
Hari ini merupakan hari yang spesial di mana banyak orang akan menyambutnya dengan senang hati. Ya, hari ini adalah hari natal. Hari yang sudah ditunggu-tunggu oleh Dinda untuk bersiap-siap pergi ke gereja dan merayakan hari natal yang indah ini bersama dengan keluarga serta pacarnya. Satrio sudah setuju untuk berangkat ke gereja bersama dengan Dinda dan Ryan pagi ini.
Tok… Tok… Tok…
Satrio mengetuk pintu kamar Dinda, tetapi tidak ada jawaban. Ia pikir putrinya pasti masih tidur sehingga ia masuk ke dalam kamar Dinda untuk mengambil beberapa dokumen yang sempat tertinggal di meja belajar Dinda. Saat Satrio membalikkan badannya, ia terkejut putrinya itu sudah duduk di atas ranjang.
“Tumben kamu cepet banget bangunnya, ini masih jam 4 pagi,” kata Satrio dengan nada terkejut.
“Hah? Beneran masih jam 4 pagi?” tanya Dinda. Ia terkesiap setelah menoleh ke arah jam dinding yang ada di kamarnya. Ia benar-benar bangun tepat pada pukul 4 pagi.
“Iya, kamu udah gak sabar ya mau dijemput sama Ryan?” tanya Satrio sambil tersenyum menyeringai.
“Bukan gitu, Pa. Aku semangat mau ke gereja,” jawab Dinda.
“Semangat mau ke gereja dan semangat mau ketemu sama Ryan,” sahut Satrio menambahkan. Dinda tidak lagi menyahut Papanya karena sebenarnya ia masih merasa ngantuk.
“Papa mau balik ke kamar aja. Kamu tidur lagi aja, muka kamu masih keliatan ngantuk,” kata Satrio. Kemudian, ia keluar dari kamar putrinya itu dan kembali ke kamarnya.
“Kira-kira dia udah bangun belum ya?” gumam Dinda. Ia segera menyalakan ponselnya lalu melihat kapan terakhir kali sosial media Ryan aktif. Semua sosial media Ryan terakhir aktif pukul 22:00 kemarin malam.
Ternyata dia belum bangun, batin Dinda.
Dinda pun memilih baju yang akan ia kenakan hari ini. Setelah beberapa saat, akhirnya Dinda memilih memakai gaun berwarna merah tua yang berlengan pendek. Lalu, Dinda segera mandi dan menyatok rambutnya menjadi curly. Ia ingin tampil beda hari ini. Setelah itu, ia memakai pita berwarna merah di sisi kiri rambutnya.
Dinda baru saja akan memakaikan lipstik merah ke bibirnya namun ponselnya sudah berdering. Ia pun meraih ponselnya untuk melihat siapa yang meneleponnya. Setelah itu, Dinda segera mengangkat panggilan video itu dengan semangat.
“Good morning, Lil’ sis,” sapa Cindy sambil melambaikan tangan kirinya ke kamera. Saat ini, Cindy sedang kuliah di London, jadi ia hanya bisa mengobrol dengan Dinda via chat atau telepon.
“Morning too,” sahut Dinda yang langsung ikut melambaikan tangan kirinya ke kamera.
“Wow, you look so pretty today!” seru Cindy. Ia terkejut melihat adiknya yang sangat cantik karena memakai gaun dan pita berwarna merah di hari natal.
__ADS_1
“Thank you,” kata Dinda.
“Kenapa Cici telepon aku pagi-pagi?” tanya Dinda.
“Gapapa, Cici cuma kangen aja sama kamu. Oh, di sana masih pagi ya. Di sini udah siang,” sahut Cindy.
”Haha, kalau Cici kangen sama aku pulang dong ke sini waktu liburan,” balas Dinda sambil tertawa.
“Iya, nanti Cici pulang kalau udah liburan semester,” kata Cindy.
“By the way, I want to say Merry Christmas to you and Dad. Tapi Cici teleponnya kepagian ya di sana. Nanti Cici telepon Papa lagi aja kalau udah siang di sana,” imbuh Cindy sambil tersenyum.
"Merry Christmas too, Sis!"kata Dinda dengan antusias.
“Iya. Kayaknya kamu udah siap-siap mau pergi ke gereja. Cici gak ganggu lagi deh. Bye, Din,” sahut Cindy.
“Bye," kata Dinda.
Dinda lanjut memakai lipstik dan eyeliner serta menambahkan rona merah di kedua pipinya. Lalu, Dinda juga memakai minyak wangi yang berbeda dari biasanya. Kemudian, Ia memakai tas selempang berwarna merah yang senada dengan gaunnya. Ia pun turun ke lantai bawah untuk mencari sepatu haknya yang berwarna merah. Setelah memakai sepatu merah itu, ia pergi ke ruang makan dan makan bersama Papanya.
“Oke, makasih,” sahut Satrio.
“Papa aja ya yang sambut dia, kamu belum selesai makan,” kata Satrio. Ia pun melangkah ke ruang tamu untuk menemui Ryan.
“Halo, Om,” sapa Ryan sambil mengulurkan tangan kanannya untuk menyalami Satrio.
“Halo, Ryan. Ayo duduk,” sahut Satrio sembari membalas uluran tangan Ryan.
“Minum dulu,” kata Satrio sambil memberikan gelas berisi air putih yang sudah tersedia di atas meja ke arah Ryan.
“Makasih, Om,” kata Ryan. Ia pun meneguk air putih itu.
__ADS_1
“Dinda masih sarapan, jadi Om yang sambut kamu,” kata Satrio.
“Iya, Om. Om, apa kabar?” tanya Ryan dengan ramah.
“Om baik, kamu gimana kabarnya?” balas Satrio.
“Aku baik, Om,” jawab Ryan sambil tersenyum.
“Kamu bisa main catur gak?” tanya Satrio.
“Bisa, Om,” jawab Ryan sambil mengangguk.
”Kalau gitu, kapan-kapan kamu mau main catur sama Om?” tanya Satrio.
“Mau banget, Om. Malah aku seneng kalau Om mau main catur bareng aku,” sahut Ryan sambil tersenyum.
“Haha, kamu bisa aja,” kata Satrio yang spontan tertawa setelah mendengar jawaban Ryan.
“Lagi ngomongin apa nih? Kayaknya asik banget,” tanya Dinda sembari berjalan menghampiri mereka berdua.
“Enggak kok. Kamu udah siap?” tanya Satrio.
“Udah,” jawab Dinda sambil mengangguk.
“Ayo kita berangkat,” ajak Satrio. Mereka bertiga pun berangkat ke gereja bersama. Setelah ibadah di gereja selesai, Satrio mengantarkan Dinda dan Ryan ke salah satu mall yang ada di sekitar gereja.
“Kalian masih mau jalan-jalan, ‘kan? Nanti kalau kalian udah mau pulang, telepon supir aja buat jemput,” kata Satrio.
“Iya, Pa,” balas Dinda.
“Ryan, jaga Dinda baik-baik ya,” kata Satrio.
__ADS_1
“Oke, Om,” sahut Ryan sambil tersenyum. Lalu, ia dan Dinda turun dari mobil dan masuk ke dalam mall. Mereka melihat bahwa mall ini sudah lumayan ramai meskipun masih pagi.
Bersambung……