
“Hahaha, kalian cocok tau,” sahut Ayu sembari menatap ke arah Clarissa dan Leo secara bergantian.
“Enggak ah, mana ada cocoknya, tadi itu cuma kebetulan aja,” elak Clarissa.
Ting… tong…
“Bel sekolah udah bunyi tuh, ayo kita masuk ke kelas!” ajak Amanda sambil menggandeng lengan Budi.
“Cie… couple baru udah mesra aja nih,” ledek Leo. Mendengar itu, Dinda langsung menundukkan kepalanya karena malu.
“Gak boleh iri,” sahut Ryan sambil memberikan tatapan datar kepada Leo.
“Hahaha, enggak kok,” sahut Leo sambil tersenyum. Mereka semua akhirnya memasuki ruang kelas masing-masing dan belajar dengan tekun selama jam pelajaran.
*****
Di dalam restoran
“Akhirnya kita ke sini lagi,” kata Amanda sambil tersenyum.
“Iya, udah lama ya kita gak ke sini,” sahut Dinda.
“Iya, kita sekarang mau duduk di sebelah mana?” tanya Ayu.
“Di sana aja, kayak waktu itu,” jawab Amanda.
“Oke,” jawab yang lainnya secara bersamaan. Mereka pun menuju ke meja yang berada di sudut paling kiri di restoran tersebut.
“Aku jadi keinget, ternyata dulu kita bandel juga, ya, Ayu,” kata Amanda sembari mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi.
“Iya, dulu kita selalu datang ke sini hampir setiap hari cuma buat ngobrolin hal yang gak jelas. Hahaha.” Ayu mulai tertawa dan disusul Amanda dan Dinda yang juga ikut tertawa bersamanya.
“Untung ada kamu, Din. Kalau gak aku sama Ayu pasti masih bandel kayak dulu,” celetuk Amanda.
“Makanya jangan kebanyakan galauin cowok. Untung Budi akhirnya mau juga sama kamu, Man,” sembur Ryan tiba-tiba.
__ADS_1
“Ih, kamu mah begitu amat sih!” teriak Amanda tidak terima.
“Aku begitu gimana?” tanya Ryan sambil mengangkat sebelah alisnya.
“Gak asik!” seru Amanda sambil mengerucutkan bibirnya.
“Hahaha,” tawa Ryan.
“Aku memang gak asik.” Ryan mengakuinya seraya mengangkat kedua tangannya ke samping.
“Cih!” seru Amanda sambil menunjukkan ekspresi kesalnya. Namun, ia sebenarnya tidak benar-benar serius merasa kesal.
“Eh, kamu inget gak waktu itu aku memang curhat tentang Budi, tapi kamu ‘kan juga curhat tentang-” Amanda mulai membuka pembicaraan lagi. Tetapi, kali ini tatapan tajam Ryan seketika membuatnya langsung paham bahwa topik itu tidak seharusnya dibahas saat ini sehingga ia langsung menghentikan kalimatnya.
“Ehem, maksudnya, waktu itu… masa-masa di mana kita masih belum dewasa, hahaha,” tawa Amanda sambil memukul lengan kanan Ryan karena kebetulan dirinya duduk di samping kiri Ryan.
“Hmm,” balas Ryan tidak acuh. Namun, mereka berdua tidak sadar sedari tadi Dinda terus memperhatikan mereka. Walaupun Dinda tidak terlihat kesal, namun Leo bisa segera mengetahui bahwa Dinda sedang sedih karena melihat kedekatan Ryan dan Amanda.
“Udah-udah jangan ribut! Makanannya udah dateng tuh,” kata Ayu.
*****
“Din,” panggil Leo.
“Iya?” balas Dinda.
“Kalau kamu ada masalah, boleh cerita sama aku. Aku selalu siap dengerin kamu kapanpun,” jawab Leo sambil mengusap pelan puncak kepala Dinda untuk menghiburnya.
“Iya, makasih, Leo. Selama ini, kamu udah baik banget sama aku. Kamu juga kalau mau cerita boleh cari aku,” sahut Dinda yang terlihat lesu. Ryan langsung mengerutkan keningnya saat mendengar kalimat ini. Bahkan Dinda tidak pernah berbicara seperti itu padanya. Kenapa Dinda malah mengatakan itu pada Leo? Hati Ryan mulai terasa panas saat ini sehingga ia langsung menghampiri kekasihnya yang sedang mengobrol dengan sepupunya itu.
“Sayang,” panggil Ryan.
“Iya, kenapa?” sahut Dinda datar.
“Ayo balik!” ajak Ryan setelah selesai mencuci kedua tangannya. Dinda hanya mengangguk sebagai balasan. Ryan segera memeluk lengan Dinda dan berjalan pergi tanpa menghiraukan Leo yang sedang tersenyum penuh kemenangan saat berhasil membuat ia cemburu.
__ADS_1
*****
Di depan pintu restoran
“Kita duluan, ya, sampai besok,” kata Budi.
“Makasih traktirannya, Rangga dan Ryan, kita pamit dulu. Bye,” kata Amanda sambil melambaikan tangannya lalu masuk ke mobil untuk diantar pulang bersama Budi.
“Kita juga pamit, ya, dadah,” kata Ayu. Ia juga masuk ke mobil untuk diantar ke rumah oleh Rangga. Tinggal Leo, Ryan, Dinda, dan Clarissa yang masih berdiri di depan pintu restoran itu.
“Kalian pulang barengan?” tanya Leo pada Ryan.
“Iya, kalau dia mau dianterin,” jawab Ryan sambil menatap Dinda.
“Yaudah deh, Clar, mau aku anter?”
“Gapapa, aku bisa pulang sendiri kok,” tolak Clarissa.
“Karena kamu gak suka naik motor?” sahut Leo.
“Bukan, tapi… nanti ngerepotin kamu,” jawab Clarissa jujur.
“Gapapa, nih helmnya, ayo naik!” seru Leo yang sudah duduk di atas motornya. Clarissa memakai helm itu lalu naik ke bangku belakang. Leo membawa motor* sport *hari ini, jadi Clarissa yang tidak terbiasa naik motor mau tidak mau harus memeluk pinggang Leo supaya ia tidak terjatuh. Dinda yang melihat ini hanya tersenyum tipis.
“Maaf, aku hari ini cuma bawa motor, kamu mau aku anterin pulang gak?” tanya Ryan sambil memakai jaketnya.
“Gapapa kok, aku suka naik motor,” jawab Dinda sambil tersenyum.
“Hmm, oke deh, ini helmnya,” kata Ryan sambil menyerahkan helmnya kepada Dinda.
“Makasih.” Dinda menerima helm itu lalu memakainya. Setelah itu, ia segera menaiki bangku belakang motor *sport *milik Ryan namun kali ini ia hanya berpegangan pada pundak Ryan.
Dia kenapa? Bukannya dulu berani peluk? gumam Ryan dalam hati.
Halo semuanya, mungkin bab ini adalah up terakhir dari author sampai beberapa hari ke depan karena author akan menghadapi Ujian Sekolah. Author minta maaf atas ketidaknyamanan ini dan terima kasih banyak atas dukungan kalian kepada karya author selama ini.
__ADS_1