
"Selamat pagi semuanya!" sapa Ryan. Ia terlihat sangat tampan hari ini dengan memakai kacamata hitam dan juga gaya rambut ke atas. Hari ini, ia menjadi MC ditemani oleh Viona, temannya yang juga merupakan anggota OSIS.
"Selamat pagi semua, pagi ini kita akan melaksanakan acara yang paling ditunggu-tunggu oleh kita semua. Ada yang tahu acara apa yang akan kita laksanakan hari ini?" tanya Viona kepada seluruh murid.
"Valentine!" sahut para murid dengan antusias.
"Betul. Kita akan segera memulai acaranya. Pertama-tama, apa yang bakal kita lakuin nih, Viona?" tanya Ryan.
"Kita bakalan nonton perfomance paduan suara , band, dan modern dance dari siswa-siswi SMA Tunas Bangsa II yang pastinya sudah kalian tunggu-tunggu. Bener gak temen-temen semua?" tanya Viona.
"Bener." jawab para murid.
"Nah, kalau gitu tanpa basa-basi lagi kita langsung mulai acaranya aja ya. Kepada tim paduan suara, kami persilakan naik ke panggung." kata Viona.
Acara terus berlanjut hingga akhirnya sekarang adalah waktu bagi para peserta lomba untuk memasuki ruangan lomba sesuai lomba yang diikuti. Dinda pun memasuki ruangan tempat lomba puisi. Bagi siswa-siswi yang tidak mengikuti lomba, mereka bisa menganggap bahwa itu adalah jam kosong untuk jajan, bermain, atau sekedar mengobrol. Ada juga beberapa pasangan yang berjalan-jalan ke taman sekolah untuk berfoto dan mengobrol disana.
"Taman ini indah sekali." kata Leo yang kala itu sedang berjalan-jalan di taman sekolah.
"Hah.. Sejuknya." kata Leo setelah menghirup udara sejuk di taman itu.
"Sayang sekali. Aku belum memiliki pacar. Akan sangat bagus jika dia bersamaku disini." Leo menghembuskan napas panjang setelah berbicara kalimat itu. Sebenarnya, ia merasa bahwa Ryan juga menyukai gebetannya. Untuk beberapa saat, Leo kesulitan tidur dan gelisah karena takut apa yang ia duga selama ini benar.
"Ryan? Viona?" tanya Leo saat ia sedang asik duduk di kursi taman. Ia tidak sengaja melihat ke arah Viona yang menarik lengan Ryan menuju ke parkiran.
__ADS_1
"Apa yang mereka berdua lakukan? Apa mereka sudah berpacaran?" tanya Leo sambil menerka-nerka. Leo pun mengikuti mereka sampai ke parkiran sekolah yang kala itu memang sepi sekali.
"Viona, apa yang mau kamu katakan?" tanya Ryan setelah mereka berdua sudah berdiri di kawasan parkiran yang jauh dari keramaian.
"Aku.." kata Viona ragu.
"Hmm?" tanya Ryan.
"Aku.. Aku sudah menyukaimu sejak lama, Ryan. Aku bahkan mengikuti OSIS karena ingin lebih mengenalmu." sahut Viona sambil memainkan kuku-kukunya karena takut akan mengalami penolakan.
"Viona, aku.." kata Ryan yang hendak menyelesaikan kalimatnya namun langsung ditimpal oleh Viona. Dinda yang baru saja selesai mengikuti lomba puisi tadi, memilih ke taman untuk menenangkan pikirannya sejenak. Namun, ia tidak menyangka, melihat Ryan dan Viona yang sedang berdiri berhadapan hingga membuat dirinya penasaran dan memutuskan untuk melihat mereka juga dari belakang tembok sama seperti Leo.
"Ryan, aku tau kamu tidak pernah menyukaiku. Tapi, bisakah kamu belajar pelan-pelan untuk menyukaiku? Aku tidak masalah jika kamu masih belum bisa menyukaiku sekarang. Namun, aku harap kamu bisa memikirkan ini baik-baik dan tidak mengecewakanku." timpal Viona dengan penuh keyakinan.
Hal ini sontak membuat Leo dan Dinda terkejut. Tetapi, Leo memilih untuk tetap mengamati kejadian selanjutnya. Sementara Dinda langsung berbalik badan dan beranjak pergi dari sana.
"Viona, aku sangat menghargaimu. Aku juga menghargai perasaanmu yang tulus kepadaku. Tapi, maafkan aku, aku tidak bisa belajar menyukaimu. Kamu adalah temanku sejak awal aku duduk di bangku SMA. Dan juga... aku.. sudah menyukai orang lain." kata Ryan sambil menundukkan pandangannya ke bawah. Ia tidak salah, tetapi ia merasa bersalah.
"Orang lain? Siapa itu? Apa dia ada di sekolah ini?" tanya Viona dengan nada meninggi. Ia sebenarnya kesal, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa.
"Ehem.. i-iya." sahut Ryan.
"Siapa?" tanya Viona.
__ADS_1
"Ini.." jawab Ryan.
"Katakan saja padaku! Siapa dia?" seru Viona dengan nada memaksa.
"Jangan bilang kalau orang yang kamu sukai adalah Angel. Aku akan benar-benar membencimu, Ryan." kata Viona.
"Viona, kalau itu Angel, maka aku tidak perlu menolak perasaanmu. Aku lebih memilihmu daripada dia." sahut Ryan.
"Kenapa?" tanya Viona.
"Karena semua orang masih lebih waras darinya." jawab Ryan apa adanya.
"Kalau begitu, siapa yang kamu sukai?" tanya Viona mendesak.
"Apa kamu benar-benar ingin tahu?" tanya Ryan.
"Iya. Seperti yang kamu katakan tadi, kamu adalah temanku. Sebagai seorang teman, apa kamu tidak percaya aku bisa menjaga rahasiamu?" sahut Viona.
"Bukan begitu." jawab Ryan.
"Kalau begitu, kasih tau aku siapa yang kamu sukai." kata Viona.
"Dinda." sahut Ryan.
__ADS_1
"Apa?!" tanya Viona kaget.
Bersambung......