
Sore hari di kantin
“Kamu mau minum apa?” tanya Ryan.
“Air putih aja,” jawab Dinda.
“Kalau makannya?” sahut Ryan.
“Gak usah, aku gak laper,” balas Dinda.
“Mbak, pesen botol air putihnya dua ya,” kata Ryan.
“Iya, ini,” sahut Mbak itu sambil memberikan dua botol air putih itu kepada Ryan.
“Ini, Mbak,” kata Ryan sambil menyerahkan uangnya.
“Makasih, ya, Dek," sahut Mbak itu.
“Iya, makasih juga, Mbak,” balas Ryan sopan.
“Ini minumannya,” kata Ryan sambil memberikan satu botol minuman kepada Dinda.
“Makasih,” sahut Dinda yang kemudian langsung membuka dan meminumnya.
“Kamu tau gak?” tanya Ryan.
“Apa?” sahut Dinda sambil menghadapkan wajahnya ke arah Ryan.
“Kamu paling cantik kalau lagi minum,” jawab Ryan sambil tersenyum.
“Apaan sih kamu!” seru Dinda yang malu karena di kantin ada beberapa orang yang melihat ke arah mereka.
“Aku serius, Sayang,” sahut Ryan sambil tersenyum.
“Kamu gombal mulu,” balas Dinda yang langsung pergi dari sana.
“Iya, sebenernya kamu selalu cantik sih. Mau lagi makan, minum, kalau lagi senyum apalagi,” kata Ryan setelah mereka berdua akhirnya duduk di tangga dekat kantin. Tangga itu cukup sepi saat sore hari.
“Ri, kamu gak bilang ini supaya aku puji balik, ‘kan?” tanya Dinda sambil menatap wajah Ryan.
“Engga kok. Aku cuma mau bilang sesuatu,” jawab Ryan.
“Ada apa?” sahut Dinda.
__ADS_1
”Gak peduli apa yang akan terjadi nanti, aku bakal tetep sayang sama kamu. Selama kamu gak tinggalin aku tanpa alasan, aku gak akan lepasin kamu. Jadi, aku mau tau perasaan kamu yang sebenernya. Kamu sayang gak sama aku?” tanya Ryan sambil meraih kedua tangan Dinda.
“Ri, aku gak bakal tinggalin kamu kecuali kalau kamu duluan yang tinggalin aku,” sahut Dinda. Ia tidak mengerti kenapa Ryan tiba-tiba menanyakan ini, tetapi ia tidak mau mempermasalahkan hal ini.
"Beneran?" tanya Ryan sambil mengelus rambut pacarnya itu. Dinda pun mengangguk sebagai jawaban.
“Dan… Iya, aku sayang kamu, Ri,” jawab Dinda sambil berusaha untuk menatap wajah Ryan saat ini karena sebenarnya ia malu dan wajahnya juga memerah.
“Makasih, Sayang,” sahut Ryan yang langsung memeluk Dinda karena ia tahu kekasihnya saat ini begitu malu.
"Makasih juga, Sayang," bisik Dinda pelan sambil membalas pelukan Ryan.
"Mau aku anter pulang?" tanya Ryan setelah beberapa saat mereka berpelukan.
"Boleh," jawab Dinda.
"Ayo!" ajak Ryan sambil menggandeng tangan Dinda.
******
Malam hari di kamar Ryan
“Leo?” tanya Ryan saat melihat Leo masuk ke kamarnya.
“Lagi ngapain, Bro?” tanya Leo. Sebenarnya, Leo tidak ingin langsung masuk seperti saat ini. Tetapi ia sudah beberapa kali mengetuk pintu dan tidak mendapat jawaban meskipun Pak Hendra bilang Ryan ada di dalam kamar. Jadi, ia memutuskan untuk langsung masuk saja.
“Bisalah,” sahut Ryan sambil meneruskan permainannya.
“Kenapa? Suasana hati kamu lagi baik?” tanya Leo penasaran karena melihat sepupunya itu bermain sambil senyum-senyum sendiri.
“Iya,” jawab Ryan tanpa menatap Leo.
“Abis kencan sama Dinda?” tanya Leo yang berusaha menebak alasan dibalik tingkah aneh Ryan malam ini.
“Iya, tapi kali ini lebih dari itu,” jawab Ryan.
“Hah?” tanya Leo bingung.
“Kenapa dateng ke sini?” tanya Ryan.
“Aku mau nginep di sini,” jawab Leo.
“Nginep? Yaudah, di kamar yang biasa…” kata Ryan.
__ADS_1
“Bukan, di kamar ini aja sama kamu,” sela Leo.
“Kamu dateng ke sini pasti bukan buat nginep doang, ‘kan?” sahut Ryan sambil memberikan tatapan curiganya kepada Leo.
“Iya, aku dateng buat belajar bareng. Tapi kamu malah lagi main video games,” jawab Leo sambil menaikkan bahunya dan mengangkat kedua tangannya.
“By the way, kapan kamu belajar main sampe jadi sehebat itu?” tanya Leo.
“Satu jam yang lalu,” jawab Ryan.
“Hah? Kamu belajar satu jam langsung ngerti?” tanya Leo kaget.
“Memangnya kamu belajar berapa lama?” sahut Ryan.
“Ehem, waktu itu sih 3 minggu,” jawab Leo pelan.
“Ooo,” balas Ryan.
“Tadi apanya yang lebih?” tanya Leo.
“Apa?” sahut Ryan.
“Kencan kamu sama Dinda,” jawab Leo.
“Kamu yakin mau tau?” tanya Ryan sambil meletakkan peralatan video gamesnya.
“Iya, aku mau tau,” jawab Leo.
“Jadi, tadi sepulang sekolah aku sama dia ketemuan di taman. Abis itu, kami main basket bareng. Terus kami juga minum bareng, ngobrol bareng, sama pulang bareng,” jelas Ryan sambil menuju ke arah meja belajarnya.
“Itu aja? Apanya yang lebih?” tanya Leo bingung.
“Memangnya otak kamu itu pikirin apa sih?” sahut Ryan sambil menjitak kening Leo.
“Dinda peluk kamu?” tanya Leo.
“Kalau iya, kenapa?” balas Ryan.
“Jadi, itu yang spesial?” tanya Leo memastikan.
“Selama aku bersama dengannya, itu udah spesial,” jawab Ryan sambil mendudukkan dirinya di kursi.
“Iya, terserah kamu aja,” sahut Leo.
__ADS_1
“Katanya mau belajar bareng, ‘kan? Ayo!” ajak Ryan sambil menyuruh Leo untuk mengambil kursi dan duduk di sampingnya.
Bersambung……