Ketos Tampan Itu, Kekasihku

Ketos Tampan Itu, Kekasihku
Hari Natal Yang Menyenangkan


__ADS_3

“Kamu mau ke mana?” tanya Ryan sambil menatap ke wajah Dinda.


“Hmm… kamu maunya ke mana?” sahut Dinda.


“Aku ikut kamu aja,” jawab Ryan.


”Mau keliling dulu aja?” tanya Dinda.


“Oke, Sayang,” jawab Ryan sambil menautkan kelima jari kanannya di sela-sela kelima jari kiri pacarnya.


“Kenapa kamu nuntunnya kayak gini?” tanya Dinda sambil tersenyum.


“Karena mallnya rame. Aku takut kita bisa kepisah nanti,” jawab Ryan. Dinda hanya menatap wajah Ryan selama beberapa detik tanpa berbicara satu kata pun.


“Kenapa kamu ngeliatin aku sampe serius banget? Aku ganteng ‘kan hari ini?” Tanya Ryan sambil menaikkan kedua alisnya dan tersenyum.


“Iya, ganteng banget,” jawab Dinda.


“Kamu juga cantik banget hari ini,” puji Ryan.


“Makasih, Sayang,” sahut Dinda. Mata Dinda terpaku kepada sebuah toko yang menjual parfum. Toko itu hanya berjarak 2 meter di samping kanannya. Ryan pun memerhatikan Dinda yang sepertinya ingin masuk ke dalam toko itu.


“Ayo,” ajak Ryan.


“Ayo ke mana?” tanya Dinda bingung.


“Ke toko itu," jawab Ryan sambil menatap toko yang akan mereka tuju. Setelah mereka berdua masuk ke dalam sana, Dinda langsung mencari parfum Eau de Cologne yang selalu menjadi parfum pertama yang akan ia beli setiap kali ia mampir ke toko parfum.


“Kamu suka aromanya?” tanya Ryan penasaran.


“Iya, aku suka banget sama aroma ini. Aromanya wangi banget tapi gak nusuk ke hidung,” jawab Dinda sambil menghirup aroma parfum itu. Tanpa berpikir panjang, Ryan langsung memasukkan 6 box parfum itu ke dalam keranjang. Tiga untuk dirinya dan tiga lagi untuk Dinda.


“Kamu juga suka aroma parfumnya?” tanya Dinda penasaran.


“Iya, aku juga mau beli,” jawab Ryan sambil membalikkan badannya.


“Kamu mau ke mana?" tanya Dinda sambil memegang lengan kiri Ryan.


"Ke kasir, aku mau bayar sekarang. Ada lagi barang yang masih mau kamu beli?" sahut Ryan.


“Jangan! Aku aja yang bayar,” kata Dinda.


“Aku juga belanja parfum, jadi kamu gak usah ngerasa gak enak hati ya, Sayang. Biar aku aja yang bayarin,” kata Ryan sambil memberikan senyumannya yang setulus mungkin. Lalu, ia berjalan ke arah kasir dan membayar semua barang belanjaan itu.


“Makasih,” kata Dinda sambil tersenyum. Ia ingin mengambil kantung belanja dari tangan Ryan, tetapi Ryan mencegahnya.


"Gak usah, perempuan gak boleh bawa barang yang banyak." Ryan bicara dengan nada tegas.


Mereka berdua berjalan menyusuri lantai dasar mall tersebut. Di tengah-tengahnya ada pohon natal yang berukuran sangat besar.

__ADS_1


"Ayo kita foto," ajak Dinda sambil menarik lengan Ryan. Dinda mengeluarkan ponselnya lalu menggunakan kamera depan untuk memotret dirinya dan Ryan serta pohon natal itu. Seorang pemuda yang melihat itu berjalan menghampiri mereka.


"Permisi, mau saya bantu fotoin?" tawar pemuda itu dengan ramah.


"Boleh," jawab Dinda sambil menyodorkan ponselnya ke tangan pemuda itu.


"Coba kalian pelukannya lebih mesra lagi," kata pemuda itu dengan tangannya yang sudah siap untuk memotret mereka. Setelah beberapa kali jepretan, pemuda itu mengembalikan ponsel Dinda.


"Makasih, ya," kata Dinda sambil tersenyum.


"Sama-sama." Pemuda itu langsung berjalan pergi ke arah lain.


"Hasil fotonya bagus-bagus," kata Dinda sembari melihat hasil foto dari pemuda yang tadi memotret dirinya dan Ryan.


"Iya, dia pasti berbakat jadi fotografer," sahut Ryan sambil mengangguk puas melihat hasil foto itu.


"Sekarang udah jam 12, kita makan dulu aja, ya?" tanya Dinda sambil melihat jam di layar ponselnya yang sudah menunjukkan pukul 12 siang.


"Iya, kamu mau makan apa?" balas Ryan.


"Hmm.. aku lagi mau makan pizza sih," jawab Dinda.


"Oke." Ryan menuntun Dinda untuk pergi ke restoran pizza yang ada di mall itu. Setelah itu, Dinda memesan pizza kesukaannya yaitu pepperoni pizza serta es teh manis. Sementara itu, Ryan memesan spaghetti bolognese dan lychee tea.


"Hei, kalian makan di sini juga?" sapa Leo sambil tersenyum. Di sampingnya, ada Clarissa yang juga tersenyum setelah melihat Dinda dan Ryan.


"Leo? Kok kamu bisa ada di sini?" tanya Dinda bingung.


"Kalian mesra banget, ya," kata Dinda sambil tertawa.


"Suapin dong," kata Ryan sambil membuka mulutnya. Dinda pun menoleh ke arah Ryan dan menyuapi spaghetti ke mulut pacarnya itu.


"Thank you," kata Ryan sambil tersenyum tipis.


"Cih, pamer," kata Leo sambil menggelengkan kepalanya.


"Ya udah, kalian makan dulu aja. Aku sama Leo gak mau gangguin kalian," kata Clarissa sambil melambaikan tangan kirinya. Lalu, ia menarik lengan Leo untuk pergi dari situ. Setelah Dinda dan Ryan selesai makan, mereka kembali berkumpul lagi bersama dengan Leo dan Clarissa untuk mengelilingi mall itu bersama-sama.


"Ada Santa Claus di depan!" seru Clarissa.


"Ayo kita ke sana!" ajak Dinda sambil menggandeng lengan Clarissa untuk menghampiri Santa Claus itu.


Mau tidak mau, Ryan terpaksa mengikuti mereka meski ia tidak suka dengan Santa Claus.


"Ryan, kamu kalau gak mau ke sana, tunggu di sini aja sama aku," kata Leo setelah Ryan sudah berjalan beberapa langkah ke depan.


"Gapapa kok," sahut Ryan sambil berusaha untuk tetap terlihat tenang.


"Ya udah," kata Leo sambil menggelengkan kepalanya. Tiba-tiba ponsel Leo berbunyi. Ia segera mengangkat panggilan telepon dari Mamanya yang menyuruhnya untuk pulang ke rumah.

__ADS_1


"Beb, kita harus pulang sekarang," kata Leo kepada Clarissa.


"Oke," jawab Clarissa.


"Guys, sorry tapi aku sama Clarissa harus pulang sekarang. See you next time," kata Leo.


"Oke, bye," kata Dinda.


"Bye, thank you, ya," sahut Clarissa sambil melambaikan tangannya kepada Ryan dan Dinda.


"Kamu seneng gak hari ini?" tanya Ryan sambil merangkul pundak Dinda.


"Iya, seneng banget. Kalau kamu?" sahut Dinda.


"Hmm..." Ryan hanya menyahut dengan nada datar seperti biasanya.


"Kenapa? Kamu gak seneng?" tanya Dinda sambil mengerutkan keningnya.


"Seneng lah, masa aku gak seneng bisa berduaan sama kamu seharian," jawab Ryan sambil mengelus kepala Dinda.


"Kamu mau belanja apalagi?" tanya Ryan.


"Enggak usah," jawab Dinda.


"Biasanya cewe selalu suka belanja," kata Ryan.


"Terus?" sahut Dinda sambil menatap wajah Ryan.


"Ya.. aku bingung aja kenapa kamu gak mau belanja banyak barang," jawab Ryan.


"Hari ini 'kan hari Natal. Kita harusnya memperingati hari kelahiran Tuhan Yesus ke dunia bukannya malah belanja banyak barang," kata Dinda mengingatkan.


"Iya, Sayang. Aku tau. Aku bangga punya pacar kayak kamu," sahut Ryan sambil tersenyum.


"Aku juga," kata Dinda.


"Sekarang udah sore, ya? Kita pulang aja?" tanya Dinda.


"Kamu mau pulang?" sahut Ryan sambil menatap wajah Dinda.


"Iya, aku mau makan kue kukis yang waktu itu udah kita buat," jawab Dinda sambil mengangguk.


"Oke," kata Ryan.


Mereka berdua pun diantar pulang ke rumah Dinda oleh supir. Lalu, mereka menghabiskan kue kukis natal yang masih tersisa waktu itu. Setelah itu, Ryan mencium pipi kanan Dinda dan pamit pulang ke rumahnya.


"Bye, Sayang," kata Ryan sambil tersenyum.


"Bye," balas Dinda sembari melambaikan tangannya ke arah Ryan.

__ADS_1


Bersambung……


__ADS_2