Ketos Tampan Itu, Kekasihku

Ketos Tampan Itu, Kekasihku
Rumah Sakit


__ADS_3

Di sebuah rumah sakit terbesar di Jakarta, di situlah Dinda membawa Kenzo untuk dirawat disana. Namun, siapa yang menyangka, Jonathan, ayah dari Ryan juga dirawat disana.


"Kenzo gak mau, kak. Kenzo gak mau disuntik jarum. Disuntik itu sakit, kak. Kenzo gak mau." teriak Kenzo sambil menangis.


"Kenzo, tahan sebentar ya sayang. Disuntik itu gak sakit kok. Cuma ditangan aja."


"Kenzo gak mau, kak. Kenzo gak mau disuntik." teriak Kenzo.


"Gak sakit kok, Kenzo. Lihat, ada wajah smile di tanganmu." kata perawat yang menyuntikkan tangan Kenzo.


"Udah. Kenzo gak merasa sakit, 'kan?" tanya Dinda sambil tersenyum.


"Udah? Udahan disuntiknya, kak?" tanya Kenzo.


"Iya udah, Kenzo." jawab Dinda.


"Beneran, kak?" tanya Kenzo masih tak percaya.


"Iya, beneran." jawab Dinda sambil mengelus rambut Kenzo.


"Wah, ternyata memang tidak terasa sakit." kata Kenzo senang.

__ADS_1


"Kenzo jangan takut lagi ya." kata Dinda.


"Iya, kak." sahut Kenzo.


"Sekarang Kenzo tidur dulu ya. Nanti kalau Kenzo udah bangun tidur, bakal ada mainan mobil buat Kenzo." kata Dinda sambil memegang tangan Kenzo.


"Beneran, kak?" tanya Kenzo.


"Iya dong." jawab Dinda.


"Kalau begitu Kenzo mau tidur sekarang." kata Kenzo senang.


"Iya. Tidurlah yang nyenyak." sahut Dinda sambil mengelus lagi rambut anak itu. Baru beberapa menit, Kenzo sudah terlelap.


"Empat hari yang lalu, non." jawab Mbak Fina.


"Mbak kenapa gak bilang sama aku? Kalau tau aku pasti sudah membawa Kenzo ke rumah sakit dari empat hari yang lalu."


"Karena mbak gak mau repotin non. Non sudah seperti malaikat dalam hidup mbak dan Kenzo. Non sudah memberikan kami makanan dan pakaian. Bahkan, non dan Tuan Satrio juga menyekolahkan Kenzo. Bagaimana mungkin mbak bisa memberitahu non kalau Kenzo sedang sakit? Biaya rumah sakit mahal, non. Mbak sendiri juga tidak mampu membayar. Maka itu, mbak berpikir lebih baik mengompres Kenzo dengan kain dan juga es batu. Tapi, ternyata demamnya malah semakin parah." jelas Mbak Fina.


"Mbak Fina. Jangan seperti ini lagi. Ini demi kebaikan mbak dan Kenzo. Kalau Mbak Fina butuh sesuatu, bilang aja. Mbak gak perlu sungkan dan merasa gak enak sama aku. Aku bukan orang asing 'kan dimata mbak?" tanya Dinda sambil memegang kedua tangan Mbak Fina.

__ADS_1


"Tentu saja bukan, non. Tapi, mbak hanya merasa tidak enak saja terhadap non." sahut Mbak Fina.


"Mbak Fina.." kata Dinda.


"Baiklah, non. Mbak akan mengabari non jika memang itu mau non." sahut Mbak Fina yang dibalas senyuman dan anggukan kepala dari Dinda.


...****************...


Ryan dan Pak Herman sudah berlari dari parkiran rumah sakit menuju lift di lantai 7 di tempat Jonathan dirawat. Tepatnya, ruangan UGD itu bernomor 734.


"Ryan." panggil Pak Herman saat Ryan berlari sangat cepat setelah mereka berdua baru saja keluar dari lift.


"Ryan, jangan lari!" kata Pak Herman memberi peringatan kepada Ryan. Namun, itu semua sia-sia karena Ryan sudah jauh mendahuluinya.


Saat Ryan berlari menuju ke ruang UGD papanya, ia tergelincir karena tidak memperhatikan ada tanda berwarna kuning yang memperingatkan untuk hati-hati karena lantai licin.


"Ah.." desah Ryan. Ia mencoba berdiri namun agak kesulitan.


"Tuan muda! Ryan, kamu baik-baik saja?" tanya Pak Herman sambil membantunya berdiri. Raut wajah laki-laki itu terlihat sangat panik karena tuan mudanya tergelincir.


"Iya. Aku baik-baik saja." jawab Ryan sambil memaksakan dirinya berdiri lalu berjalan ke ruangan kamar UGD nomor 734. Pak Herman yang memegang lengan Ryan dari samping hanya bisa menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2