Ketos Tampan Itu, Kekasihku

Ketos Tampan Itu, Kekasihku
Ryan dan Alexa


__ADS_3

“Kamu datang?” tanya Alexa sambil tersenyum menatap ke arah Ryan. Ryan terus berjalan sampai ke samping ranjang rumah sakit di mana Alexa berbaring dengan infus di tangan kirinya.


“Aku merindukanmu, Ryan,” kata Alexa dengan nada yang dibuat semanja mungkin. Ia juga memegang tangan kanan Ryan dengan tangan kanannya.


“Apa bagimu aku ini tembok? Sampai kamu tidak mau bicara apa pun denganku?” tanya Alexa parau. Ryan segera melepaskan tangannya dari genggaman Alexa lalu menghela napasnya. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan sambil mengerutkan dahinya karena merasa ada yang aneh.


“Di mana sepupumu?” tanya Ryan.


“Dia sudah pulang,” jawab Alexa tanpa menatap Ryan.


“Kita sudah lama tidak bertemu. Apa kamu tidak mau mengobrol denganku sama sekali?” tanya Alexa lirih.


“Tidak perlu basa-basi lagi, bicarakan apa yang selama ini mau kamu bicarakan padaku karena ini akan menjadi yang terakhir kalinya aku mendengarkan pendapatmu,” jawab Ryan tanpa menatap Alexa.


“Maaf soal waktu itu,” kata Alexa sambil menundukkan pandangannya. Ia tidak mau menatap Ryan yang saat ini sudah bukan Ryan yang dulu menatapnya dengan kehangatan.


”Untuk apa?” tanya Ryan sambil mengangkat kedua alisnya.


”Aku meninggalkanmu di hari itu. Aku tau aku salah tapi kita bisa memulai semuanya lagi dari awal…” jawab Alexa menjelaskan maksudnya menyuruh Ryan datang untuk menemuinya hari ini.


“Aku tidak bisa. Dan, aku sudah memaafkanmu di hari itu juga,” pungkas Ryan.

__ADS_1


“Kenapa tidak? Kita bahkan belum mencobanya. Kamu baru bisa mengetahui kamu bisa atau tidak jika kamu mau mencobanya,” sahut Alexa. Ryan membuang napasnya kasar mendengar kalimat itu.


“Apa aku harus memberitahumu alasannya? Aku datang ke sini bukan untuk memulai semuanya lagi denganmu. Tapi, aku datang untuk menyelesaikan semuanya,” kata Ryan dengan jujur.


“Menyelesaikan semuanya?” balas Alexa.


”Ya. Kita harus mengakhiri ini semua sekarang juga. Saat kamu pergi di hari itu, kita belum benar-benar putus. Aku hanya menganggapmu sudah tidak ada lagi di hidupku. Hari ini, aku minta kita putus. Bukan hanya itu, aku tidak mau lagi terlibat apa pun tentang dirimu. Aku minta maaf jika selama ini aku pernah berbuat salah padamu. Aku harap kamu bisa hidup dengan baik dan bahagia,” kata Ryan sambil menghela napasnya setelah mengucapkan kalimat terakhirnya.


“Bagaimana aku bisa bahagia kalau kamu menganggapku tidak ada di hidupmu? Aku tau aku salah, tapi apakah harus sekejam ini?” tanya Alexa sambil menumpahkan air matanya. Ia tahu Ryan tidak bisa melihat orang lain menangis. Ryan langsung membalikkan badannya saat melihat air mata itu tumpah dari kedua kelopak mata Alexa.


“Aku sudah mengatakan apa yang mau aku katakan. Kamu juga sudah mendengarnya dengan jelas. Aku pergi sekarang,” pamit Ryan tanpa menghiraukan tangisan Alexa.


“Oke, kita putus sesuai kemauanmu. Tapi tolong, jangan menganggap aku tidak ada di hidupmu. Aku mau kita tetap dekat seperti dulu. Aku tidak bisa bahagia jika aku tidak bersamamu…” kata Alexa sambil sesenggukan. Mau tidak mau, Ryan membalikkan badannya lagi menatap wajah wanita itu. Ia hanya diam sambil terus menatap wanita yang sedang menangis di hadapannya itu sampai wanita itu akhirnya bisa mengendalikan dirinya.


“Kamu tau ‘kan? Sebuah hubungan itu seperti kertas. Sekalinya kamu merobeknya menjadi dua bagian, kamu mungkin bisa mengembalikannya menjadi satu lagi. Tapi, bekasnya tidak akan pernah hilang,” jelas Ryan saat Alexa tidak lagi sesenggukan seperti tadi.


“Apa maksudnya?” tanya Alexa dengan nada serak karena dirinya baru selesai menangis.


“Kamu pernah merobek hubungan kita di masa lalu. Sekarang kamu muncul lagi di hadapanku, kamu mau kita tetap dekat seperti dulu? Aku tidak bisa membuat lebih banyak bekas luka di hatiku. Aku sudah mengatakan semua yang mau aku katakan padamu. Aku pergi, jaga dirimu baik-baik,” kata Ryan sambil menepuk pelan pundak Alexa lalu pergi dari situ.


*****

__ADS_1


Ryan sepertinya lupa bahwa Alexa adalah anak konglomerat yang selalu seenaknya sendiri. Alexa sebenarnya tidak sakit apa-apa. Ia sengaja berpura-pura sakit supaya Ryan mau bertemu dengannya. Kalau soal kamarnya di rumah sakit itu, jangan tanya kenapa ia yang tidak sakit bisa memesan sebuah kamar. Semua hal bisa terjadi selama ada duit yang membantu prosesnya.


“Sial!” teriak Alexa setelah beberapa saat Ryan keluar dari kamar VIP di rumah sakit itu. Ia mengacak-acakan rambutnya karena rencananya untuk membuat Ryan kembali kepadanya gagal.


“Kenapa dia jadi dingin padaku sekarang?” tanya Alexa tidak terima.


“Clarissa! Aku ingin kamu membantuku sekali lagi,” panggil Alexa sambil berteriak. Clarissa yang sejak tadi berada di kamar mandi segera keluar dari sana lalu menghampiri Alexa.


“Apa itu?” tanya Clarissa.


*****


Di kamar Clarissa


Clarissa menggigit bibir bawahnya dan mengepalkan kedua tangannya saat mendengar rencana kejam Alexa.


“Kenapa kamu harus melibatkan aku dalam rencana kejammu ini?” tanya Clarissa sambil menarik napasnya dalam-dalam karena emosi. Tanpa ia sadari, air matanya mulai tumpah dan membasahi seluruh wajahnya.


“Dinda, maafkan aku,” kata Clarissa sambil terisak. Ia merasa ia tidak mampu membantu Alexa menjalankan rencana gila ini. Tapi, di sisi lain, ia juga harus menyelamatkan perusahaan Papanya.


Bersambung……

__ADS_1


__ADS_2