Ketos Tampan Itu, Kekasihku

Ketos Tampan Itu, Kekasihku
Kartu Undangan Pernikahan


__ADS_3

Malam hari di kamar Ryan


Tok... tok... tok...


"Ryan, ini Cici," kata Priscilla dari luar pintu kamar Ryan.


"Hmm, masuk aja, Ci," sahut Ryan.


"Kamu lagi ngapain?" tanya Priscilla yang melihat Ryan sedang serius menatap ke arah bukunya.


"Belajar," jawab Ryan sambil menunjuk ke arah buku tulisnya. Ia sudah mengerjakan beberapa soal matematika.


"Ryan," panggil Priscilla dengan nada yang antusias. Ia bahkan menggeser buku tulis Ryan supaya Ryan bisa lebih fokus mendengarkannya.


"Kenapa, Ci?" tanya Ryan sambil menatap Cicinya sekilas.


"Cici mau kasih ini," sahut Priscilla sambil memberikan kartu undangan pernikahan ke tangan adiknya itu. Ryan segera membuka plastiknya dan melihat isi kartu tersebut.


"Ehem, ada yang mau nikah minggu depan, ya," kata Ryan dengan nada mengejek.


"Ryan!" seru Priscilla.


"Iya, ini kenapa Cici kasih tiga undangan?" tanya Ryan yang langsung mengalihkan topik pembicaraan.


"Satu buat kamu, satu buat Leo, satunya lagi buat Dinda," jawab Priscilla.


"Buat Dinda?" tanya Ryan sambil mengangkat kedua alisnya.


"Kenapa? Kamu gak mau ajak pacar kamu?" sahut Priscilla.


"Bukan, tapi Papa 'kan gak setuju," jawab Ryan.


"Tunggu, Cici tau darimana dia pacar aku?" tanya Ryan penasaran.


"Kamu itu saudara Cici! Jadi, Cici pasti tau kalau kamu pacaran," kata Priscilla.


"Kenapa? Kamu gak mau kasih tau Cici sampe Cici harus cari tau sendiri?" tanya Priscilla sambil menatap tajam kedua mata Ryan.

__ADS_1


"Bukan, tapi aku belum izin ke Dinda," jawab Ryan sambil menghela napasnya.


"Iya, baguslah kalau kamu tau sopan santun. Bilang ke Dinda, Cici udah tau sendiri kalau dia itu pacar kamu. Kamu harus suruh dia dateng pokoknya," kata Priscilla sambil menepuk pundak Ryan lalu beranjak pergi dari kamar adiknya itu.


"Iya, nanti aku tanyain ke dia," sahut Ryan sambil tersenyum. Ia segera mengambil ponselnya yang terletak di atas meja. Namun, saat ia mau menelepon pacarnya, Alvaro tiba-tiba sudah meneleponnya duluan.


"Halo, Bro," sapa Alvaro.


"Hai, kenapa?" tanya Ryan.


"Kamu udah dapet undangannya, 'kan?" tanya Alvaro memastikan.


"Udah, congrats, ya," jawab Ryan sambil tersenyum.


"Kamu bakal dateng sama pacar kamu?" sahut Alvaro.


"Aku baru mau tanyain ke dia," balas Ryan.


"Ryan, aku ga sabar liat Cilla pake gaun pengantin," kata Alvaro sambil tersenyum.


"Hmm, Koko tunggu aja minggu depan. Ntar Koko pasti puas sama penampilan Ci Cilla pas pake gaun pengantin," sahut Ryan.


"Hmm," kata Ryan.


"Kamu sama pacar kamu itu bentar lagi mau naik kelas, 'kan? Jangan lupa belajar!" seru Alvaro mengingatkan.


"Iya, aku udah belajar tadi," sahut Ryan.


"Yaudah deh, Koko masih ada urusan, bye," kata Alvaro yang langsung mematikan panggilan teleponnya. Ryan menggelengkan kepalanya pelan lalu ia langsung melakukan panggilan video dengan Dinda.


"Halo, Sayang," sapa Ryan sambil melambaikan tangan kirinya. Ia bisa melihat Dinda sudah duduk di ranjangnya saat ini.


"Halo juga, Sayang," jawab Dinda sambil tersenyum.


"Aku mau ngomongin sesuatu," kata Ryan.


"Iya, kamu ngomong aja," sahut Dinda.

__ADS_1


"Cici aku udah tau kamu pacaran sama aku. Minggu depan, dia mau nikah. Dia suruh aku kasih undangan ini ke kamu," kata Ryan sambil mengangkat kartu undangan itu.


"Oke, Sayang. Nanti aku bakal dateng," balas Dinda.


"Makasih, Sayang," kata Ryan sambil tersenyum.


"Besok mau belajar bareng gak?" tanya Ryan sambil mengangkat kedua alisnya.


"Hah?" sahut Dinda bingung.


"Belajar bareng di perpus pas istirahat, kita 'kan bentar lagi ada ujian," jawab Ryan.


"Oke, kita ketemu besok pagi ya pas istirahat," kata Dinda.


"Oke, Sayang," balas Ryan. Mereka berdua diam untuk beberapa saat sampai Dinda mulai merasa ngantuk.


"Aku udah mau tidur, kamu gimana?" tanya Dinda.


"Aku belum mau tidur, tapi kalau kamu mau tidur, good night, Sayang," jawab Ryan.


"Night too," sahut Dinda. Ryan baru saja mau mematikan panggilan videonya dengan Dinda, namun Dinda memanggilnya lagi.


"Sayang," panggil Dinda.


"Hmm, kenapa, Sayang?" sahut Ryan.


"Kamu jangan tidur malem-malem. Nanti besok kamu ngantuk," jawab Dinda mengingatkan.


"Iya, Sayang. Kalo gitu aku tidur sekarang, ya," kata Ryan. Ia langsung berjalan ke arah kasurnya dan mulai berbaring di atas sana.


"Kamu juga jangan taro HP di deket ranjang, nanti bisa kena radiasi," lanjut Ryan sambil tersenyum.


"Iya, aku tau," balas Dinda pelan. Ia sudah sangat mengantuk sampai kedua matanya mulai menutup sendiri.


"Kamu udah ngantuk. Yaudah, aku tutup ya teleponnya. Bye, Sayang," kata Ryan sambil melambaikan tangannya.


"Bye," sahut Dinda. Setelah Ryan mematikan panggilan video itu, Dinda segera menaruh HP-nya di meja yang jaraknya cukup jauh dari kasurnya supaya ia tidak terkena radiasi. Setelah itu, Dinda kembali naik ke kasurnya dan tertidur.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2