
Di dalam kamar tidur yang sangat mewah hanya ada satu orang yang tinggal disana yang tidak lain adalah Ryan Jonathan.
"Huh.. aku lelah sekali." Ryan baru saja selesai belajar.
Kring...kring..
"Ah, siapa ini!" Ryan kesal setiap kali dirinya mendapat panggilan saat ia dalam kondisi lelah.
"Halo."
"Halo Nak, bagaimana kabarmu?" tanya seorang laki-laki bernama Jonathan Hartono yang merupakan ayahnya.
"Aku baik, Pa." sahut Ryan.
"Kamu terlihat lelah, apa kamu baru pulang sekolah setelah rapat OSIS?"
"Tidak, Pa. Hari ini tidak ada rapat apapun."
"Lalu, kenapa kamu terlihat kelelahan begitu?"
"Aku habis belajar, Pa." sahut Ryan.
"Benarkah? Apa tadi Bu Dian datang?"
"Tidak, Pa. Ryan mau belajar sendiri."
"Oke.. Ryan, Papa mau minta tolong."
"Apa yang terjadi, Pa?"
"Bisakah kamu mengurus berkas perusahaan papa yang ada di laci kedua ruang kerja? Hanya untuk sementara saja kok, nak. Jika tidak bisa hari ini maka kerjakan saja besok."
"Baik, Pa. Ryan mau tanya."
"Kenapa?"
"Apa Ci Cilla sudah menghubungi papa? sudah 3 minggu Ryan tidak mendapat kabar darinya."
"Iya. Dia menghubungi Papa. Dia bilang dia sudah menyelesaikan tugasnya dan meminta liburan selama sebulan penuh. Tidak perlu khawatir, dia baik-baik saja."
"Baik, Pa."
"Baiklah, Nak. Papa tutup dulu ya."
"Iya, Pa." Setelah mendapat telepon dari ayahnya, Ryan segera menuju ke ruang kerja. Ia melihat berkas-berkas yang banyak.
"Huh.." Ryan hanya bisa mendesah.
tok.. tok.. tok...
"Masuk."
__ADS_1
"Permisi, tuan muda." kata Pak Bagus, kepala pelayan di rumah itu.
"Ada apa? Panggil saja aku Ryan!"
"I-iya Ryan. Apa anda butuh sesuatu? Camilan atau minuman?"
"Bawakan aku susu cokelat panas."
"Baik, tuan.." Ryan sudah menyoroti dengan sorotan mata membunuh.
"Baik, Ryan. Saya permisi sekarang." Ryan hanya menganguk.
"Ini, tu....Ryan. Silahkan dinikmati."
"Ya. Makasih."
"Saya permisi sekarang. Kalau butuh sesuatu panggil saya." Pak Bagus memberi hormat dan menutup pintu ruang kerja itu lalu meninggalkan Ryan.
Ryan, sosok yang sangat dikagumi. Ryan sendiri merupakan anak dari Jonathan Hartono, seorang pengusaha sukses dan ibunya adalah seorang model bernama Nadia Stefanie. Ia memiliki satu kakak perempuan, namanya Priscilla Nadia. Sejak ia kecil, Orangtua nya selalu sibuk berkarir sehingga ia hanya punya Ci Cilla sebagai orang yang bisa diajak bicara.
Namun, sejak 2 tahun yang lalu, Ci Cilla ditunjuk sebagai Direktur Utama di perusahaan ayahnya yang berada di London sehingga Ryan agak kesepian belakangan ini.
Ryan adalah anak kebanggaan kedua Orangtua nya. Ayahnya selalu berharap Ryan setuju untuk meneruskan perusahaannya, The Big Heart Company. Namun, Ryan memiliki cita-cita sebagai seorang dokter sehingga ia menolak menjadi penerus. Sampai saat ini, Jonathan selalu berharap Ryan akan setuju dan mengerti suatu hari nanti. Jonathan memerintahkan semua pelayan dan pengawal Ryan untuk memanggilnya dengan sebutan tuan muda karena ia merasa anaknya akan menyetujuinya untuk menjadi penerus suatu hari nanti.
Ryan sebenarnya orang yang dingin diluar tapi sangat hangat di dalam. Ia akan melakukan apa saja untuk orang yang dia cintai, bahkan memberikan seluruh isi dunia sekalipun. Ia pernah ditunangi paksa dengan Alexa. Tapi, ia tidak mencintai Alexa saat itu. Akhirnya, saat ia sudah membuka hatinya untuk Alexa, Perempuan itu memilih meninggalkannya. Saat Alexa pergi, Ryan benar-benar merasa terpukul. Hingga saat ini, Ryan masih agak trauma sehingga ia tidak mau jika ada orang yang membahas Alexa.
"Hoam.." Ryan berjalan keluar dari ruang kerja menuju ke kamarnya.
"Ryan." Ryan menjawab dengan nada datar.
"I-Iya benar, maksud bapak Ryan, apa anda membutuhkan sesuatu?"
"Tidak ada. Aku hanya lelah saja. Tolong bangunkan aku jam 6 pagi besok."
"Kenapa tu- ehem.. maksudku kenapa Ryan? Bukankah anda sangat kelelahan sekarang? Besok kan hari libur?"
"Aku mau olahraga!"
"Baik, Ryan. Selamat istirahat." Pak Herman memastikan tuan mudanya sampai di kamar dan tidak membutuhkan sesuatu lagi. Setelah itu, ia pulang ke apartemennya sendiri.
"Pak Bagus."
"Ah. Iya Pak Herman, ada apa?"
"Saya rasa tuan muda benar-benar kelelahan saat ini. Besok tolong anda hidangkan menu favoritnya." Pak Herman biasanya tidak meminta tolong karena ia hampir selalu bisa memenuhi kebutuhan tuan mudanya itu tapi jika ia sudah minta tolong berarti kali ini ada yang berbeda dari biasanya.
"Baik. Bapak tenang saja." sahut Pak Bagus.
"Kalau begitu saya pamit." Pak Bagus dan pelayan lain membungkukkan badannya sementara Pak Herman berjalan kearah parkiran di halaman rumah yang luas itu.
Di dalam kamar..
__ADS_1
"Huh! Apa-apaan ini?" Ryan terlihat kesal membaca pesan WhatsApp dari Amanda.
"Ryan, tadi aku memperhatikan loh..☺"
"Apa yang kamu perhatikan?" balas Ryan.
"Kamu sepertinya menyukai Dinda ya." balas Amanda.
"Mana ada." balas Ryan.
"Weekkk kalau suka tuh ngaku aja nanti aku siap jadi mak comblang kok. Hahahahahaha." Ryan membuka voice message (pesan suara) dari Amanda yang isinya tentu hanya meledeknya.
"Yang benar saja!" balas Ryan.
"Kenapa kamu marah? Wah, jadi tebakanku benar?"
"Berhenti menebak-nebak, kamu tidak akan bisa menebaknya dengan benar!" balas Ryan dengan emosi yang sudah membara.
"Wah, aku dapat ultimatum dari seorang Ryan Jonathan. Baiklah, aku mengaku kalah. Tapi, Dinda.."
"Dinda kenapa?"
"Hmm.. pikir saja sendiri. Weeekkk 😛."
"Benar-benar aneh."
"Hahahaha Ryan kamu memang sangat lucu jika sudah jatuh cinta. Tenang, Dinda adalah gadis yang baik. Dia tidak akan membuatmu terluka lagi seperti cewek songong itu."
"Apa maksudmu?"
"Kamu menyukainya, kan? Jatuh cinta itu normal kok. Aku berjanji akan comblangin kalian sampai kalian jadi pasangan yang bahagia. Hahaha."
"Aku menyukainya? Hah?"
"Kenapa malah bertanya? Tadi di rumahmu aku lihat kamu hanya memperhatikan Dinda saja."
"Benarkah?'
"Astaga. Apa orang pintar tidak menyadari tindakannya sendiri?"
"Tidak."
"Terserah lah. Beritahu aku jika kamu sudah siap untuk dicomblangi. Hahaha."
"👊🏻" balas Ryan. Amanda hanya membaca pesan itu tapi tidak membalasnya. Amanda masih tidak bisa berhenti tertawa sejak pulang dari rumah Ryan tadi.
"Huh! Apa-apaan dia!" Ryan menggerutu sendiri.
"Aku menyukainya? Hahaha. Apa Manda sudah gila?! Bagaimana mungkin aku menyukainya!"
Bersambung...
__ADS_1