
"Ryan, maafkan aku." kata Dinda sambil menatap kedua mata Ryan. Ryan tidak menyahut. Bahkan, tubuhnya tidak berkutik sama sekali. Ia sudah menduga bahwa penolakan akan terjadi karena ia mengungkapkan perasaanya secara tiba-tiba.
"Tidak masalah.." sahut Ryan dengan ekspresi wajah yang tidak bisa diartikan.
"Aku.. Aku ada janji dengan Leo di cafe dekat sini." kata Dinda yang bicara terburu-buru.
"Oh, yasudah. Pergilah." kata Ryan.
"Maafkan aku. Masalah yang tadi.. Aku akan memberikanmu jawabannya setelah aku memikirkannya." sahut Dinda sambil memakai tas ranselnya di punggungnya.
"Oh, oke." kata Ryan.
"Sekali lagi maaf, sampai nanti, Ryan." kata Dinda yang dengan tergesa-gesa segera pergi berlari dari sana.
"Jadi.. Dinda belum menolakku?" tanya Ryan sambil menghela napas lega.
...****************...
"Hai, Din. Disini." kata Leo sambil melambaikan tangannya.
"Hai, Leo. Maaf, aku telat 5 menit. Apa kamu sudah lama menunggu disini?" tanya Dinda.
"Tidak, kok. Tidak sama sekali. Duduklah." jawab Leo. Dinda pun duduk di kursi di depan Leo.
"Mau pesan apa?" tanya Leo.
"Aku.. Aku tidak lapar." jawab Dinda.
"Hmm.. Oke. Pesan minuman aja. Kamu mau teh, kopi, atau jus?" tanya Leo.
"Teh aja." jawab Dinda.
"Teh hangat atau.." kata Leo.
"Es teh manis." sahut Dinda.
"Oke." kata Leo.
__ADS_1
"Mbak." panggil Leo kepada salah satu pelayan cafe yang sedang membersihkan meja di sebelah mereka.
"Iya. Ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan itu.
"Pesan dua es teh manis ya." kata Leo.
"Baik. Mohon ditunggu." sahut pelayan itu.
"Din." panggil Leo.
"Din?" panggil Leo lagi sambil mengerutkan dahinya. Ia merasa Dinda yang sekarang berada di hadapannya tidak seperti biasanya.
"Hah? Iya kenapa?" tanya Dinda.
"Kamu kenapa? Kenapa mukamu pucat? Apa ada masalah?" tanya Leo.
"Tidak. Tidak apa-apa." jawab Dinda lesu.
"Permisi. Ini es teh manisnya." kata pelayan tadi.
"Sama-sama." sahut pelayan itu yang langsung pergi melanjutkan tugasnya bersih-bersih.
"Din, kamu tidak mau makan?" tanya Leo.
"Tidak. Aku masih kenyang." jawab Dinda.
"Din.." panggil Leo.
"Leo, ada apa mengajakku kesini?" tanya Dinda yang ingin mengalihkan perhatian Leo. Ia tidak ingin ditanya karena saat ini pikirannya sedang kacau. Kacau? Iya. Kacau memikirkan bagaimana akan menjawab Ryan nantinya.
"Tidak.. Itu.." jawab Leo gugup.
"Kenapa?" tanya Dinda.
"Aku takut kamu tidak akan nyaman jika aku mengatakannya sekarang." jawab Leo sambil menghela napasnya.
"Baiklah." sahut Dinda. Ia meminum es teh manis yang tadi sudah ia pesan.
__ADS_1
"Din.." panggil Leo lagi.
"Iya?" tanya Dinda.
"Apa kamu tidak akan pesan dessert? Para gadis biasanya menyukai itu." sahut Leo.
"Um.. Boleh. Aku pilih yang ini saja." jawab Dinda sambil menunjuk salah satu dessert pada menu.
"Oke." sahut Leo.
"Mbak." panggil Leo kepada pelayan itu.
"Iya." sahut pelayan itu lagi.
"Pesan banana vanilla ice cream satu." kata Leo.
"Baik, Kak." kata pelayan itu.
"Apa masih ada lagi?" tanya pelayan itu.
"Tidak, mbak." sahut Dinda.
"Baik. Saya permisi." kata pelayan itu.
Bagaimana aku harus menjawab Ryan? Apa jawaban yang harus aku berikan padanya nanti? Ah, aku benar-benar bingung sekali. Bagaimana ini.. Apa sebaiknya aku.. batin Dinda sambil mengerutkan alisnya.
"Din." panggil Leo.
"Iya? Ada apa?" tanya Dinda yang tersadar dari lamunannya.
"Begini.. Aku.. Hari ini aku mengajakmu kesini karena memang ingin bicara denganmu." jawab Leo sedikit gugup.
"Oh, apa itu?" tanya Dinda.
"Din.. Apa kamu bisa berjanji satu hal padaku?" Leo malah balik bertanya dengan muka serius.
Bersambung......
__ADS_1