Ketos Tampan Itu, Kekasihku

Ketos Tampan Itu, Kekasihku
Ryan Dan Clarissa


__ADS_3

"Kamu?" tanya Ryan lagi.


"Ryan?" tanya perempuan itu.


"Kamu adalah murid baru itu. 'kan... Clarissa?" tanya Ryan.


Wah, tampan sekali dia jika memakai setelan jas itu. gumam Clarissa dalam hati.


"Ya. Aku Clarissa." sahut Clarissa setelah tersadar kalau seseorang yang berdiri di hadapannya sekarang membutuhkan jawaban.


"Oh, maaf ya. Aku tidak sengaja tadi. Maafkan aku." kata Ryan.


"Tidak apa-apa. Aku juga minta maaf." balas Clarissa sambil tersenyum manis.


"Oke. Aku harus pergi sekarang. By the way, kamu akan pergi dan bolos sekolah besok?" tanya Ryan.


"Ah, tidak kok. Aku kesini untuk menjemput papa ku yang baru saja pulang dari Singapura." sahut Clarissa.


"Oh, oke. Sampai jumpa besok di sekolah." kata Ryan.


"Iya. Sampai jumpa." balas Clarissa. Perempuan itu segera berjalan lagi ke pintu masuk untuk menuju ke Bandara dan menjemput papanya.


...****************...


"Ah! Kenapa jalanannya harus macet!" gerutu Ryan sambil memukul stir mobilnya.


"Yang benar saja! Ini sudah 20 menit dan masih tidak bergerak juga?" keluh Ryan. Ia mengacak-acak rambutnya.


"Huh! Seharusnya saat itu aku tidak usah bilang ke Pak Herman kalau aku mau bikin SIM! Sekarang, aku malah harus menyetir sendiri ke perusahaan papa."


...****************...


"Papa!" teriak Clarissa.


"Papa pasti sudah lelah. Sini tas nya Clar saja yang bawain." kata Clarissa sambil memindahkan tas yang dipegang papanya ke tangannya.


"Terimakasih, Sayang. Kamu masih saja manis seperti dulu." sahut Revan, Papa dari Clarissa.


"Hehe. Tidak kok, Pa." sahut Clarissa lagi.


"Ayo kita pulang ke rumah!" ajak Revan.


"Baik, Pa. Clar saja yang menyetir. Papa pasti sudah lelah." tawar Clarissa.


"Hmm.. Baiklah. Ingat untuk berhati-hati saat menyetir, Nak." sahut Revan.


"Baik, Pa. Papa tenang saja! Clar akan berhati-hati kok!" sahut Clarissa.


Setelah 45 menit perjalanan dari Bandara ke Rumah Revan, akhirnya ia dan putri tunggalnya itu sampai juga di mansion mewah miliknya yang bernama 'White House'. Mansion itu hanya mampu dibeli oleh pengusaha-pengusaha yang luar biasa kaya. Jadi, sudah jelas kalau Clarissa adalah anak dari keluarga yang sangat kaya.


"Selamat sore, Tuan besar Revan!" sapa kepala pelayan di mansion mewah itu ketika Revan memasuki rumahnya.


"Sore." balas Revan.


"Selamat sore, Nona muda Clarissa." sapa kepala pelayan itu lagi.


"Sore juga, Pak Beni." balas Clarissa.


"Nyonya besar sudah menunggu Tuan besar di ruang tamu." kata Beni, kepala pelayan yang sudah berusia 38 tahun. Ia sudah bekerja bersama tuan besarnya itu selama kurang lebih 13 tahun.


"Baiklah. Terimakasih Beni." sahut Revan.

__ADS_1


"Sama-sama, tuan besar." balas Beni.


"Ma. Ada apa?" tanya Revan.


"Duduk dulu sini, Pa."


"Kenapa, Ma?" tanya Revan setelah duduk di sofa.


"Pak Jonathan baru saja kembali dari Sydney ke Jakarta tadi, sama seperti Papa baru balik ke Jakarta."


"Papa tahu itu, Ma. Kenapa memangnya?" tanya Revan.


"Mama dengar hari ini ia akan meeting dan besok ia akan pergi ke perusahaannya. Apa rencana Papa jika Pak Jonathan mengundang Papa besok?"


"Hmm.. Lihat aja keadaannya nanti, Ma."


Kring..Kring..Kring..


"Halo."


"Halo, Revan! Maaf menelepon malam-malam. Lu masih ingat sama gua, 'kan?" sapa Jonathan.


"Jonathan? Tentu saja gua ingat lu! Ada apa malam-malam begini malah menelepon?" tanya Revan.


"Gua mau kita makan bersama besok malam. Ajak juga keluarga lu. Apa lu bisa?" sahut Jonathan.


"Lu juga mau gua ngajak keluarga gua?" tanya Revan lagi.


"Iya. Tapi, tidak masalah jika mereka tidak bisa ikut. Omong-omong, lu 'kan pernah bilang akan membawa putri cantik lu itu untuk menemui gua? Terakhir gua bertemu dengannya saat dia berusia 12 tahun. Gua sudah kangen dengannya. Gua juga akan mengajak putra gua."


"Hmm.. iya. Oke. Nanti gua tanyain. Lu mau kita makan dimana dan jam berapa?"


"Tempatnya seperti biasa saja. Kita akan bertemu besok jam 19:00."


"Sampai besok."


"Ma."


"Iya?"


"Mama dengar 'kan tadi? Mama dan Clarissa bisa ikut tidak?" tanya Revan.


"Tentu saja mama bisa ikut, Pa. Mama akan menanyai Clar tentang ini. Papa mandi dulu saja."


"Oke."


Setelah itu, Linda, istri dari Revan sekaligus Mama dari Clarissa memutuskan untuk mendatangi kamar putri kesayangannya, Clarissa.


Tok..tok..tok


"Clar, ini mama. Mama boleh masuk?" tanya Linda.


"Clar, besok kamu mau ikut papa dan mama?" tanya Linda.


"Ikut ke mana, Ma?"


"Ke Restoran Xxx. Kamu mau 'kan?" tanya Linda sambil tersenyum lebar.


"Memangnya kenapa aku harus ikut, Ma? Besok kan hari Jumat. Setelah sekolah aku 'kan bisa istirahat di rumah."


"Mama tahu itu. Tapi, kalau kamu tidak ikut nanti kamu bakal nyesel, lho. Om Jonathan yang bilang ingin melihat kamu lagi." kata Linda berusaha meyakinkan putrinya.

__ADS_1


"Kenapa aku bakal nyesel, Ma? Ci Cilla 'kan belum kembali ke Jakarta?" tanya Clarissa heran.


"Udah ya Sayang, ikut aja. Nanti Om Jonathan akan mengajak putranya juga. Percaya sama mama. Kalau kamu ikut kamu gak akan nyesel. Putranya cakep kok." sahut Linda.


"Iya, Ma. Clar percaya." sahut Clarissa.


"Gitu dong baru putri kesayangan mama sama papa." balas Linda. Clarissa hanya bisa tersenyum.


...****************...


"Clar. Setelah masuk ke ruangan VVIP di restoran Xxx, pastikan kamu menyapa Om Jonathan dan putranya juga ya." kata Revan mengingatkan.


"Iya, Pa." sahut Clarissa.


"Ayo kita masuk!"


"Selamat malam, Jonathan." sapa Revan.


"Malam, Revan."


"Malam, Pak Jonathan. Bapak masih ingat 'kan sama saya?"


"Iya. Malam, Linda."


"Dan ini..."


"Halo. Selamat malam. Saya Clarissa, Om." sapa Clarissa ramah.


"Haha. Iya Clarissa. Om ingat sama kamu." sahut Jonathan.


"Selamat malam, Om Revan. Selamat malam, Tante Linda." Ryan mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan mereka.


"Malam juga." balas Revan dan Linda.


"Putra lu sudah tumbuh sebesar ini sekarang." kata Revan kepada Jonathan.


"Selamat malam." sapa Ryan sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Clarissa. Clarissa sedang mengamati wajah yang familiar di hadapannya sekarang.


"Malam juga. Saya Clarissa."


"Ryan."


Apa! Dia benar-benar Ryan? Clarissa kaget. Ia segera beranjak ke tempat duduknya tapi..


"Tunggu! Clarissa?" panggil Ryan.


"Iya? Ada apa?" tanya Clarissa kembali kaget.


"Kita kemarin bertemu di Bandara, 'kan?"


"Apa kamu benar-benar Ryan Jonathan, Ketua OSIS SMA Tunas Bangsa II?"


"Kamu bahkan tidak mengenali aku sebagai Ketos di sekolah mu?"


"Bukan begitu. Aku hanya memastikan." sahut Clarissa.


"Kenapa harus memastikan? Hanya aku murid tertampan di sekolah!" sahut Ryan.


Percaya diri sekali orang ini.. Tapi, dia memang yang paling tampan sih.. batin Clarissa.


"Ryan, Clarissa, Kalian sudah saling kenal?" tanya Revan. Melihat interaksi mereka berdua tadi membangkitkan semangat Revan untuk memudahkannya meyakinkan Jonathan tentang memberinya saham The Big Heart Company dalam jumlah yang besar, yaitu 49%.

__ADS_1


Revan adalah teman baik Jonathan sejak SMA. Hanya saja sekarang Revan tidak seperti dulu lagi. Ia lebih mempedulikan harta nya dibanding sahabat lama nya. Oleh karena itu, ia sangat senang walaupun hanya melihat putri nya dengan Ryan sudah saling kenal.


Bersambung.....


__ADS_2