
Dinda sudah sampai di rumah Ryan, namun saat ia baru saja masuk ke dalam rumah itu, ia melihat Papanya dan Ci Citra sudah duduk di sofa ruang tamu bersama dengan Papanya Ryan. Ketika Dinda ingin ikut duduk bersama dengan mereka, Papanya langsung mencegahnya.
“Dinda, kamu tunggu aja di taman dulu, ya. Papa sama Om Jonathan mau bahas tentang hubungan kalian,” kata Satrio.
“Oke. Om, aku permisi dulu, ya,” kata Dinda dengan sopan.
“Iya, silakan.” Jonathan mengangguk sambil tersenyum. Setelah itu, Dinda pergi ke arah taman. Sebenarnya, taman di rumah Ryan tidak seperti sebuah taman pada umumnya, melainkan seperti sebuah taman yang ada di hotel-hotel bintang 5.
Setelah Dinda sampai di taman, ia melihat taman yang dulu pernah dirancang oleh Ryan untuknya masih sama hingga saat ini. Taman ini masih bersih seperti semula. Tidak ada satupun yang berubah, bangku besi yang panjang, lampu-lampu taman cantik yang berwarna kuning, serta bunga-bunga Mawar, Melati, dan Anggrek yang menghiasi seluruh taman itu. Kemudian, tanpa sadar Dinda meneteskan air matanya karena terharu melihat semuanya yang belum berubah setelah bertahun-tahun.
“Dinda Sayang,” panggil seseorang yang suaranya sangat Dinda kenali. Dinda segera membalikkan badannya dan ia mendapati Ryan sudah berdiri di depannya dengan memakai kemeja putih, celana panjang berwarna biru tua, dan jas berwarna biru tua serta sepatu fantovel berwarna hitam. Dinda masih mematung untuk memastikan bahwa sosok pria yang berdiri di hadapannya saat ini adalah Ryan.
“Ini aku, Sayang. Aku udah balik,” kata Ryan sambil tersenyum. Kemudian, Ryan melangkah mendekati Dinda terlebih dahulu dan memeluknya. Setelah itu, Dinda segera menghapus air matanya dan membalas pelukan tersebut.
“Kok kamu bisa balik duluan?” tanya Dinda penasaran.
“Aku 'kan udah pernah bilang, aku bakal kembali lagi buat kamu, Sayang. Apa sih yang gak bisa aku lakuin buat kamu, hmm?” balas Ryan sambil mengusap sisa-sisa air mata tunangannya.
“Siapa bilang buat aku, aku gak bilang mau kamu balik duluan,” jawab Dinda bersikap seolah-olah tidak acuh dengan kembalinya Ryan ke Jakarta.
__ADS_1
“Tapi kamu lagi peluk aku sekarang.” Ryan tersenyum sembari mengeratkan pelukannya.
“Aku kangen sama kamu. Aku kangen banget sampe aku mau pukul kamu,” kata Dinda seraya memukul pelan kedua bahu Ryan.
“Aku tau aku salah karena aku gak kasih tau kamu kalau aku udah balik duluan. Maaf, Sayang,” sahut Ryan. Ia melepaskan pelukannya dan mengelus serta merapikan rambut Dinda yang berantakan karena angin sore hari ini.
“Gak aku maafin,” jawab Dinda dengan ketus.
“Kamu yakin gak mau maafin aku?” sahut Ryan dengan wajah cemberut.
“Aku cuma bercanda, Sayang. Aku udah maafin kamu kok.” Dinda tertawa puas melihat ekspresi cemberut Ryan setelah sekian lama.
“Itu… itu karena aku cuma terharu sama taman ini yang gak berubah dari dulu,” jawab Dinda sambil tersenyum.
“Gak akan ada yang berubah, Sayang. Taman ini sama perasaan aku ke kamu, semuanya gak akan berubah,” kata Ryan.
“Semoga beneran begitu,” sahut Dinda sambil tersenyum.
“Dinda,” panggil Ryan dengan wajahnya yang mendadak menjadi serius.
__ADS_1
“Aku mau nanya, kamu mau gak nikah sama aku sekarang?” tanya Ryan sambil menatap kedua mata Dinda.
“Hah, sekarang?” sahut Dinda bingung.
“Maksud aku selama aku masih di Jakarta, Sayang,” jawab Ryan.
“Jadi, kalau aku gak mau nikah sama kamu, kamu langsung berangkat lagi ke Amerika Serikat?” tanya Dinda penasaran.
“Iya, tapi bukan itu masalahnya. Aku ‘kan mau jadi dokter, jadi aku harus kuliah sampe jenjang S3. Aku udah lulus S1 selama 4 tahun, tapi supaya bisa jadi dokter aku harus lamar lagi sampe 4 tahun. Itu juga cuma bisa dapet gelar dokter, tapi belum bisa praktik. Kalau mau ambil spesialis bedah bisa 4-6 tahun lagi,” jelas Ryan.
“Aku tau rasanya berat buat kamu nungguin aku selesai kuliah, makanya aku balik dulu ke Jakarta buat nanya langsung sama kamu. Gapapa kalau kamu mau pikir-pikir dulu, tapi jangan lama-lama, ya,” imbuh Ryan sambil tersenyum.
Ryan mengajak Dinda duduk di bangku besi panjang yang ada di dekat mereka. Dinda pun duduk sambil memikirkan dan mempertimbangkan segala risiko jika ia menikahi Ryan dan tidak menikah dengan Ryan. Setelah beberapa saat, Ryan berlutut ke tanah dan mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku jasnya. Setelah itu, ia membuka kotaknya yang berisi cincin berwarna emas dengan berlian murni dari Eropa.
“So, will you marry me? " tanya Ryan sembari menyodorkan kotak itu ke arah Dinda.
“Yes, I will,” jawab Dinda sambil tersenyum.
“Makasih, Sayang.” Ryan tersenyum kemudian ia memakaikan cincin itu pada jari manis di tangan kanan Dinda.
__ADS_1
The End