
"Maksudnya, aku mau kita kencan kayak gini tiap hari," kata Ryan sambil tersenyum.
"Apa?" tanya Dinda kaget.
"Kenapa kamu kaget?" sahut Ryan bingung.
Apa aku udah nyinggung dia, ya? tanya Ryan dalam hati.
"Gapapa," jawab Dinda sambil tersenyum.
"Tapi kalo kencan tiap hari, kamu gak capek?" tanya Dinda sambil menatap wajah Ryan yang terlihat sangat tampan saat ini.
"Capek, tapi kalo udah ketemu kamu capenya langsung ilang," jawab Ryan sambil tersenyum.
"Beneran?" sahut Dinda.
"Aku serius," jawab Ryan.
"Oke, kita boleh aja kencan tiap hari," kata Dinda yang membisikkannya di telinga Ryan yang masih memeluknya dengan erat. Ryan sangat senang mendengar satu kalimat yang barusan diucapkan pacarnya itu.
"Kamu mau tau satu rahasia?" tanya Ryan sambil tersenyum.
"Rahasia apa?" sahut Dinda.
"Lagu yang aku nyanyiin di Hari Valentine waktu itu sebenernya aku buat sendiri lirik sama melodinya. Itu khusus buat kamu," jawab Ryan sambil tersenyum.
"Kamu serius?" tanya Dinda yang cukup terkejut.
"Iya, aku serius," jawab Ryan sambil mengangguk.
"Kenapa kamu sampai bisa bikin lagu buat aku?" tanya Dinda.
"Aku bikin lagu karena waktu itu kamu gak peka-peka. Aku bingung gimana harus nyatain perasaan aku ke kamu," jawab Ryan sambil memejamkan kedua matanya.
"Siapa yang gak peka-peka? Kamu cuma nyanyiin lagu itu sekali. Lagian, aku 'kan juga gak tau kalau lagu itu kamu nyanyiin buat aku. Kamu gak bilang langsung ke aku waktu itu," sahut Dinda polos.
"Iya, waktu itu aku cuma nyanyiin sekali. Sekarang, aku bakal nyanyiin lagi di sini," kata Ryan sambil melepaskan pelukannya. Kebetulan di cafe ini terdapat panggung kecil yang memungkinkan pengunjungnya untuk bernyanyi di situ.
"Hah? Apa? Sekarang?" tanya Dinda panik. Ryan langsung mengenggam kedua tangan Dinda untuk menenangkannya. Untungnya, hanya ada beberapa pasangan lain selain mereka berdua di balkon cafe yang cukup luas itu. Jadi, tidak masalah bila Ryan mau menyanyi di balkon itu.
"Iya, aku bakal nyanyiin lagi walaupun gak ada alat musik yang ngiringin. Tapi kamu dengerin, ya," jawab Ryan sambil tersenyum.
"Iya, aku dengerin kok," sahut Dinda sambil mengangguk. Ryan segera menghampiri salah satu staf untuk meminta izin bernyanyi di panggung tersebut. Setelah itu, ia mulai bernyanyi dan terus menatap ke arah Dinda.
__ADS_1
Bagaimana rasanya?
Memiliki orang yang selalu
Membuat hari-harimu berwarna
Melihatnya seperti melihat cahaya
Di malam yang dingin
Kaulah pujaan hatiku
Hanya kamu yang ada di hatiku
Kamulah yang tercantik
Di seluruh dunia
"Itu yang nyanyi pacar kamu, ya?" tanya seorang wanita yang tiba-tiba sudah ada di samping Dinda. Wanita ini terlihat masih muda. Gaya berpakaiannya juga seperti anak muda.
"Iya, Ci," jawab Dinda yang tidak tahu harus memanggil wanita ini dengan panggilan apa. Tapi karena wanita ini terlihat seumuran dengan Cicinya, maka Dinda memanggilnya dengan sebutan yang sama seperti saat ia memanggil Cici kandungnya.
"Sweet banget sih. Kamu jangan sampe lepasin dia, ya. Jarang-jarang loh cowo mau ngelakuin ini buat cewenya kecuali kalau dia cinta sama pasangannya," kata wanita itu.
"Sama-sama, Cici pergi dulu, ya," sahut wanita itu sambil melambaikan tangannya dan pergi dari situ bersama pasangannya. Tidak lama kemudian, Ryan langsung berjalan menghampiri Dinda.
"Dinda Sayang," panggil Ryan sambil meraih kedua tangan pacarnya.
"Kenapa, Ryan Sayang?" sahut Dinda sambil tersenyum lebar.
"Kamu panggil aku apa tadi?" tanya Ryan sambil mengangkat kedua alisnya.
"Ryan Sayang," jawab Dinda setengah berteriak supaya Ryan senang. Saking senangnya, Ryan langsung memeluk Dinda dan mereka berdua tidak bicara apa-apa selama beberapa saat.
"Kamu mau ngomong apa tadi?" tanya Dinda.
"Aku cinta kamu," kata Ryan.
"Aku juga," balas Dinda.
"By the way, kamu dapet ide dari mana sampai bisa bikin lagu sebagus itu?" tanya Dinda penasaran.
"Aku dapet ide dari liat muka kamu yang cantik," jawab Ryan sambil memegang kedua pipi Dinda dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Ri, kamu jangan gombal terus dong," kata Dinda sambil tersenyum. Ia sebenernya senang mendengar kata-kata manis dari pacarnya, tapi Dinda juga tidak mau terlalu sering mendengar semua itu karena ia adalah perempuan yang lebih mementingkan perbuatan daripada perkataan.
"Iya, iya, aku gak gombal lagi," sahut Ryan sambil menurunkan tangannya dari wajah Dinda.
"Sekarang tutup mata kamu. Dalam hitungan ke-3, buka mata kamu," kata Ryan. Dinda langsung menutup kedua matanya tanpa ragu.
"Satu, dua, tiga," kata Dinda sambil menghitung angka sampai hitungan ke-3. Sementara itu, Ryan mengeluarkan kantung kecil dari kantung yang ada di bajunya dan menyodorkan itu ke arah Dinda.
"Ini hadiah buat kamu," kata Ryan sambil memberikan kantung itu ke tangan Dinda.
"Boleh aku buka sekarang?" tanya Dinda.
"Boleh," jawab Ryan sambil tersenyum. Dinda membuka kantung itu dan terkejut saat melihat isinya. Ada sebuah botol parfum yang merupakan parfum favoritnya sejak kecil.
"Ini..." kata Dinda yang sudah tidak bisa berkata-kata lagi.
"Parfum kesukaan kamu," kata Ryan melanjutkan.
"Makasih, Ri. Tapi kenapa kamu kasih hadiah ini ke aku? Aku 'kan gak ulang tahun," sahut Dinda bingung.
"Gapapa, aku cuma mau hadiahin parfum itu ke kamu aja," jawab Ryan sambil tersenyum.
"Tapi, parfum di rumah aku masih ada banyak," kata Dinda.
"Simpen aja, Sayang. Nanti kamu bisa pake itu kalau parfum kamu yang di rumah udah abis," balas Ryan sambil tersenyum.
"Tapi kok kamu bisa inget parfum kesukaan aku yang ini?" tanya Dinda bingung.
"Karena itu kamu," jawab Ryan.
"Aku kenapa?" tanya Dinda bingung. Ia tidak mengerti apa makna dari perkataan Ryan barusan.
"Kamu beda dari yang lain, Sayang. Di otak aku, semuanya selalu tentang kamu," jawab Ryan sambil memegang kedua tangan Dinda.
"Kamu serius?" tanya Dinda sambil tersenyum.
"Iya, aku serius," jawab Ryan sambil mengelus kedua tangan Dinda yang ada di genggaman tangannya.
"Makasih, Sayang," kata Dinda sambil tersenyum lebar.
"Sama-sama, Sayang," sahut Ryan yang juga tersenyum.
Bersambung......
__ADS_1