
"Kenapa tadi dia berlari sekencang itu?" tanya Dinda yang kala itu sedang membaca buku Bahasa Indonesia untuk ulangan besok. Tadi saat ia keluar dari ruangan 724, ruangan tempat Kenzo dirawat, ia kebetulan melihat Ryan yang berlari sangat cepat.
"Informasi yang didapatkan dari teks.." kata Dinda sambil membaca paragraf di depannya.
"Tunggu, aku lupa sebentar lagi harus ke rumah sakit membawa mainan untuk Kenzo." kata Dinda panik.
"Dimana tadi aku menaruh mainan mobilnya ya?" tanya Dinda.
"Ketemu!" kata Dinda sambil memasukkan mainan mobil itu ke sebuah kantong.
"Hah, sudah jam 18:40! Aku pasti lupa waktu!" kata Dinda kaget saat melihat ke arah jam dinding.
"Din, mau kemana?" tanya Citra, cicinya.
"Ke rumah sakit, ci." jawab Dinda.
"Siapa yang sakit? Kamu sakit?" tanya Citra.
"Kenzo." jawab Dinda.
"Oh. Mau cici antar?" tanya Citra.
"Tidak perlu, ci. Ini sudah hampir terlambat. Aku berjanji kepada Kenzo akan datang mengunjunginya jam 19:00."
"Oh, oke. Pergilah. Hati-hati ya!" kata Citra.
__ADS_1
"Iya, ci. Sampai nanti." sahut Dinda. Ia pun buru-buru menyalakan mesin mobil dan melajukan mobil berwarna putih miliknya ke rumah sakit tempat Kenzo dirawat.
...****************...
Sesampainya di rumah sakit, Dinda buru-buru berlari ke kamar Kenzo tempat Kenzo dirawat. Ryan yang kebetulan melihat Dinda berlari juga terkejut.
"Kenapa dia disini? Apa yang dia lakukan?" tanya Ryan kepada dirinya sendiri.
"Din!" panggil seseorang dari belakang.
"Clar!" panggil Dinda. Ternyata itu adalah Clarissa.
"Cantik." kata Ryan. Ia melihat Dinda yang saat itu memakai kaos putih dan celana legging serta dengan rambutnya yang terurai panjang membuat Dinda sudah cantik walaupun tanpa make-up sekalipun.
"Kenapa kamu disini?" tanya Clarissa.
"Ya.. ada adikku sakit." jawab Dinda.
"Oh. Bukannya kamu tidak punya adik?" tanya Clarissa.
"Iya, dia bukan adik kandungku. Tapi, aku dan kakakku menyayanginya seperti seorang adik sungguhan." jawab Dinda.
"Oh, begitu." kata Clarissa.
"Adik?" tanya Ryan yang tidak sengaja menguping pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Iya. Kalau begitu aku pergi dulu. Tinggal 2 menit! Sampai nanti, Clar!" kata Dinda melambaikan tangannya sambil tersenyum.
"Iya, sampai nanti." sahut Clarissa sambil melambaikan tangannya.
Tok.. Tok.. Tok..
"Kenzo." panggil Dinda setelah ia membuka pintu kamar nomor 724.
"Kak Dinda datang membawakan mainan mobil untukmu." kata Dinda sambil tersenyum.
"Kak Dinda!" panggil kenzo.
"Kenzo, ini mainannya." kata Dinda sambil memberikan sebuah kantong berwarna hitam. Kenzo pun membuka kantong itu dan melihat isinya adalah mainan mobil yang sangat disukainya.
"Wah, mobil hot wheels! Ada tiga! Terima kasih, kak. Kenzo senang sekali." kata anak itu dengan jujur dan polos.
"Iya. Kenzo suka 'kan? Mainlah sepuasnya nanti setelah Kenzo sembuh." kata Dinda sambil tersenyum karena melihat Kenzo juga senang dengan mainan mobil yang diberikan olehnya.
"Iya. Terima kasih banyak, Kak Dinda!" kata Kenzo sambil tersenyum senang.
"Terima kasih ya, non. Maaf sekali lagi mbak repotin non." kata Mbak Fina sambil memegang kedua tangan Dinda.
"Engga kok, mbak. Gak usah minta maaf. Aku sendiri yang mau lakuin ini." sahut Dinda. Mbak Fina pun memeluk Dinda dan Dinda membalas pelukan itu. Dinda memang seperti ini dengan semua orang.
Bersambung......
__ADS_1