
Sore hari di Kediaman Jonathan
"Pakaikan ini pada jari manis Clarissa nanti." kata Jonathan sambil menyodorkan sebuah kotak kecil.
"Pa, tapi.." sahut Ryan saat papanya memberikan sebuah kotak perhiasan yaitu cincin padanya.
"Papa tau itu. Hanya kali ini saja bersikaplah normal." kata Jonathan sambil menepuk pundak anaknya.
"Pa.." kata Ryan memelas.
"Ayo kita berangkat! Revan dan Clarissa pasti juga sudah berangkat." sahut Jonathan. Ryan hanya menghela napas lalu melangkahkan kakinya yang terasa berat untuk masuk ke mobil. Sepanjang jalan, Ryan tidak berbicara sepatah kata pun.
...****************...
Malam hari di sebuah hotel termegah di Jakarta
Bagaimana aku akan memakaikan ini padanya? tanya Ryan dalam hati.
"Ingat, cukup jawab iya saja saat ditanya dan pakaikan ini pada jari manis Clarissa. Lalu, kalian hanya perlu terlihat mesra untuk sesi foto nanti. Ikuti arahan dari cameraman." kata Jonathan mengingatkan.
"Iya." sahut Ryan yang terdengar lesu. Ia mengikuti sang ayah melangkah ke aula utama dengan berat hati.
__ADS_1
...****************...
"Hahaha.. Wah, selamat atas pertunangan kedua anak kalian. Ryan, Clarissa, kalian sudah besar ya sekarang. Kalian tumbuh menjadi sangat tampan dan cantik." kata salah seorang rekan bisnis.
"Selamat. Aku ikut senang. Ryan, semoga kamu bisa membahagiakannya." kata salah seorang junior kolega Revan. Sejujurnya, ia sudah lama menyukai Clarissa. Tapi, hari ini ia melihat acara pertunangan ini, ia sudah memutuskan untuk melepaskan Clarissa.
"I-Iya, Kak." sahut Ryan. Ryan merasa sangat canggung berada di sini. Jadi, ia keluar sebentar ke taman hotel untuk berjalan-jalan.
"Ryan." panggil seseorang.
"Oh, hai Clarissa." kata Ryan.
"Tidak ada. Aku hanya ingin melihat langit dan bintang-bintang." jawab Ryan.
"Oh, begitu." sahut Clarissa.
"Tuan, nona muda, kalian darimana saja? Tuan besar Revan dan Tuan Jonathan serta kami semua sudah mencari kalian kemana-mana. Ternyata kalian disini. Ayo ikut saya untuk kembali ke aula utama supaya tuan dan nona muda bisa mengikuti sesi foto." kata Kevin, seorang bodyguard yang ditugaskan Revan untuk menjaga Clarissa selama acara ini berlangsung.
"Baiklah. Terima kasih, Pak." kata Clarissa.
"Ryan, Ayo!" ajak Clarissa.
__ADS_1
"Iya." sahut Ryan. Ia pun menyusul langkah Clarissa untuk kembali ke aula utama.
"Nah ini dia nih pasangan kita. Kenapa baru balik?" goda salah seorang rekan bisnis yang masih muda.
"Pasti abis mesra-mesraan diluar sana, ya." goda salah seorang rekan bisnis yang lain.
"Enak banget ya berduaan?" tanya salah seorang teman kolega yang lain.
"Hei, kalian ini apa-apaan sih!" tegur seorang rekan bisnis yang lebih senior.
"Ya, kami kan cuma bercanda aja.." sahut salah seorang rekan bisnis yang tadi menggoda Ruan dan Clarissa.
"Udah, udah. Sesi fotonya udah mau dimulai. Jangan bisanya ngerusak acara anak muda." kata rekan bisnis senior itu.
Akhirnya, sesi foto yang menjadi puncak acara hari ini pun dilaksanakan. Sesi foto ini menjadi hal yang indah bagi semua yang hadir disana, kecuali Ryan, Clarissa, dan teman kolega Revan yang menyukai Clarissa. Mereka bertiga sama-sama menikmati acara ini dengan senyum palsu.
"Sudah waktunya bagi Saudara Ryan Jonathan untuk memasangkan cincin pada jari manis Saudari Clarissa Adrian Wijaya." kata MC yang membawakan acara malam itu. Ryan pun mengeluarkan sebuah kotak cincin yang indah dari sakunya. Ia mengambil cincin yang berwarna emas putih dengan motif hati di atasnya dari kotak cincin itu dan memasangkannya pada jari manis Clarissa.
Maafkan aku, Dinda. kata Ryan dalam hati saat ia memasangkan cincin itu pada jari manis Clarissa. Ryan bahkan memasangkan cincin itu dengan mata tertutup.
Bersambung......
__ADS_1