Ketos Tampan Itu, Kekasihku

Ketos Tampan Itu, Kekasihku
Apa Mereka Akrab?


__ADS_3

Malam hari di kediaman Tuan Besar Jonathan


"Ternyata mengerjai dia enak juga ya. Haha" Ryan tertawa saat dirinya kembali memikirkan kejadian tadi di mall.


"Hmm.. Hari Senin nanti aku harus mengerjainya seperti apa, ya?"


"Apa aku harus menabraknya seperti tadi? Tidak. Tidak mungkin melakukan hal yang sama lagi. Dia akan curiga padaku."


"Ah, aku senang hari ini. Masalah mengerjainya besok saja kupikirkan."


"Pak." Ryan memanggil Pak Bagus.


"Iya, tuan muda. Ada yang tuan muda butuhkan?"


"Aku mau makan kue blueberry."


"Apa?"


Bukannya tuan muda tidak suka kue? Apalagi memakan kue saat malam-malam begini? batin Pak Bagus.


"Aku mau makan kue blueberry, Pak."


"Ah, iya. Tunggu sebentar ya." Ryan pun menunggu di meja makan. Tidak biasanya Ryan menunggu di meja makan. Biasanya, Ryan selalu makan di kamar sehingga makanannya selalu dibawakan ke kamar.


"Pak Eko." panggil Pak Bagus.


"Iya, Pak. Ada apa?" tanya Pak Eko.


Pak Eko adalah chef professional yang sudah lama bekerja di sebuah cafe terkenal. Tidak hanya itu, ia beberapa kali diundang sebagai chef di acara-acara VVIP untuk para konglomerat. Ia bisa membuat jenis makanan apa saja dan berani mencoba membuat menu baru. Ia memilih resign dari pekerjaannya sebagai chef di cafe karena gajinya sebagai chef di rumah ini sekitar 3 kali lipat daripada di cafe. Pak Eko sudah berusia 52 tahun, tentu saja ia memilih untuk bekerja di rumah Tuan Besar Jonathan daripada di cafe karena ia akan segera pensiun juga nantinya.


"Ryan ingin dibuatkan kue blueberry, apa bapak bisa?" tanya Pak Bagus.


"Tentu. Saya ambil dulu bahannya, ya." sahut Pak Eko dan dijawab anggukan dari Pak Bagus. Setelah 15 menit, Pak Eko membawakan kue itu ke Ryan yang sedang menonton TV.


"Tuan muda, ini kuenya."


"Jangan bercanda, bapak 'kan selalu memanggil saya Ryan sejak kecil. Terimakasih ya, Pak." Ryan pun memakan kue itu dan ternyata rasanya memang enak.


"Bagaimana rasanya?" tanya Pak Eko.


Ternyata kue itu memang enak rasanya tapi sepertinya kemanisan. batin Ryan.


"Enak banget, Pak. Apa bapak pernah bikin kue ini juga di cafe?" tanya Ryan.


"Tidak pernah. Bapak pernahnya bikin buat istri bapak dulu sebelum kami menikah." jawab Pak Eko.


"Oh." sahut Ryan sambil tetap memakan kue itu.


"Ryan, apa kamu sekarang jadi suka kue?" tanya Pak Eko dengan raut wajah yang kebingungan.


"Hah? Oh, tidak. Ini karena Bapak yang bikin jadi saya suka." sahut Ryan.


"Ryan, apa kamu ingat saat kamu kecil kamu tidak ingin makan kue ulang tahunmu?" tanya Pak Eko.

__ADS_1


"Ah, bapak tidak perlu membuatku ingat lagi kejadian memalukan itu." jawab Ryan sambil menyuap suapan terakhir kue itu ke dalam mulutnya.


"Haha. Yasudah kalau begitu. Kamu juga sudah selesai makan. Biar bapak cucikan piringnya." sahut Pak Eko.


"Pak, maaf ya malam-malam gini minta kue blueberry. Jadi ngerepotin bapak. Biar Ryan cuci sendiri ya piringnya." kata Ryan.


"Baiklah kalau itu maumu. Bapak pergi dulu ya." ucap Pak Eko. Ryan pun mencuci piringnya dan kembali ke kamarnya untuk belajar lalu tidur.


...****************...


Hari ini adalah Hari Minggu, hari untuk beribadah kepada agama yang dianut masing-masing. Leo mengajak Ryan untuk berangkat bersama ke gereja karena mereka berdua beragama Kristen. Hampir semua murid SMA Tunas Bangsa II memang beragama Kristen.


"Permisi, Pak Herman. Ryan dimana, ya?" tanya Leo.


"Tuan muda ada di kamarnya." jawab Pak Herman.


"Ok. Terimakasih ya, Pak." sahut Leo. Ia pun menaiki tangga melingkar untuk ke kamar Ryan.


Tok...Tok...Tok...


"Ryan, ini gua, Leo. Gua masuk, ya?" kata Leo. Leo langsung masuk begitu saja.


"Leo! Apaan sih main masuk gitu aja lu." kata Ryan.


"Udah siap belum lu?" tanya Leo.


"Bentar, gua mandi dulu, ya." jawab Ryan. Ia menuju ke kamar mandi dan mandi.


"Bener-bener nih anak. Untung gua datang pagian. Kalau gak kita bisa telat ke gereja." ucap Leo pada dirinya sendiri. Tak lama kemudian, Ryan keluar dari kamar mandi.


"Hadeh. Udah ayo buruan naik mobilnya Pak Herman udah nungguin tuh." sahut Leo.


"Lah, bukannya hari ini lu yang nyetir?" tanya Ryan.


"Iya, tadinya sih gua maunya begitu. Tapi, Pak Herman minta ikut juga katanya buat ngawasin lu supaya tetap aman." jawab Leo.


"Aduh. Gua gamau dia ikut." balas Ryan.


"Udahlah, bro. Dia juga 'kan cuma jalanin pekerjaan dia aja jadi sekretaris pribadi lu. Kasian kalau dia gak ikut terus lu kenapa-napa bisa-bisa dia dipecat." sahut Leo.


"Maksud lu, lu doain gua kenapa-napa?" tanya Ryan tidak terima.


"Bukan gitu. Cuma ya gua 'kan juga ga bisa tanggung jawab penuh kalau lu kenapa-napa." sahut Leo.


"Ah, yaudahlah. Terserah Pak Herman aja." balas Ryan.


Selama di perjalanan menunggu gereja, suasana di mobil sungguh hening. Pak Herman fokus menyetir, Leo mendengarkan musik menggunakan earbuds nya, sementara Ryan hanya diam sambil menyandarkan kepalanya di kursi belakang.


Mereka pun masuk ke gereja. Untungnya, mereka sampai 10 menit sebelum pujian dimulai.


"Ryan, buruan duduk di sini!" ajak Leo. Kursi sudah hampir terisi penuh. Hanya tersisa tiga barisan dari belakang saja. Leo buru-buru mengambil tempat supaya mereka bisa duduk dan tidak berdiri di belakang.


"Iya." sahut Ryan.

__ADS_1


"Lihat nih ya, Ryan. Bangkunya udah hampir penuh. Lain kali mandi duluan makanya biar kita cepat sampai dan kebagian tempat duduk. Emang lu mau berdiri disana selama 2 jam?" ucap Leo tegas kepada Ryan.


"Ih. Ya santai dong, bro. Iya deh lain kali gua mandi duluan, mak bawel." jawab Ryan.


"Apa lu bilang?" Leo merasa tidak terima dengan ucapan Ryan yang memanggilnya mak bawel.


"Gak. Gak ada." jawab Ryan. Mereka pun mengikuti pujian dan mendengarkan khotbah dari pak pendeta dengan saksama. Pak Herman tidak ikut dan hanya menunggu di ruang tunggu yang terpisah dari ruang kebaktian karena ia beragama Islam. Setelah kebaktian selesai, Ryan pergi ke toilet.


"Woi, Leo. Gua mau ke toilet dulu, ya. Lu tunggu aja sama Pak Herman disana." kata Ryan.


"Enak aja lu. Gua ikut. Gua juga mau ke toilet." balas Leo.


"Yaudah. Ayo!" ajak Ryan. Mereka ke toilet bersama. Tapi, toiletnya antri dan juga sudah agak ramai. Leo dapat antrian terlebih dahulu dari Ryan sehingga ia keluar dari toilet duluan. Tanpa sengaja, ia bertemu Dinda. Ia dan Dinda berbincang sebentar sembari menunggu Ryan keluar dari toilet yang ramai itu. Ryan keluar dari toilet setelah selesai dan melihat Leo bersama Dinda.


Apa? Apa Leo dan gadis itu sudah janjian akan bertemu disini setelah kebaktian selesai? Ryan berprasangka bahwa Leo sudah janjian terlebih dahulu dengan Dinda sehingga ia tidak mau menganggu pembicaraan mereka berdua. Ryan langsung pergi dari sana dan menemui Pak Herman.


"Tuan muda. Dimana Tuan Leonard?" tanya Pak Herman.


"Dia.." Ryan belum selesai berbicara tetapi Leo sudah berada di hadapan mereka.


"Ryan. Pak Herman." kata Leo.


"Halo, Tuan Leonard." balas Pak Herman.


"Bapak tidak perlu memanggilku begitu. Panggil saja Leo." sahut Leo.


"Ehem, apa kita bisa pulang sekarang?" tanya Ryan menyela.


"Baik, tuan muda." sahut Pak Herman. Pak Herman pun mengantarkan Ryan dan Leo ke mobil.


"Silahkan masuk, tuan muda." Pak Herman membukakan pintu untuk Ryan.


"Terimakasih, Pak." sahut Ryan.


"Silahkan, Tuan Leonard." Pak Herman membukakan pintu untuk Leo juga.


"Terimakasih, Pak Herman." sahut Leo.


"Leo." panggil Ryan.


"Ya?" sahut Leo.


"Kamu tadi berbicara dengan siapa?" tanya Ryan.


"Dinda lah siapa lagi." jawab Leo.


"Kalian janjian buat ketemu disana?" tanya Ryan. Leo tidak menjawab.


"Terus? Apa yang kalian bicarakan?" tanya Ryan lagi.


"Um.. Rahasia." jawab Leo.


Yang benar saja. Apa mereka akrab? batin Ryan.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2