
Siang Hari Di Kediaman Jonathan
Seseorang sudah berdiri di depan pagar berwarna hitam yang besar. Pagar besar itu terbuka otomatis. Setelah pagar terbuka, orang itu memasuki halaman rumah yang terlihat sangat luas. Ada taman dan juga air mancur. Rumah itu terlihat mewah dan elegan dengan lampu gantung di depan. Hal ini bukan lagi sebuah misteri, rumah para orang kaya memang seperti ini.
Ting tong...
Suara bel terdengar di rumah itu.
"Siapa itu?" tanya Ryan kepada Pak Eko karena hari ini Pak Herman pergi menjemput Jonathan untuk pulang dari rumah sakit.
"Dek Leo." jawab Pak Eko. Ryan hanya mengangguk. Setelah itu, Pak Eko membuka pintu rumah dan mempersilahkan Leo untuk masuk.
"Ryan." panggil Leo.
"Leo. Kenapa kamu datang?" tanya Ryan. Sebenarnya, Leo sudah sering mengunjunginya. Mungkin sebulan sekitar delapan kali.
"Tidak apa-apa. Aku bosan di rumah." jawab Leo.
"Oh." sahut Ryan sambil menganggukan kepalanya lalu pergi ke dapur untuk minum.
"Cih. Dingin sekali." kata Leo kesal.
"Hei, Ryan." panggil Leo.
"Hmm?" sahut Ryan setelah selesai meneguk air putih yang barusan ia minum.
"Aku dengar kamu akan bernyanyi di Hari Valentine lusa?" tanya Leo sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Hmm." sahut Ryan.
"Lalu, kamu akan menyanyikan lagu apa? Atau.. Kamu mau menciptakan lagu sendiri? Para siswi pasti akan tergila-gila." kata Leo.
"Aku tidak tau." jawab Ryan acuh sambil berlalu pergi ke kamarnya.
__ADS_1
"Huh.. Ternyata lebih membosankan berduaan dengan es batu daripada sendirian di rumah." keluh Leo sambil mengikuti Ryan ke kamar.
"Aku bisa dengar." sahut Ryan.
"Ya sudah. Ayo kita bermain!" ajak Leo.
"Um.. Tidak. Aku sibuk." kata Ryan sambil menggelengkan kepalanya.
"Hah, terserah. Ryan, aku tetap akan memainkan ini ya!" teriak Leo. Ryan memilih untuk tidak menjawab Leo dan pergi ke lantai 1.
"Dia mengabaikanku lagi." kata Leo sambil mengusap pelan dadanya.
"Kira-kira aku harus bernyanyi apa ya nanti? Aku akan membuat lagu saja." kata Ryan kepada dirinya sendiri. Ia pun mengambil gitar miliknya dan mencoba membuat lagu sendiri. Namun, Ryan yang sedang membuat nada reff untuk lagu itu malah membayangkan wajah Dinda yang tersenyum.
"Tunggu, kenapa aku malah membayangkan wajahnya? Dia tidak penting!" kata Ryan.
"Ah, fokus. Fokuslah, Ryan!" gerutu Ryan sambil mengacak-acak rambutnya.
"Hah.. Kenapa wajahnya tidak bisa menghilang dari bayanganku?"
"Ryan. Ada apa?" tanya Leo.
"Tidak. Tidak ada apa-apa." jawab Ryan sambil menggelengkan kepalanya.
"Kamu membuat lagu?" tanya Leo.
"Hmm." jawab Ryan.
"Kenapa? Tidak biasanya kamu seperti ini?" tanya Leo.
"Tadi kamu yang menyuruhku!" seru Ryan.
"Apa? Aku 'kan cuma bertanya tadi." sahut Leo.
__ADS_1
"Terserah. Intinya aku sudah terlanjur membuat bagian reff lagunya." kata Ryan.
"Oh, ya. Apa yang kamu buat? Aku mau lihat." kata Leo penasaran.
"Tidak, nanti saja." sahut Ryan.
"Cih." cibir Leo.
"Karena kamu..." Ryan mencoba menyanyikan liriknya.
"Astaga. Dia pasti melalui waktu yang sulit dengan menulis lirik lagu cinta tanpa mengalaminya sendiri." kata Leo sambil tersenyum.
"Hei. Aku bisa mendengarmu." sahut Ryan kesal.
"Ya.. maaf. Aku hanya mengatakan fakta." kata Leo sambil mengangkat bahu dan kedua tangannya.
"Hei, kamu lebih tua dariku. Kamu harusnya mendukungku." kata Ryan.
"Tidak, terima kasih. Aku hanya mendukung jika kamu berpacaran dengan... Angel. Hahaha." kata Leo sambil tertawa kencang.
"Kurang ajar." gerutu Ryan.
"Haha." Leo sama sekali tidak menggubris Ryan. Ia malah sibuk tertawa.
"Hei, mak lampir. Sudah selesai ketawa belum?" tanya Ryan.
"Siapa yang kamu maksud mak lampir?" tanya Leo sambil melihat ke sekeliling.
"Memangnya ada orang lain lagi di sini!" jawab Ryan.
"Ehem. Ryan, kamu tidak bisa bercanda ya." kata Leo.
"Bagaimana mau bercanda jika kamu tertawa seperti mak lampir?" tanya Ryan.
__ADS_1
"Cih. Menyebalkan." cibir Leo sambil menggelengkan kepalanya.
Bersambung......