Ketos Tampan Itu, Kekasihku

Ketos Tampan Itu, Kekasihku
Clarissa Mencari Informasi


__ADS_3

Pagi hari di sekolah


“Clar? Tumben kamu udah dateng jam segini,” kata Amanda terkejut.


“Iya, aku udah bisa bangun lebih pagi sekarang,” sahut Clarissa sembari menaruh tasnya di kursinya.


“Oo,” balas Amanda.


“Di sini masih sepi, apa kita jalan-jalan keluar dulu aja?” tanya Amanda saat melihat ruang kelas yang kosong dan baru beberapa siswa saja yang sudah hadir. Itupun sebagian yang datang lebih pagi karena mau menyalin PR milik temannya. Amanda hanya menggelengkan kepalanya saat melihat kelakuan teman-temannya.


“Oke,” jawab Clarissa.


“Manda,” panggil Clarissa yang membuka percakapan di antara mereka.


“Hmm?” sahut Amanda.


“Udah berapa lama kamu temenan sama Dinda?” tanya Clarissa dengan nada yang seolah-olah begitu penasaran.


“Hmm… udah 6 tahun. Kenapa?” sahut Amanda.


“Gapapa,” jawab Clarissa sambil tersenyum supaya Amanda tidak mencurigainya.


“Selama 6 tahun itu, apa hubungan kalian terus baik seperti sekarang?” tanya Clarissa lagi.


“Hmm, tidak juga. Aku pernah membencinya waktu SMP dulu,” jawab Amanda apa adanya.


“Kenapa kamu membencinya? Apa Dinda berbuat salah padamu waktu itu?” tanya Clarissa yang kali ini benar-benar penasaran.


“Karena aku pikir dia yang menjebakku karena rahasiaku terbongkar sampai satu angkatan mengetahuinya saat itu. Aku salah paham padanya dan tidak mau berbicara dengannya atau mendengarkan penjelasannya sama sekali selama 3 bulan. Waktu itu, aku masih kekanak-kanakan,” jelas Amanda sambil tersenyum tipis saat mengingat masa-masa itu.

__ADS_1


“Tapi, Dinda adalah orang yang sangat baik,” imbuhnya dengan penuh penekanan.


“Belnya sudah bunyi, ayo kita masuk ke kelas!” ajak Amanda sambil menarik lengan Clarissa untuk mengikutinya masuk ke ruang kelas sebelum terlambat.


Aku belum berhasil mengetahui informasi apa pun yang bisa membuat Dinda menangis dari sahabatnya. Apa aku harus bertanya pada Dinda secara langsung? Tapi, kalau begitu, dia bisa curiga padaku, kata Clarissa dalam hati. Ia masih menimbang-nimbang tentang apa yang akan ia lakukan selanjutnya untuk dapat mengetahui apa yang bisa membuat Dinda menangis.


“Aku harus apa?” gumam Clarissa.


*****


Sore hari di taman sekolah


Kebetulan sekali aku melihatnya di sini, batin Clarissa.


“Din,” panggil Clarissa saat melihat Dinda yang sendirian berjalan-jalan di taman sekolah sepulang sekolah.


“Iya?” sahut Dinda.


"Aku lagi pengen liat bunga-bunga yang mekar," jawab Dinda sembari menunjuk ke arah bunga-bunga yang bermekaran di depannya. Dinda lalu tersenyum saat menundukkan badannya supaya ia bisa mencium aroma dari bunga itu.


"Bunganya cantik, ya?" tanya Clarissa yang ikut tersenyum setelah melihat bunga mawar yang baru saja mekar.


"Iya," jawab Dinda sambil mengangguk pelan.


“Din, kamu sebenernya suka sama Ryan gak?” tanya Clarissa yang langsung mengungkapkan maksudnya menghampiri Dinda.


“Kenapa tiba-tiba nanya tentang itu?” tanya Dinda terkejut.


“Aku cuma mau tau aja. Kamu suka Ryan, ‘kan? Kalau kalian memang saling suka, kenapa tidak pacaran?” tanya Clarissa penasaran. Siapa tahu ia bisa mengulik informasi dari bertanya langsung pada Dinda.

__ADS_1


“A-aku… tidak mau terluka untuk sementara waktu,” jawab Dinda gugup. Clarissa tetap diam untuk mendengarkan penjelasan Dinda sekalipun wajahnya terlihat kebingungan.


“Cowok yang tampan kayak dia cuma akan membuatku cemburu setiap ada cewek lain yang dekat dengannya,” kata Dinda. Ia akhirnya bisa menemukan alasan untuk menjelaskan kalimatnya yang tadi.


“Kamu benar. Ngomong-ngomong, waktu kecil kamu suka main lari-larian gak?” tanya Clarissa mengalihkan topik pembicaraan.


“Suka,” jawab Dinda.


“Waktu kamu jatuh, kamu nangis gak?” sahut Clarissa.


“Haha, tidak juga. Aku cuma meringis,” jawab Dinda sambil tertawa.


“Oo,” balas Clarissa sambil mengangguk pelan.


“Kalau kamu? Kamu menangis?” Dinda balik bertanya.


“Iya,” jawab Clarissa.


“Kamu kuat banget sampai gak nangis. Apa selama ini kamu gak pernah nangis?” tanya Clarissa


“Pernah. Tapi, aku cuma menangis di saat aku sendirian,” jawab Dinda sambil menghela napasnya.


“Kenapa? Terkadang kamu harus membagi bebanmu pada orang lain,” balas Clarissa.


“Gapapa, aku cuma gak mau repotin orang lain,” jawab Dinda sambil menunduk.


“Din, kamu bisa cerita padaku dan orang-orang yang kamu anggap dekat. Aku selalu siap untuk mendengarkanmu,” kata Clarissa meyakinkan.


“Makasih, Clar,” sahut Dinda.

__ADS_1


“Sama-sama,” balas Clarissa.


Bersambung……


__ADS_2