
"Mereka hanya terlihat mengobrol berdua. Tapi, kenapa hatiku terasa sakit sekali?" batin Ryan. Ia melihat dua botol minuman yang Ia pegang di tangannya.
"Ini! Minum kalau kau mau!" Ryan memberikan 1 botol minuman itu dengan kasar kepada Dinda. Lalu, Ia segera pergi sambil mengepalkan tangannya. Leo yang melihat itu merasa aneh.
"Kenapa dengannya?" tanya Leo.
"Aku juga tidak tahu." jawab Dinda sambil mengangkat bahu dan kedua tangannya.
...****************...
"Tuan muda." kata kepala pelayan di rumah Ryan.
"Bukankah sudah kubilang panggil aku Ryan? Ada apa?"
"Tuan tampak sangat kelelahan. Apa tuan muda membutuhkan sesuatu?"
"Kubilang panggil aku Ryan!"
"Iya. Ryan."
"Tidak perlu. Aku akan ke kamarku."
"Baik Ryan, Istirahatlah."
Di dalam kamar mewah bewarna keemasan, di situlah kamar tidur Ryan. Pria itu sedang memikirkan sesuatu.
"Mereka hanya bicara berdua. Kenapa hatiku bisa terasa sakit begini? Sial!"
"Kenapa kamu harus peduli, Ryan? Lagipula ini bukan urusanmu." Ia pun memutuskan untuk mandi saja.
"Ah, segarnya." kata Ryan setelah Ia keluar dari kamar mandi. Ia masih mengeringkan rambutnya yang basah dengan sebuah handuk kecil.
"Tapi kenapa mereka bisa mengobrol berdua disana?"
"Ah! Ryan apa yang terjadi padamu?" Ryan berbicara pada dirinya sendiri sambil mengacak-acak rambutnya. Ia tiba-tiba teringat tentang Alexa.
"Sial! Kenapa harus wanita itu lagi?"
"Pak Herman." teriak Ryan kepada asisten yang sudah seperti pembantu sekaligus pengawal pribadinya.
"Iya, tuan muda. Apa ada yang bisa saya bantu?"
"Panggil saja aku Ryan!"
"Baik. Ryan apa ada yang bisa saya bantu?"
"Tolong atur jadwalku. Sore besok aku ingin bertemu dengan dokter Lucy.
"Baik, Tuan muda." Ryan menatap tajam ke arahnya.
"Baik, Ryan."
"Terima kasih. Kau boleh keluar sekarang."
"Baik, Ryan."
Ryan masih memikirkan tentang kejadian tadi sore bersamaan dengan Alexa. Perasaannya benar-benar campur aduk sekarang. Ia menatap langit-langit kamarnya dan teringat tentang kenangan masa lalunya dengan Alexa.
"Ryan."
"Apa?"
"Bisakah kamu berjanji padaku?"
"Janji apa yang kau inginkan dariku?"
"Untuk hanya melihatku seorang saja. Tunggu kita lebih dewasa setelah itu kita menikah, ya?"
"Hmm."
"Terimakasih sayang."
"Ah. Apa aku sudah gila! Kenapa aku memikirkan hal itu lagi?"
"Jika aku belum juga melupakannya, apa aku masih menyimpan perasaan kepadanya?"
"Tidak mungkin! Aku tidak mau berhubungan lagi dengannya."
Ryan mulai lelah. Ia akhirnya tertidur pulas.
Tok... tok... tok...
"Tuan muda."
"Tuan muda. Bangunlah. Anda bisa telat ke sekolah hari ini."
"Hoamm. Apa?"
"Bangun tuan muda. Sekarang sudah pukul 6:15."
"Apa! Masuk!"
"Tuan muda, ini sarapanmu."
"Tolong bungkus itu. Aku akan mandi sekarang. Kau siapkan saja mobil BMW."
"Apa saya boleh mengantarkan Anda ke sekolah tuan muda?"
"Kenapa? Aku kan bisa menyetir sendiri!"
"Saya paham tuan muda. Tapi..."
"Baiklah. Untuk hari ini saja. Dan berhenti panggil aku tuan muda."
"Baik, Ryan."
Selesai mandi, Ryan langsung buru-buru pergi ke sekolah dengan raut wajah panik. Sekalipun sekolah itu sebenarnya adalah sekolah milik Orangtuanya, Ia tetap tidak boleh melanggar peraturan sekolah. Orang yang duduk di belakang kemudi melajukan mobil dengan kecepatan penuh supaya tuan mudanya itu tidak terlambat.
"Pak Herman."
"Iya tuan muda?"
__ADS_1
"Ryan. Apa susahnya memanggil nama Ryan?"
"Iya, Ryan. Apa ada yang bisa saya bantu?"
"Nanti tolong jemput aku jam 5 sore di lobi depan. Aku ada rapat OSIS hari ini."
"Baik. Saya mengerti."
...****************...
Kring...kring... kring...
"Din!" ada seseorang yang memanggil Dinda dari kejauhan sambil melambaikan tangannya dan tersenyum lebar.
"Leo!"
"Apa kita bisa makan bersama?" tanya Leo.
"Ah, aku hanya bosan jika makan sendiri. Samuel hari ini sakit dan Budi selalu bersama Amanda jadi aku tidak punya teman untuk diajak makan lagi." kata Leo sambil tersenyum berusaha mencairkan suasana.
"Itu.." Dinda masih ragu.
"Tentu saja bisa." giliran Ayu yang menyela pembicaraan mereka.
"Ayu!" Dinda bicara sambil memukul sahabatnya itu.
"Haha. Apa! Sakit tahu!"
"Baik. Ayo." Leo mengajak Dinda untuk makan berdua di kantin.
"Ehem. Cie..Cieeee. Ada pasangan baru lagi, nih." pekik Ayu dari kejauhan.
...****************...
"Wowww!" terjadi kerusuhan di kantin.
"Apa itu tadi? Keren sekali!"
"Aaaa aku benar-benar bisa meninggal sekarang."
"Wah. Dia memang luar biasa."
Itu adalah Ryan. Ia memang selalu menjadi pusat perhatian dimanapun Ia berada. Kali ini, Ia diminta bermain gitar sambil bernyanyi oleh teman cowonya, Bryan, yang sedang berulang tahun.
"Wah. Terimakasih banyak, Ryan! Kamu memang yang terbaik!" teriak Bryan senang.
"Bahkan aku yang berjenis kelamin pria harus mengakui kalau aku kalah pesona darinya." kata salah seorang murid cowo di sekolah itu.
"Tidak heran dia adalah sosok yang paling dikagumi semua kaum wanita. Auranya sangat memesona." celetuk murid cowo yang lain.
"Itu sudah jelas!" terdengar suara nyaring seorang wanita.
"Angel!"
"Apa?"
"Perkenalkan aku pacarnya."
"Sejak Ia dan Alexa putus."
"Hei." suara Ryan menggema ke seluruh sudut kantin. Saat inilah, Leo dan Dinda sampai di kantin.
"Astaga! Kenapa lagi dia?" tanya Leo yang kaget karena teriakkan Ryan.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Dinda.
"Ya. Seharusnya aku tidak apa-apa. Huh." desah Leo. Dinda hanya menyimak.
"Angel! Jangan sekali-kali kamu berani bermimpi!" teriak Ryan.
"Kenapa? Terserah aku dong!" Angel tidak mau kalah dan berteriak sama kerasnya seperti Ryan meneriakinya tadi.
"Apa! Kau..." Ryan kehabisan kata-kata.
"Huh. Wanita itu lagi. Apa dia bahkan tidak bosan setelah ditolak ratusan kali oleh Ryan?" gumam Leo.
"Leo. Ikut aku!" Ryan berteriak. Setelah itu, Ia langsung pergi meninggalkan kantin.
"Candy. Maafkan aku, ya. Kita makan lain kali saja. Manusia es ini memintaku mengikutinya."
"Apa kamu bilang! Manusia es?"
"Tidak kok haha. Maksudku manusia paling tampan di seluruh dunia ini."
"Iya, tidak apa-apa. Sampai nanti." sahut Dinda. Ryan hanya menatap tajam.
...****************...
"Kenapa?"
"Tidak."
"Apa? Kamu mengajakku kesini tapi tidak mau mengatakan apapun?"
"Itu..Kenapa kamu memanggil Dinda dengan panggilan Candy?"
"Kenapa memangnya? Kamu cemburu?"
"Cemburu apa! Apa kamu sudah gila! Mana mungkin aku cemburu!" bentak Ryan.
"Terserah. Kamu dulu juga begini." sahut Leo meledek.
...****************...
Saat lalu lintas agak padat pada sore hari, ada seseorang yang menatap sambil mendesah ke arah kaca mobil. Itu adalah Herman, asisten Ryan. Ia khawatir akan kondisi tuan mudanya.
"Tuan muda."
"Hentikan. Kumohon panggil saja aku Ryan apa susahnya sih ahh."
"Baik. Ryan."
__ADS_1
"Kenapa?"
"Anda tidak terlihat sehat belakangan ini. Ada apa? Apa ada yang menganggu pikiran Anda?"
"Tidak. Tidak aku tidak tau." Ryan benar-benar tampak berbeda. Ia bahkan mengacak-acak rambutnya. Orang yang duduk di belakang kemudi hanya bisa mencoba menganalisa apa yang sudah dialami tuan mudanya ini.
...****************...
"Lucy, kamu sudah sampai ya." sambut Herman.
"Iya. Dimana Ryan?"
"Dia sedang mandi di kamarnya. Tolong tunggu sebentar." Herman mengantarkan Lucy ke sofa ruang tamu yang luas.
"Dokter Lucy! Bisa kita bicara di kamarku saja?"
"Iya, Ryan."
"Kamu sakit apa?" dokter Lucy memegang kening Ryan. Tidak demam, tidak ada penyakit apapun.
"Tidak."
"Benarkah? Apa kamu stres belakangan ini?"
"Tidak tau."
"Apa kamu merasa pusing?"
"Iya."
"Kalau begitu obatnya cuma satu, Ryan. Itu adalah tidur yang cukup."
"Tidak. Ini bukan hanya tentang pusing."
"Lalu?"
"Aku merasa belakangan ini hatiku sakit sekali. Apa ada obat untuk ini?"
"Hatimu sakit karena apa?"
"Entah. Aku hanya melihat Leo bersama dengan Dinda tapi kenapa hatiku bisa sakit sekali. Lalu, aku juga terus memikirkannya belakangan ini."
"Dinda? Siapa dia? Sepertinya tidak asing."
"Dia hanya seorang murid wanita yang polos tapi berprestasi." Ryan menjawab santai.
"Haha. Ryan, lihat dirimu. Kamu sudah dewasa ya sekarang!" dokter Lucy hanya tertawa geli.
"Hei. Kenapa malah tertawa?"
"Tidak. Tadi kamu bilang kamu hanya melihatnya bersama Leo tapi hatimu sakit sekali, kan?" dokter Lucy masih belum berhenti tertawa.
"Beritahu aku. Apa obatnya?"
"Haha. Obatnya hanya satu."
"Apa itu?"
"Mengakulah pada Dinda bahwa kamu jatuh cinta padanya."
"Apa! Tidak mungkin!"
"Ryan, untuk sekarang kamu memang tidak sadar. Tapi, kamu juga bukan tidak tahu kalau kamu menyukainya kan? Kamu hanya berusaha menghindar dari ini."
"Hei. Aku tidak menghindar kok."
"Kenapa? Takut ditolak sama dia?"
"Tidak."
"Haha. Ryan, lihatlah dirimu. Kamu setampan dan sepintar ini. Mana ada wanita yang akan sanggup menolak cintamu?"
"Berhenti menggodaku."
"Intinya, kabari aku kalau kalian sudah jadian, ya. Aku penasaran wanita seperti apa yang bisa membuat hati tuan muda ini luluh selain Alexa."
"Kenapa Alexa lagi?"
"Tidak. Sampai nanti." dokter Lucy buru-buru pergi meninggalkan ruang kamar sebelum Ryan memanas.
"Aku jatuh cinta padanya?" Ryan bertanya kepada dirinya sendiri saat dokter Lucy sudah meninggalkan ruangan.
"Tidak mungkin!" Ryan tidak bisa tertidur semalaman karena memikirkan hal ini.
...****************...
"Selamat pagi, Bu Rosa!"
"Pagi, Dinda."
"Hai Leo."
"Hai."
"Ayo kita masuk kelas!" ajak Dinda.
"Oke." sahut Leo.
"Apa itu? Mereka berjalan bersama? Mau kemana mereka?" Ryan menatap dari jendela kaca mobilnya.
"Kenapa aku harus peduli? Terserah mereka mau kemana!" Ryan membentak dirinya sendiri sambil memarkirkan mobilnya di parkiran sekolah.
"Aku jatuh cinta padanya? Haha. Mana mungkin! Dokter Lucy kesambet apa sampai bisa asal menebak begitu."
"Kenapa lagi mereka berdua? Masa bodo! Lagipula aku kan tidak menyukainya!" Ryan menatap dua manusia yang saling mengobrol di depan kelas XI D.
"Ah, ada apa denganku?" Ryan mengacak-acak rambutnya.
BERSAMBUNG
Hai readers.. Author baru update lagi nih... Tolong kasih saran dan masukkan kalian di kolom komentar dong, menurut kalian apa yang kurang dari novel ini? Author ucapkan terimakasih banyak buat yang mau kasih masukkan dan dukung novel ini 🙏🏻.
__ADS_1
Btw, kalau kalian suka novel ini tolong like, komen, dan vote ya... hehe. Jangan lupa tambahin ke favorit kalian juga supaya author lebih semangat lagi nulisnya ❤. Author juga usahain update episode baru tiap hari yaa..