Ketos Tampan Itu, Kekasihku

Ketos Tampan Itu, Kekasihku
Clarissa Dirundung Lagi dan Ajakan Untuk Bertaruh


__ADS_3

"Angel." panggil Ica.


"Jadi, gimana? Udah kalian labrak anak baru itu?" tanya Angel antusias.


"Belum sih, soalnya tadi ada Rangga yang belain anak baru itu." jawab Belinda.


"Tau tuh si Rangga sok-sok belain padahal bisa aja si anak baru cuma sok alim doang." sahut Mellisa.


"Udah. Sekarang kita harus pikirin cara kerjain anak baru itu tanpa ada yang belain." seru Ica.


"Hmm.. Apa ya kira-kira? Aha! Gua tau!" celetuk Karen.


"Apa tuh?" tanya Mellisa penasaran dengan ide sahabatnya itu.


"Apaan, Ren?" tanya Angel semakin antusias.


"Kalian tenang aja. Gua bakal persiapin mulai sekarang." sahut Karen. Ia pun mengambil ponsel dari saku hoodienya lalu menelepon seseorang.


...****************...


Tok.. Tok.. Tok..


"Clar, ini papa. Papa boleh masuk?" tanya Revan.

__ADS_1


"Iya, Pa." sahut Clarissa.


"Clar, gimana perasaan kamu selama ini sekolah di SMA Tunas Bangsa II? Apa kamu senang, Nak?" tanya Revan kepada anak semata wayangnya itu.


"Um.. Iya, Pa. Belakangan ini, Clar senang sekali." jawab Clarissa sambil tersenyum.


"Oh, ya? Lalu, apa kamu berteman dengan Ryan?" tanya Revan penasaran.


"Itu.. iya. Tapi, kami tidak akrab." sahut Clarissa.


"Oh. Kamu akrab dengan siapa?" tanya Revan.


"Dinda, Rangga, Ayu, Amanda, Budi, dan Samuel." sahut Clarissa.


"Itu.. itu tidak mudah, Pa. Ryan selalu dikerubungi oleh para siswi dari pagi sampai sore. Bahkan, ia sendiri sering kewalahan menghadapi para siswi yang tiada hentinya ingin meminta foto, tandatangan, dan juga ingin selalu berada di samping Ryan. Lebih lagi, ia adalah Ketua OSIS. Pasti banyak beban yang harus ia tanggung sebagai Ketua OSIS." jawab Clarissa.


"Clar, papa paham kamu memang pengertian. Tapi, kamu menyukainya juga, bukan? Kalau kamu menyukainya, kejarlah dia sampai dia hanya melihatmu seorang." kata Revan sambil tersenyum tipis.


"Ti-tidak kok, Pa. Aku tidak menyukainya." sahut Clarissa yang juga agak terkejut dengan apa yang barusan papanya bilang.


"Hahaha. Baiklah. Kamu bisa meminta tips kepada papa jika kamu memang menyukai Ryan." sahut Revan.


"Apa maksud papa? Kenapa papa menanyai Ryan? Huh.." ucap Clarissa saat papanya sudah keluar dari kamarnya.

__ADS_1


...****************...


"Hei, anak baru! Tidak disangka kita akan bertemu lagi disini." seru Karen. Clarissa yang kesal pun ingin segera pergi saja dari mereka berlima tetapi tubuhnya terasa lemas bahkan hanya untuk berjalan saja.


"Oh, hai anak baru. Mau lari kemana kamu?" tanya Angel saat melihat Clarissa sepertinya sudah siap mengambil langkah untuk melarikan diri.


"Santai, anak baru. Pelan-pelan saja. Tidak mudah untuk lepas dari kami. Hahahaha." sahut Mellisa sambil tertawa yang tentunya itu adalah tertawa jahat. Angel pun mendorong Clarissa sampai ia terjorok diatas aspal dan membuat pakaian Clarissa menjadi kotor.


"Kamu kok kotor dan bau sih, ew. Mandi sana, bau!" sindir Angel. Clarissa hanya berdecak kesal. Sebenarnya, Clarissa bisa membela diri. Ia bahkan sudah lulus mengikuti kursus taekwondo. Namun, ia tidak ingin mencari masalah karena ia masih baru di sekolah SMA Tunas Bangsa II.


"Lihat anak baru ini, sungguh tidak punya harga diri." sahut Belinda. Pernyataan Belinda tentang dirinya sungguh keterlaluan! Clarissa sudah tidak tahan dengan ucapan Belinda barusan yang setajam silet. Ia pun akhirnya memilih menantang mereka berlima.


"Menurut kalian, kalian itu hebat? Kalian mau bertaruh?" tanya Clarissa mulai panas.


"Apa? Bertaruh dengan siapa?" tanya Belinda mengejek.


"Bertaruh denganmu anak baru?" tanya Angel tertawa terbahak-bahak.


"Oh, lihat anak baru ini! Kamu semakin tidak tahu diri, ya!" ejek Mellisa.


"Oke. Mau taruhan apa kamu sama kami anak baru?" tanya Ica sambil tersenyum tipis mengejek.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2