
“Siapa dia? Kamu belum putus dengan si Alexa itu?” sahut Alvaro dengan antusias.
“Bukan dia, tapi gadis yang lebih baik dan cantik darinya,” jawab Ryan sambil menatap ke arah Alvaro lalu tersenyum lebar.
“Wah, wah, ternyata begini tatapan remaja yang sedang kasmaran,” celetuk Alvaro kaget saat Ryan menatapnya sambil senyum-senyum sendiri.
“Kamu punya fotonya? Biar Koko liat secakep apa pacar kamu itu,” lanjutnya sambil merangkul bahu Ryan dengan lengan kanannya.
“Nih,” kata Ryan sembari memberikan smartphone-nya ke Alvaro.
“Gimana? Cantik banget ‘kan?” tanya Ryan.
“Hmm, harus kuakui kamu pinter juga mencari pacar yang cantik,” jawab Alvaro. Ia baru melihat wajah Dinda sekilas namun Ryan langsung menarik smartphone-nya dari tangan Alvaro.
“Tentu saja, aku ‘kan tampan juga,” balas Ryan dengan santainya.
“Dasar bocah, bisanya pamer doang,” gumam Alvaro pelan.
“Hahaha, Koko iri ya karena gak secakep aku?” tanya Ryan sambil tersenyum.
“Enggak kok. Mana mungkin aku iri? Lagian kamu juga belum puber seratus persen tau! Bisa aja nanti pas umur 20an kayak aku sekarang malah makin jelek,” jelas Alvaro dengan nada mengejek.
“Yaudah deh kalau gak mau ngaku, aku pergi dulu ya. Bye, Ko,” sahut Ryan sembari menepuk bahu Alvaro lalu bangkit berdiri untuk pergi dari rumah itu.
“Bye,” kata Alvaro. Ia mengantar Ryan sampai ke halaman depan rumah lalu melambaikan tangannya saat mobil Ryan melaju menjauh dari rumahnya.
*****
Malam hari di Kamar Priscilla
Tok…tok…tok…
“Siapa?” tanya Priscilla sembari berjalan ke arah pintu.
“Ini aku, Ci,” jawab Ryan.
“Masuk aja, pintunya gak dikunci,” sahut Priscilla.
“Cici abis nangis?” tanya Ryan saat melihat mata sembab yang terlihat jelas di wajah kakaknya itu.
“Enggak kok,” jawab Priscilla mengelak.
“Kenapa, Ci?” tanya Ryan sambil memeluk Priscilla. Ia tidak bisa melihat orang lain menangis, jadi setiap kali Priscilla menangis di hadapannya, ia akan memeluknya supaya tidak perlu melihat air mata yang jatuh dari wajah kakaknya. Memeluk seseorang juga secara tidak langsung akan menghibur orang yang sedang dipeluk.
“Gapapa,” jawab Priscilla.
“Kamu ngapain sih peluk-peluk? Udah Cici bilang ‘kan gak ada apa-apa,” kata Priscilla sembari mendorong badan Ryan.
“Ci, bohong itu gak baik loh,” kata Ryan.
“Cici yang ngajarin itu dulu ke aku,” imbuhnya.
“Kamu ini!” seru Priscilla sambil memukul pelan bahu adiknya itu.
“Kenapa baru pulang sekarang? Abis dari mana kamu?” tanya Priscilla mengalihkan topik pembicaraan.
“Kepo itu gak baik,” jawab Ryan sambil
“Cici yang bilang gitu,” lanjut Ryan dengan santainya.
“Kapan?” sahut Priscilla pura-pura lupa.
“Waktu aku nanya udah berapa kali Cici sama Ko Alvaro…” jawab Ryan yang langsung disela oleh Priscilla.
“Ya, kalo topiknya yang itu ‘kan kamu gak boleh tau. Kamu masih kecil,” pungkas Priscilla.
“Masih kecil apanya? Aku cuma selisih enam tahun dari Cici,” sahut Ryan tidak terima.
__ADS_1
“Terserah kamu deh,” kata Priscilla sambil mengelus rambut Ryan.
“Memangnya menurut Cici, Ko Alvaro itu orang yang kayak gimana sekarang?” tanya Ryan tiba-tiba.
“Kamu ngapain nanya lagi? Dulu sama sekarang masih sama aja,” sahut Priscilla ketus.
“Ci, kapan Cici mau ketemu sama Ko Alvaro lagi?” balas Ryan.
“Mungkin besok, kenapa?” tanya Priscilla.
“Tadi aku mampir ke rumah Ko Alvaro, dia bilang kalau dia menyesali perbuatannya di masa lalu dan sekarang dia cinta sama Cici.” Ryan menjelaskan yang sebenarnya.
“Mungkin aku cuma tempat pelampiasannya,” gumam Priscilla.
”Karena itu, besok saat Cici bertemu dengannya, mendingan Cici dengerin dulu penjelasannya Ko Alvaro supaya bisa Cici simpulin sendiri nanti,” balas Ryan.
“Iya, bawel,” sahut Priscilla sambil mencubit kedua pipi Ryan.
“Sakit, Ci,” protes Ryan.
“Haha, yaudah sana kamu selesaiin dulu tugas-tugas kamu, jangan kepo sama sesuatu yang bukan urusan kamu,” kata Priscilla.
“Ah, Cici mah selalu aja kayak gitu kalau ngebahas soal Ko Alvaro. Yaudah deh, aku pergi dulu. Good night, Ci,” sahut Ryan sembari keluar dari kamar itu untuk segera menuju ke kamarnya.
“You too,” balas Priscilla sambil tersenyum.
*****
Malam hari di Kamar Ryan
Ryan berniat menghubungi Dinda untuk rencana mereka memberi tahu hubungan mereka berdua kepada teman-temannya. Namun, Dinda sudah meneleponnya terlebih dahulu. Ryan segera mengangkat panggilan dari kontak yang ia simpan dengan nama "My Love".
"Halo, Sayang?" sapa Ryan.
"Halo," balas Dinda.
"Ngapain lagi kalau bukan nelepon kamu?" sahut Dinda.
"Hmm, kalau gitu kita switch ke video call aja, ya? Aku kangen mau liat muka kamu," jawab Ryan. Dinda langsung terkejut karena ia sebenarnya tidak menyukai panggilan video call.
"Hai," sapa Dinda canggung. Ia benar-benar tidak terbiasa menelepon melalui panggilan video call. Meski begitu, ekspresinya yang terlihat bingung membuat Ryan tertawa. Apa pun yang dilakukan pacarnya ini pasti akan terlihat cantik di mata Ryan.
"Hai juga, Sayangku," balas Ryan sambil tertawa pelan. Ia ingin Dinda tetap nyaman saat berbicara dengannya sekalipun di telepon.
Udah gila ya dia? Kenapa harus manggil Sayangku sih? Mana dia ganteng banget lagi! Kenapa cowok kalau pake kaos putih polos jadi ganteng banget? Aaaa aku pasti udah gila karena terpesona sama dia kali ini! teriak Dinda dalam hati.
"Aku tau aku tampan, Sayang. Tapi, kamu gak usah liatin sampai melongo gitu. Besok 'kan kita ketemu. Kamu bisa liatin aku sepuasnya besok," kata Ryan.
Hah, Aku ketauan! Malu banget! gerutu Dinda dalam hati.
"Kamu udah kangen banget ya sama aku sampai diem aja daritadi?" tanya Ryan yang berusaha menggoda Dinda.
"Ah, enggak kok. Mana ada," jawab Dinda mengelak.
"Hmm, kangen sih iya, sedikit doang tapi," lanjutnya. Meski begitu, Ryan sudah cukup senang.
"Besok itu... kita ngumuminnya... di taman aja gimana?" tanya Dinda gugup. Ryan tetap sabar dengan tidak memotong pembicaraan Dinda.
"Hmm, aku setuju," jawab Ryan. Ia menghargai apa pun pendapat Dinda.
"Oke, kalau gitu besok pagi ya," sahut Dinda.
"Iya, Sayang," kata Ryan sambil tersenyum.
"Um, aku udah mau tidur bentar lagi," ujar Dinda.
"Oke, good night and sweet dreams, jangan lupa mimpiin aku ya, Sayang. Bye,"
__ADS_1
"Bye, Sayang," balas Dinda sambil tersenyum senang.
*****
Pagi hari di taman sekolah
“Ada apaan sih, Din? Kok tumben kamu pagi-pagi udah ngajak ke taman?” tanya Amanda yang penasaran.
“Begini, aku mau bilang sama kalian kalau…” kata Dinda yang terdiam sesaat karena tatapan dari teman-temannya yang membuatnya gugup kali ini.
“Iya, kenapa?” sahut Amanda.
“Aku sama Dinda udah pacaran,” jawab Ryan sembari tersenyum lalu merangkul pundak Dinda.
“Selamat,” kata Leo dengan wajah tersenyum sembari menyalami Dinda. Namun, saat ia menyalami Ryan, mukanya terlihat datar dan hanya tersenyum kaku.
“Kapan? Kemarin malam?” celetuk Ayu.
“Satu minggu lalu,” jawab Dinda pelan.
“Kenapa baru kasih tau sekarang sih?” protes Amanda. Namun, di antara Ryan dan Dinda tidak ada yang ingin mengeluarkan suara mereka untuk menjawab Amanda.
“Hahaha, bener ‘kan, udah aku bilang kamu jelas-jelas mencintainya, Ryan,” imbuh Amanda sembari menepuk bahu Ryan. Mereka terlihat sangat akrab saat ini sehingga membuat Budi yang berdiri di sebelah Amanda merasakan panasnya api cemburu.
“Ehem…” dehem Budi yang langsung menyadarkan Amanda sehingga Amanda langsung menarik tangannya dari bahu Ryan.
“Yaudah, itu aja ‘kan informasinya? Gak ada apa-apa lagi nih? Aku mau jalan-jalan keliling sekolah sama Budi,” kata Amanda sembari menautkan lengan kanannya ke lengan kiri Budi.
“Um, temen-temen, sebenernya… aku sama Rangga juga udah pacaran dari seminggu yang lalu,” kata Ayu jujur.
“Hah? Apa? Kok baru kasih tau sekarang sih?” sahut Amanda terkejut.
“Ya, abis mau gimana, kalian ‘kan juga tau kalau aku sama Rangga kayak Tom and Jerry,” jawab Ayu sambil mengangkat bahunya.
“Tapi sekarang kita jadi kayak Dilan dan Milea,” imbuh Rangga sambil menatap Ayu dengan tersenyum lalu menggenggam erat tangan kanan pasangannya itu.
“Selamat,” kata Leo sambil menyalami Ayu dan Rangga.
Kenapa hari ini aku jadi orang yang cuma ngasih selamat aja ya? batin Leo sambil menunjukkan senyuman kakunya.
“Leo, gak mau nyusul?” tanya Budi tiba-tiba sembari menepuk pundak Leo. Ia sepertinya tahu apa yang Leo pikirkan dan rasakan saat ini.
“Nyusul apa?” sahut Leo pura-pura tidak tahu.
“Ya, nyusul jejak kami punya pacar,” jawab Budi.
“Hahaha, belum ada calonnya, Bud,” balas Leo sambil mengangkat bahunya.
“Tuh, masih ada Clarissa,” kata Budi dengan santainya. Ia menunjuk Clarissa dengan dagunya.
“Haha, ntar aja urusan pacaran mah,” sahut Leo.
“Yaudah, intinya kalau udah dapet kabarin ya,” kata Budi mengingatkan.
“Iya,” balas Leo sambil mengangguk.
“Kalian berempat nanti pulang sekolah traktir ya,” kata Amanda sembari tertawa.
“Ah, Manda mah gak asik!” gerutu Ayu tidak terima.
“Clar, Leo, kalian bisa ‘kan nanti pulang sekolah makan-makan sama kita?” tanya Amanda yang sengaja mengabaikan gerutuan dari Ayu.
“Bisa,” jawab Clarissa dan Leo bersamaan.
“Hahaha, kalian cocok tau,” sahut Ayu sembari menatap ke arah Clarissa dan Leo secara bergantian.
“Enggak ah, mana ada cocoknya, tadi itu cuma kebetulan aja,” elak Clarissa.
__ADS_1
Bersambung……