
Pagi Hari di Kediaman Jonathan
"Terima kasih." kata Leo saat Pak Eko menaruh makanan di atas meja.
"Makanlah sebanyak-banyaknya." kata Ryan.
"Kamu serius?" tanya Leo terkejut. Namun, ia sangat senang jika Ryan memperbolehkannya makan banyak karena makanan di rumah ini tidak ada yang tidak enak.
"Iya. Setelah kamu makan, kamu tidak akan banyak berisik di depanku." kata Ryan tidak acuh.
"Hehe.. Baiklah, kalau itu maumu. Aku akan makan sebanyak mungkin." sahut Leo.
"Selamat menikmati, Ryan, Leo." kata Pak Eko.
"Terima kasih, Pak." sahut Ryan dan Leo bersamaan.
"Leo? Kapan kamu mampir kesini?" tanya seseorang dari belakang.
"Halo, Om." sapa Leo sambil mengulurkan tangannya untuk menjabat pamannya.
"Aku mampir dari kemarin malam. Kemarin aku menginap disini." jawab Leo.
"Sungguh?" tanya Jonathan.
"Iya, Om." jawab Leo.
"Kalau kamu mau menginap lagi hari ini, silahkan. Om berangkat dulu ya." kata Jonathan sambil menepuk pundak keponakannya itu.
"Oke, Om." sahut Leo.
"Ryan, papa berangkat dulu." kata Jonathan.
"Iya, Pa." jawab Ryan.
"Hei, Ryan." panggil Leo.
"Apa?" tanya Ryan sambil menatap tajam ke arah Leo.
"Aku akan menginap lagi hari ini." kata Leo.
"Untuk apa?" tanya Ryan bingung.
"Apa maksudmu untuk apa? Untuk makanan ini tentunya." sahut Leo sambil menunjuk makanan yang sedang ia makan.
"Percuma saja, menu yang sekarang bukan menu untuk nanti siang dan nanti sore." kata Ryan cuek.
"Haha. Tidak masalah." sahut Leo sambil tertawa.
"Hei, kenapa kamu pergi begitu saja? Tidak sopan!" kata Leo saat melihat Ryan tiba-tiba berdiri dan pergi.
"Kalau kamu masih berisik, aku tidak akan meladenimu." kata Ryan.
"Ya, ya, baiklah. Aku tidak akan berisik lagi." sahut Leo pasrah.
__ADS_1
"Kita akan kemana?" tanya Leo setelah mereka berdua sampai di parkiran.
"Kita? Aku tidak bilang ingin mengajakmu." jawab Ryan.
"Hei, bukankah kamu butuh sopir?" tanya Leo.
"Aku bisa menyetir sendiri." sahut Ryan tak acuh.
"Aku tau, tapi, lebih baik jika aku yang menyetir, 'kan?" tanya Leo.
"Tidak juga. Mobil kesayanganku bisa rusak jika kamu yang menyetir." jawab Ryan sambil mengelus mobilnya.
"Ayolah ajak aku!" seru Leo.
"Terserah." sahut Ryan.
...****************...
"Kita akan kemana?" tanya Leo setelah mereka sudah berada di perjalanan sekitar 20 menit.
"Ya ampun kenapa aku bisa memiliki sepupu yang mirip sekali dengan balok es?" gumam Leo sambil menggelengkan kepalanya.
"Aku bisa dengar." kata Ryan.
"Iya. Aku tidak bicara padamu." sahut Leo.
"Sudah sampai. Turunlah." kata Ryan yang langsung melepas sabuk pengamannya dan turun tiga detik kemudian.
"Kalau tidak mau masuk, tunggu saja di mobil. Atau.. Jadi tukang parkir juga tidak masalah." kata Ryan sambil tersenyum lalu melangkah masuk ke dalam cafe itu.
"Hei. Aku ikut, aku akan masuk." seru Leo yang langsung mengekori langkah Ryan untuk masuk ke dalam cafe itu.
"Kenapa tiba-tiba pergi ke tempat ini?" tanya Leo.
"Tidak juga. Aku memang kesini setiap 3 minggu sekali." jawab Ryan.
"Apa?" tanya Leo terkejut. Ia tidak menyangka Ryan akan mengunjungi cafe yang penuh kenangan ini setiap 3 minggu sekali.
"Sejak kapan?" tanyanya lagi.
"Tahun lalu." jawab Ryan singkat.
"Maksudmu.. sejak dia (Alexa) pergi?" tanya Leo sambil mengerutkan dahinya.
"Hmm." sahut Ryan sambil menganggukan kepalanya.
"Lalu, apa.. Bukankah kamu.." kata Leo gugup. Ia masih terkejut dengan fakta ini.
"Apa?" tanya Ryan. Namun, Leo tidak memberikan sahutan apa pun.
Apa dia tidak ingin menghapus kenangannya bersama Lexa? Atau dia sudah tidak mengingatnya sama sekali? Tapi, dia kesini sejak Lexa pergi.. Bukankah ia seharusnya merasa terluka? tanya Leo dalam hati.
...****************...
__ADS_1
[Dinda: Ryan, apa sore ini jam 18:00 kamu bisa pergi ke restoran xx?]
[Ryan: Bisa.]
[Dinda: Baiklah, sampai bertemu nanti.]
...****************...
Sore Hari di Restoran
"Maaf aku terlambat." kata Dinda.
"Tidak. Kamu tidak terlambat. Aku datang duluan tadi." sahut Ryan.
"Oh, begitu." kata Dinda.
"Pesanlah apa pun yang kamu mau." kata Ryan.
"Kamu juga pesanlah." sahut Dinda sambil tersenyum. Setelah mereka memesan dan makanannya sudah ada di atas meja, Dinda memberanikan diri untuk memulai pembicaraan.
"Ehem.. Jadi.." kata Dinda ragu.
"Katakan saja. Aku akan menghargai apa pun keputusanmu." sahut Ryan.
"Ryan, aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bisa menjadi orang yang spesial di hatimu. Tolong, bencilah aku mulai hari ini." kata Dinda. Suaranya terdengar parau. Sepertinya Dinda hampir menangis.
"Gapapa. Aku tidak akan membencimu." kata Ryan dengan lembut. Ia ingin menenangkan Dinda, tapi, ia tahu ia tidak pantas.
"Tapi, Ryan, jika kamu tidak membenciku aku akan merasa sangat bersalah dan berhutang padamu." kata Dinda dengan wajah memelas.
"Din, dengar baik-baik." kata Ryan sambil menatap kedua mata Dinda.
"Aku menyatakan perasaanku bukan untuk diterima, melainkan untuk mengakui perasaanku. Jika aku sudah mengakuinya, aku akan merasa lebih tenang. Kalau kamu menolakku, aku tidak masalah. Aku akan menghormati keputusanmu. Sekarang, katakan padaku, kamu mau aku menjauh dari hidupmu atau tetap seperti biasa?" tanya Ryan.
"Ryan, aku.." kata Dinda gugup. Ia gugup sampai tidak berani menatap mata Ryan.
"Tidak apa, katakan saja." sahut Ryan dengan pelan.
"Kamu bisa tetap seperti biasa." kata Dinda sambil menundukkan pandangannya ke bawah.
Din, apa kamu ingin aku berpura-pura tidak pernah menyukaimu? Kamu memang tidak menyukaiku, tapi, bagaimana jika aku tetap seperti biasa sementara aku menyukaimu? tanya Ryan dalam hati.
"Baiklah." kata Ryan sambil menarik napasnya dalam-dalam. Matanya juga mulai memerah dan berair jadi ia menghadapkan pandangannya ke samping supaya Dinda tidak melihat kalau dia hampir menangis.
Ryan, maafkan aku. Aku terlalu egois. Sejujurnya, aku juga menyukaimu, tapi, tidak semua yang aku inginkan bisa menjadi kenyataan. kata Dinda dalam hati.
Ryan pun segera menghabiskan makanan dan minuman yang tadi sudah ia pesan, namun, ia sudah tidak berselera lagi sekarang. Jadi, ia makan dengan sangat cepat.
"Habiskan makananmu. Aku pergi dulu." kata Ryan. Dinda hanya mengangguk sebagai jawaban. Ryan membayar semua tagihan makanan dan minuman yang sudah dipesan lalu pergi berlalu dari restoran itu.
"Ryan, aku.. Aku tidak bisa mengatakan kejadian yang sebenarnya di balik ini semua. Sekali lagi maafkan aku." kata Dinda pelan sambil melihat Ryan yang semakin menjauh dari pandangannya.
Bersambung......
__ADS_1