dia selalu menghindar dariku." jawab Ryan sambil mengedikkan bahunya.
"Bodoh! Aduh, kenapa sepupuku bisa jenius dalam segala hal tapi bodoh dalam percintaan." celoteh Leo seperti ibu-ibu yang pusing karena anak laki-lakinya tidak juga peka terhadap situasi.
"Apa maksudmu?" tanya Ryan dengan polosnya.
"Apa kamu hanya tahu belajar, belajar, dan bekerja? Kamu juga harus mempelajari sikap wanita! Jika seorang wanita menghindarimu setelah kamu menyatakan perasaanmu sekalipun kamu sudah tau dia juga menyukaimu, itu berarti dia masih ragu. Harusnya kamu mengambil inisiatif sedikit!" jelas Leo sambil menggelengkan kepalanya.
"Oh. Apa yang harus kulakukan?" tanya Ryan.
"Apa kamu benar-benar sebodoh ini atau berpura-pura bodoh sih?" sahut Leo sambil mengerutkan dahinya.
"Terserah padamu." kata Ryan.
"Tapi, kenapa seorang Leonard Maxwell mau membuang egonya?" tanya Ryan sengaja memancing sepupunya itu.
"Apa?" tanya Leo.
"Kupikir kamu tidak akan pernah mencintai wanita." jawab Ryan dengan santainya.
"Hei, kamu gila? Aku juga mau menikah saat dewasa nanti!" teriak Leo.
"Oh. Apa sudah ada calonnya?" tanya Ryan dengan nada datar seperti biasanya.
"Kamu sengaja meledekku?" tanya Leo kesal.
"Tidak. Hanya ingin menyapanya jika memang ada." sahut Ryan asal.
"Kenapa seorang Ryan Jonathan mau menyapa?" tanya Leo sambil mengangkat sebelah alisnya karena merasa heran dengan sikap Ryan.
__ADS_1
"Karena aku mencintai wanita yang ramah, lembut, dan baik hati." jawab Ryan dengan tenang. Jika wanita yang dimaksudnya mendengarkan ini, ia pasti sudah meleleh saat ini juga.
"Wah, apa-apaan ini! Kamu harus mengulanginya lagi! Cepat ulangi kalimatnya!" desak Leo.
"Untuk apa?" tanya Ryan bingung.
"Jangan banyak tanya, ulangi saja!" perintah Leo sambil menyalakan voice recorder di smartphone miliknya.
"Karena aku mencintai wanita yang ramah, lembut, dan baik hati. Itu kamu, Dinda." kata Ryan dengan lembut. Baru kali ini Ryan mau saja mengikuti perintah Leo karena ia tahu Leo pasti mau merekamnya entah untuk apa.
"Hei, kenapa menambah dialognya?" tanya Leo yang tampak kesal.
"Suka-suka aku." jawab Ryan sambil tersenyum mengejek.
"Benar-benar keterlaluan!" seru Leo.
"Hei, kamu jangan kesal terus." tutur Ryan.
"Kenapa?" tanya Leo.
"Karena ketampananmu akan semakin berkurang." sahut Ryan. Leo bahkan sampai tidak bisa berkata-kata lagi karena begitu terkejut dengan jawaban Ryan.
"Jadi, kamu mengakui aku tampan?" tanya Leo senang. Biasanya, Ryan bahkan tidak akan tertarik untuk melihat penampilan Leo yang menurutnya berlebihan. Tidak seperti dirinya yang hampir memakai kaos polos dan celana pendek setiap hari.
"Dari sudut pandang wanita pada umumnya memang iya. Tapi, dari sudut pandang Dinda, aku yakin kamu tidak tampan." jawab Ryan sambil tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.
"Apa? Kurang ajar! Kamu juga tidak tampan di matanya." seru Leo yang tidak terima dengan pernyataan Ryan.
"Setidaknya, aku berhasil membuat hatinya terbuka untukku." kata Ryan sambil tersenyum.
"Pamer." sahut Leo kesal. Ia melihat ke arah jam di tangannya lalu sadar ini sudah pukul 22:40.
"Ingat, aku percaya hanya kamu yang bisa menjaga Dinda. Aku pergi dulu." kata Leo sambil melambaikan tangannya. Ia segera turun dari kamar Ryan lalu menuju ke parkiran untuk pergi dari rumah itu dengan motornya.
Bersambung......
__ADS_1