Ketos Tampan Itu, Kekasihku

Ketos Tampan Itu, Kekasihku
Pernyataan Ryan


__ADS_3

"Ayo kita pergi!" kata Ryan sambil menarik tangan Clarissa supaya menjauh dari sana.


"Apa mereka akan bolos?" tanya salah seorang murid.


"Wah, beruntung sekali anak baru itu." sahut murid lainnya.


"Apa Ryan menyukainya?" timpal murid lain.


"Alexa!" teriak Angel. Alexa yang malas berurusan dengan Angel langsung memutar kedua bola matanya lalu berbalik badan menghadapnya.


"Ada apa, putri Angeline?" tanya Alexa sambil tersenyum.


"Kamu sengaja?" sahut Angel.


"Apa? Aku tidak paham maksudmu." balas Alexa.


"Entah apa yang sudah kamu rencanakan. Aku kasih tau kalau itu tidak akan berhasil!" tegas Angel.


"Dari mana kamu bisa yakin kalau rencanaku tidak akan berhasil?" sahut Alexa tidak terima.


"Aku bisa melihat dari sorot mata Ryan, dia sama sekali tidak tertarik padamu. Sekarang, kamu membuatnya marah. Apa lagi yang akan kamu lakukan untuk menarik perhatiannya?" cetus Angel.


"Huh! Kamu tidak perlu tau. Kita liat aja nanti!" hardik Alexa. Ia langsung pergi dari sana.


...****************...


"Din." panggil Ayu.


"Kenapa kok muka kamu sedih gitu?" tanya Ayu.


"Gapapa kok." jawab Dinda.


"Kenapa? Kamu masih kebayang sama kejadian tadi pagi?" tanya Ayu cemas.


"Engga, tapi.." jawab Dinda.


"Ah, udahlah. Kamu gak usah pikirin itu, ya." sela Ayu. Dinda hanya mengangguk.


...****************...


Malam hari di Kediaman Satrio


"Tadi itu Ryan ngajak Clarissa kemana, ya?" tanya Dinda dengan segala rasa penasarannya yang belum terjawab.


"Dinda, kamu itu ngapain sih mikirin dia? Inget kata Ayu. Gak usah pikirin." kata Dinda pada dirinya sendiri. Namun, tiba-tiba ponselnya berdering.

__ADS_1


[Dinda] "Halo."


[Clarissa] "Halo, Din."


[Dinda] "Iya, Clar."


[Clarissa] "Kita bisa ketemu gak malam ini atau besok?"


[Dinda] "Hari ini bisa. Kamu mau ketemu jam berapa?"


[Clarissa] "20 menit lagi. Aku langsung jalan ke rumah kamu, ya."


[Dinda] "Oke."


...****************...


"Hai, Din!" sapa Clarissa yang terlihat antusias.


"Hai, Clar." sahut Dinda sambil tersenyum.


"Ini buat kamu." kata Clarissa sambil menyodorkan sebungkus plastik besar.


"Makasih, ya." sahut Dinda setelah menerimanya.


"Iya. Maaf aku dateng malem-malem." kata Clarissa.


"Begini.. Karena ini udah malem dan takutnya aku ganggu kamu, jadi aku bakal cerita singkat aja." kata Clarissa.


"Jadi, tadi Ryan bawa aku pergi ke mall.." tutur Clarissa.


Mall? Mereka beneran bolos? tanya Dinda dalam hati. Bahkan di kalimat pertama yang Clarissa ceritakan, ia sudah terlihat lemas untuk mendengar kelanjutannya.


"Terus, dia agak beda hari ini. Dia bener-bener bukan Ryan. Dia peduli banget dan ga ada muka datar dia yang kayak biasanya." sambung Clarissa. Dinda hanya mengangguk pelan.


"Tadi dia juga ajak aku makan siang dan.." jelas Clarissa. Ia melihat ke arah Dinda yang wajahnya terlihat mengantuk.


"Din." panggil Clarissa.


"Din!" panggil Clarissa lagi.


"Ah, iya." sahut Dinda.


"Kamu udah ngantuk?" tanya Clarissa.


"Engga kok. Lanjutin aja ceritanya." jawab Dinda.

__ADS_1


"Jadi, tadi dia ajak aku makan siang di restoran yang agak sepi. Terus dia bilang sesuatu sama aku." kata Clarissa.


...****************...


Flashback


"Clarissa." panggil Ryan.


"Iya." sahut Clarissa.


"Aku mau bilang sesuatu. Apa kamu bersedia mendengarnya?" tanya Ryan.


"Iya, tentu saja." jawab Clarissa.


"Aku.. Sejak awal tunangan ini direncanakan, aku tidak pernah diberitahu papa. Saat bertunangan denganmu, cincin itu.. Bukan pilihanku. Terlebih, sebenarnya, aku sudah menyukai Dinda sebelum bertunangan denganmu." tutur Ryan.


"Apa?" tanya Clarissa yang masih tidak percaya. Ia melihat ke arah cincin bermotif bunga yang ia pakai.


"Papa selalu bilang padaku cincin itu pilihanmu." gumam Clarissa dengan suara pelan yang tidak bisa didengar Ryan.


"Aku tau ini mungkin akan mengejutkanmu. Tapi, aku tidak mau menyembunyikan ini lebih lama. Kamu adalah gadis yang baik. Papa selalu menceritakan itu padaku." jelas Ryan.


"Ryan.." kata Clarissa.


"Jadi, yang terbaik adalah.. Carilah laki-laki lain diluar sana yang bisa memperlakukanmu lebih baik dari aku. Aku tidak bisa memperlakukanmu dengan baik. Aku juga tidak bisa melupakan Dinda. Maafkan aku." sela Ryan.


"Maksudmu, kamu mau kita tidak bertunangan lagi? Tapi, apa kamu pikir papa kita akan menyetujuinya?" tanya Clarissa.


"Tidak tau. Setidaknya, aku harus mencoba." jawab Ryan.


"Kamu tidak takut itu akan berbahaya?" tanya Clarissa.


"Clarissa, bukan itu yang penting sekarang. Aku menghargai pendapatmu. Bagaimana menurutmu dengan yang tadi aku katakan? Apa kamu mengizinkanku? Kalau kamu mengizinkan, aku akan melakukannya. Tidak peduli apakah papa akan menyetujuinya atau tidak." jelas Ryan.


"Kalau aku tidak mengizinkan?" sahut Clarissa.


"Aku.." kata Ryan. Ia bingung bagaimana akan menjawab pertanyaan satu ini. Clarissa tertawa melihat ekspresi bingung Ryan untuk pertama kali.


"Kenapa tertawa?" tanya Ryan.


"Tidak. Ini pertama kalinya aku melihat orang pintar bingung dalam mengambil keputusan." jawab Clarissa.


"Kamu udah yakin?" tanya Clarissa. Ryan hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Baiklah, aku mengizinkanmu. Cobalah. Semoga kamu beruntung." kata Clarissa sambil memegang kedua tangan Ryan yang ada di atas meja.

__ADS_1


"Terima kasih." sahut Ryan.


Bersambung......


__ADS_2