
"Oke. Bagaimana jika aku bisa membuat masa depanmu menjadi lebih baik? Apa kamu mau menerima tawaranku?" tanya Alexa.
"Masa depan apa? Apa yang akan kamu lakukan untuk itu?" sahut Clarissa.
"Aku bisa membantumu kembali bersama Ryan. Bagaimana? Kamu mau?" tanya Alexa.
"Gak, makasih," jawab Clarissa tegas.
"Oke, kamu boleh pergi sekarang," kata Alexa sambil tertawa. Clarissa segera melangkah keluar dari rumah itu.
"Clarissa! Kamu pikir kamu berhak melawanku?" jerit Alexa sambil menjambak rambutnya sendiri. Rey yang melihat nona mudanya sudah sangat frustasi dan putus asa juga merasa bingung harus bagaimana lagi.
“Rey!” panggil Alexa yang masih duduk di sofa sejak tadi.
”Iya, Nona muda,” sahut Rey.
”Hancurkan Clarissa!” perintah Alexa.
”Clarissa… yang tadi Anda ajak kemari, Nona muda?” tanya Rey memastikan.
“Iya!” seru Alexa.
“Baik,” kata Rey. Ia hendak melangkah pergi dari sana. Namun, baru dua langkah ia langsung berbalik lagi ke posisinya semula sambil menggaruk kepalanya.
”Nona muda, Anda ingin saya hancurkan lewat apa?” tanya Rey memberanikan diri bertanya.
__ADS_1
“Aduh! Kamu ini kenapa masih nanya lagi? Hancurkan perusahaan Papanya!” jawab Alexa setengah berteriak.
“Dengan cara apa, Nona muda?” tanya Rey.
“Apa saja! Intinya, buat Clarissa hancur supaya dia tau apa akibat dari melawanku!” perintah Alexa.
“Ba-baik, saya pergi dulu,” kata Rey gugup. Ia segera berlalu dari sana untuk menjalankan perintah Nona mudanya.
“Ah! Aku pusing sekali!” teriak Alexa. Ia segera menghubungi Leo.
********
Malam hari di ruang tamu Alexa
”Bantu aku,” kata Alexa pelan.
”Atas dasar apa aku harus membantumu?” tanya Leo sambil menatap tajam ke arah foto masa SMP Alexa yang terpajang di ruang tamu itu.
"Perasaanmu padaku, apakah masih tersisa sekarang?” tanya Alexa yang mulai melenceng dari topik pembicaraan.
“Kamu berharap terlalu banyak,” jawab Leo sambil tersenyum. Namun, senyumnya terlihat bukan senyuman kebahagiaan. Mungkin itu adalah senyum kekecewaan.
”Aku akan terus berharap dan mencoba sebisaku,” kata Alexa.
“Kamu bukan hanya berharap dan mencoba sebisamu, tapi kamu akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang kamu mau,” sahut Leo.
__ADS_1
“Haha. Kamu mengenalku dengan sangat baik, ya?” tanya Alexa sambil tertawa.
“Bagaimana tidak? Kamu yang memaksaku begitu selama ini,” kata Leo sambil menghela napasnya.
“Kali ini, aku juga akan memaksamu seperti waktu itu. Jadi, bersiaplah!” teriak Alexa antusias.
“Kenapa kamu selalu antusias terhadap hal-hal yang akan merugikan dirimu dan orang lain?” tanya Leo.
“Kamu udah tau siapa aku, jadi tidak perlu banyak tanya. Mau bantu atau tidak?” tanya Alexa dengan tatapan mata sendu. Ia berharap Leo bisa kasihan padanya dan setuju untuk membantunya.
“Kalaupun aku bilang tidak, kamu pasti akan menghancurkanku, ‘kan?” sahut Leo.
“Kamu memang pintar! Kenapa dulu aku lebih menyukai Ryan dari pada kamu?” tanya Alexa sambil menepuk bahu Leo tiga kali.
“Lexa, membahas masa lalu tidak ada gunanya lagi sekarang. Dan jika kamu memintaku untuk menghambat hubungan Ryan dan Dinda, aku tidak bisa melakukan itu,” kata Leo dengan tegas sambil menatap tajam pada Alexa. Tatapan mata Leo yang tajam bisa membuat siapapun gemetar saat ditatap olehnya.
“Kenapa? Ka-kamu juga suka sama Dinda?” tanya Alexa gugup.
“Gak ada urusannya sama kamu,” jawab Leo.
“Ingat, jangan buat sesuatu yang akan kamu sesali nanti!” seru Leo mengingatkan. Setelah mengatakan apa yang harus ia katakan, ia segera berlalu pergi dari sana.
“Menyebalkan!” gerutu Alexa sambil menghentakkan kaki kanannya ke lantai. Kenangannya kembali pada kejadian sekitar dua tahun yang lalu di mana Leo adalah orang pertama yang begitu baik padanya. Namun, sejak ia tahu kalau Leo punya sepupu yang dingin, yaitu Ryan, Alexa menjadi penasaran. Ia mulai mendekati Ryan secara perlahan-lahan tanpa sepengetahuan Leo.
Bersambung……
__ADS_1