
Ryan menjemput Dinda di rumahnya dan mereka berdua berangkat menuju ke bandara. Setelah mereka tiba di bandara, ternyata mereka masih memiliki sisa waktu yang cukup banyak sebelum waktu keberangkatan mereka.
“Dinda,” panggil Ryan dengan suara pelan.
“Iya.” Dinda menoleh ke arah Ryan yang memanggilnya dengan nama depannya bukan nama panggilannya.
“Aku mau abisin waktu kita yang tinggal sisa 2 jam setengah ini sama kamu. Ayo kita coba lakuin sesuatu yang belum pernah kita lakuin,” ajak Ryan sambil menatap kedua mata tunangannya itu dengan wajah serius.
“Ayo,” sahut Dinda sambil mengangguk. Ryan pun langsung menggendong Dinda di punggungnya.
“Memangnya kamu gak keberatan kalau gendong aku?” tanya Dinda penasaran.
“Hmm, sebenernya lumayan berat sih,” kata Ryan pelan.
”Terus kenapa kamu masih gendong aku?” sahut Dinda sembari memukul pelan pundak Ryan dengan tangan kanannya.
“Aku mau gendong tunangan aku masa gak boleh sih?” tanya Ryan dengan wajah memelas.
“Bukan gak boleh, Sayang, tapi kita lagi di bandara,” jawab Dinda dengan nada lembut.
“Terus kenapa kalau kita lagi di bandara?” Ryan menatap wajah tunangannya yang mulai memerah karena malu. Untungnya, tidak banyak orang yang sedang memerhatikan mereka saat ini. Namun, orang-orang yang memerhatikan tindakan mereka mulai bergosip satu dengan yang lain.
“Gapapa, turunin aku aja.” Ryan pun menurunkan Dinda dari punggungnya.
“Kamu mau makan atau minum?” tawar Ryan.
“Aku belum laper sih, belum haus juga, tapi kita liat-liat dulu aja,” balas Dinda.
“Oke.” Ryan mengangguk setuju sambil mengulurkan tangan kanannya untuk menggenggam tangan kiri Dinda. Mereka berdua mulai menelusuri berbagai restoran yang ada di bandara itu. Ryan dan Dinda mencoba beberapa makanan dan minuman sambil sesekali bersuap-suapan.
Waktu berlalu dengan cepat sampai sudah waktunya bagi Ryan untuk berangkat terlebih dahulu karena jarak ke Amerika Serikat lebih jauh daripada jarak ke Inggris.
__ADS_1
“Aku harus pergi, Sayang,” kata Ryan sambil memeluk Dinda dari depan.
“Sekarang?” tanya Dinda.
“Iya,” jawab Ryan sambil mengangguk. Ia memejamkan matanya untuk merasakan aroma tubuh Dinda sebelum ia berangkat ke Amerika Serikat. Tidak lama kemudian, Ryan melepaskan pelukannya, tetapi Dinda masih memegang kedua tangan Ryan, tidak rela untuk berpisah dengan tunangannya itu.
“Kenapa, Sayang? Kamu gak mau aku pergi?” tanya Ryan sambil tersenyum.
“Bukan gitu, aku… aku cuma…” Dinda masih ragu untuk mengatakannya.
“Aku janji bakal selalu kabarin kamu semua aktivitas aku. Kamu juga harus kabarin aku, oke?” sahut Ryan sembari mengelus kepalaku.
“Oke,” jawab Dinda pelan. Kemudian, Dinda melepas kedua tangan Ryan sembari menundukkan kepalanya ke bawah. Sebenarnya, ia tidak ingin melihat Ryan berpisah dengannya untuk waktu yang lama.
“Ryan,” panggil Dinda.
“Iya, Sayang,” jawab Ryan sambil menatap wajah Dinda. Tanpa aba-aba, Dinda langsung mencium pipi kanan Ryan.
“Dikasih sekali malah ngelunjak minta dua kali,” sindir Dinda. Namun, Dinda tetap mencium pipi kiri Ryan.
“Hahaha, maaf, aku memang sukanya ngelunjak,” sahut Ryan sambil tertawa puas.
“Aku ngelunjak lagi boleh gak?” tanya Ryan sambil mengangkat kedua alisnya.
“Kamu mau ngapain?” balas Dinda dengan ekspresi curiga.
“Cium kamu,” bisik Ryan sambil tersenyum. Dinda tidak menjawab, pipinya memerah dan semakin memerah saat Ryan mendekatkan wajahnya ke wajah Dinda. Ryan ingin tahu Dinda akan menolaknya atau tidak, tapi karena tunangannya itu tidak menolak dan tidak menghindar, akhirnya Ryan mencium bibir Dinda selama 3 detik kemudian mendekap tubuh Dinda untuk yang terakhir kalinya sebelum ia pergi.
“Aku bakal kangen sama kamu, Sayang,” ucap Ryan. Kemudian, ia mencium kening Dinda dengan lembut.
“Aku juga,” balas Dinda sambil tersenyum.
__ADS_1
“I will come back to you, see you soon, Dinda,” kata Ryan sambil tersenyum. Kalimat ini adalah kalimat terakhir yang diucapkan oleh Ryan sebelum akhirnya ia terbang ke Amerika Serikat untuk kuliah di Harvard University. Tidak lama kemudian, Dinda juga berangkat ke London untuk kuliah di University of London.
******
Setelah masa kuliahnya selama 4 tahun itu berakhir, Dinda akhirnya kembali ke Jakarta. Dinda melihat ke arah jam tangannya dan menghela napas panjang. Setelah itu, ia menyentuh cincin yang pernah dipakaikan Ryan di tangan kirinya. Dinda tahu bahwa penerbangan Ryan masih sekitar 5 jam lagi sehingga ia memutuskan untuk pulang ke rumah menemui keluarganya terlebih dahulu sebelum menyambut kedatangan Ryan di bandara.
Dinda pun mengeluarkan ponselnya dari tas selempang berwarna hitam yang ia pakai untuk memesan taksi. Setelah selesai memesan taksi, tiba-tiba ponselnya berdering. Dinda segera mengangkat panggilan telepon itu.
“Halo, Din,” sapa Ci Citra.
“Halo, Ci. Kenapa?” tanya Dinda penasaran.
“Kamu udah sampe di Jakarta belum? Cici sama Papa lagi ada di rumah Ryan sekarang,” kata Citra dengan semangat.
“Udah, ini lagi mau pesen taksi. Kenapa kalian pergi ke rumah Ryan?” sahut Dinda bingung.
“Kamu masih cape ‘kan abis terbang 15 jam di pesawat?” Citra tidak langsung menjawab pertanyaan Dinda dan mengalihkan pertanyaan adiknya ke pertanyaan yang lain.
“Iya, kenapa memangnya?” tanya Dinda heran.
“Kamu pulang dulu aja ke rumah. Nanti kamu langsung mandi sama dandan aja, ya. Jangan lupa pake gaun yang bagus. Kalau udah selesai, dateng aja ke rumah Ryan. Kita semua bakal makan sore di sini,” jawab Citra dengan nada antusias.
“Oke, bye, Ci,” kata Dinda.
“Bye,” sahut Citra. Setelah itu, Citra mematikan panggilan telepon antara dirinya dengan Dinda. Kemudian, Dinda menaruh ponselnya di saku celana kanannya.
Tidak lama kemudian, taksi yang sudah dipesan oleh Dinda pun datang untuk menjemput Dinda pulang ke rumahnya. Setelah sampai di rumah, Dinda segera meletakkan barang-barang bawaannya di kamar. Lalu, ia memilih gaun berwarna biru tua dengan sepatu dan tas selempang yang warnanya senada dengan gaunnya.
Buat apa makan di rumah Ryan kalau dia aja belum pulang? tanya Dinda dalam hati. Ia mengeluarkan ponselnya dari saku celana jeans-nya. Sayangnya, baterai ponselnya sudah habis sehingga ia tidak bisa menanyai kabar Ryan. Dinda segera mengisi baterai ponselnya lalu pergi mandi.
Bersambung……
__ADS_1