
"Din, kamu kenapa?" tanya Ayu setelah mereka pulang sekolah. Ayu yang sedari tadi memperhatikan Dinda lesu seharian menjadi khawatir.
"Gapapa kok. Mungkin aku lagi capek aja." jawab Dinda.
"Beneran gapapa?" tanya Ayu cemas.
"Iya, aku gapapa, Ayu, Clar. Aku mau cerita sama kalian." kata Dinda.
"Ada apa, Din?" tanya Clarissa.
"Sebenarnya.. Ryan.. Beberapa hari yang lalu dia menyatakan perasaan padaku. Tapi, aku tidak tahu apa harus menerima atau menolaknya. Menurut kalian bagaimana? Aku harus apa?" kata Dinda menjelaskan semuanya.
"Memangnya dia menyatakannya seperti apa?" tanya Clarissa kepo.
"Ya.. Seperti.." kata Dinda ragu untuk mengatakannya.
"Gapapa kalau kamu malu gak usah cerita. Sejujurnya, Ryan dan aku akan bertunangan 2 minggu lagi, Din." kata Clarissa.
Ryan, kamu menyukai Dinda? Lalu, untuk apa bertunangan denganku? Apa kamu sengaja mempermainkanku? tanya Clarissa dalam hati.
"Apa? Tunangan?" tanya Ayu kaget sampai membelalakkan matanya seolah dirinya yang berada di posisi Dinda.
Jadi, mereka akan bertunangan. Kenapa dia berpura-pura seolah tidak ada apa-apa walaupun akan bertunangan? kata Dinda dalam hati. Tentu saja, Dinda merasa kecewa dengan Ryan.
"Clar, kamu serius?" tanya Ayu memastikan.
"Untuk apa aku membohongi kalian? Aku juga gak mau tunangan sama dia. Tapi, perusahaan sangat penting bagi papa. Om Jonathan juga sudah mentransfer dana untuk membantu papa. Semua sudah ada perjanjiannya." kata Clarissa sambil menghela napasnya.
"Aku pergi dulu, ya. Supirku udah jemput. Sampai nanti." kata Clarissa lagi.
"Din.." panggil Ayu.
"Din?" panggil Ayu sekali lagi.
__ADS_1
"Iya." sahut Dinda.
"Din, apa kamu juga menyukai Ryan?" tanya Ayu.
"Entahlah. Aku.. Mungkin iya. Aku memang menyukainya." jawab Dinda gugup.
"Jika kamu menyukainya, terima saja." kata Ayu.
"Tapi, dia tunangannya Clarissa, Ayu." kata Dinda ragu.
"Aku tau. Tapi, mereka bertunangan tanpa ada rasa suka satu sama lain. Menurutmu, berapa lama mereka bisa bertahan?" tanya Ayu sambil menatap mata Dinda. Namun, Dinda tidak menyahut sama sekali. Ia merasa kaget sekaligus kecewa.
"Aku mau pulang dulu, ya. Sampai ketemu besok." kata Dinda lirih.
"Keadaan menjadi sangat rumit ketika seseorang jatuh cinta." kata Ayu sambil menggelengkan kepalanya. Namun, tanpa mereka sadari, Leo sebenarnya secara tidak sengaja menguping pembicaraan mereka sejak awal.
...****************...
"Din." panggil Leo.
"Leo?" sahut Dinda.
"Din, kamu mau kemana?" tanya Leo berpura-pura tidak tahu.
"Aku mau pulang." jawab Dinda.
"Mau kuantar?" tanya Leo.
"Terima kasih tapi tidak perlu, Leo." jawab Dinda.
"Gapapa kok. Gak jauh dari sini." kata Leo. Leo mencemaskan Dinda.
"Baiklah." kata Dinda.
__ADS_1
"Terima kasih, Leo." kata Dinda setelah sudah sampai di rumahnya.
"Aku harus menolaknya demi kebaikan hubungan Ryan dan Clarissa." gumam Dinda setelah ia turun dari mobil Leo.
...****************...
[Leo] Lexa. Ini aku, Leo.
[Alexa] Aku tau. Ada apa tiba-tiba meneleponku?
[Leo] Lexa, sebenarnya..
[Alexa] Ada apa? Cepat beritahu aku!
[Leo] Sebenarnya, Ryan mungkin masih merindukanmu. Dia masih rutin datang ke cafe di mana dulu kita bertiga berkumpul.
[Alexa] Apa katamu?
[Alexa] Leo, apa kamu serius?
[Leo] Untuk apa aku berbohong? tanya Leo.
[Alexa] Jadi, apa maksudmu meneleponku? Kamu menyuruhku mendatangi Ryan lagi? Jangan harap!
[Leo] Lexa, kalau kamu masih punya harapan dan kesempatan, kenapa tidak manfaatkan waktu dan keadaan? tanya Leo sambil menghela napasnya.
[Alexa] Aku akan ngechat kamu kalau aku sudah pikirkan. kata Alexa.
[Leo] Baiklah. Dah. sahut Leo.
"Ryan, selama ini kamu masih merindukanku?" tanya Alexa pada dirinya sendiri.
Bersambung......
__ADS_1