
"Kalian sudah rapat? Bagaimana hasilnya?" tanya Ryan kepada Matthew.
"Iya. Kami sempat rapat sekali. Ini hasilnya. Tapi, hasil ini masih belum pasti. Kami akan mendiskusikannya lagi di rapat berikutnya dengan para guru besok." jawab Matthew sambil memberikan sebuah file berisi hasil rapat yang kemarin.
"Oke. Bagaimana jika sore ini kita adakan rapat lagi?" tanya Ryan.
"Boleh saja." jawab Matthew sambil mengangguk. Namun, raut wajah Matthew seketika berubah menjadi pucat saat teringat sesuatu.
"Ryan, apa kamu mau..." kata Matthew.
"Kenapa?" tanya Ryan yang bingung kenapa Matthew tidak berbicara lagi.
"Tidak. Apa kamu bersedia bernyanyi saat Hari Valentine nanti?" tanya Matthew ragu.
"Aku?" tanya Ryan.
"Iya. Soalnya dari antara semua murid laki-laki hanya kamu yang paling...kamu..." sahut Matthew dengan terbata-bata.
"Oke, aku mengerti. Aku akan bernyanyi kalau begitu." kata Ryan.
"Benarkah? Kamu mau?" tanya Matthew senang.
"Hmm." jawab Ryan.
"Terima kasih, Ryan. Kamu yang terbaik." kata Matthew sambil memeluk lengan Ryan. Ryan merasa ada yang salah dari temannya ini.
"Matt, cukup. Nanti aku tidak bisa mengenalimu lagi kalau kamu terus-terusan begini." kata Ryan yang merasa risih.
"Hehe. Iya, maaf. Aku masuk kelas dulu. Dah." sahut Matthew sambil melambaikan tangan ke arah Ryan.
...****************...
Ruang OSIS
"Bagaimana? Apa kalian semua sudah setuju dengan ini?" tanya Ryan memastikan sambil menunjuk ke arah file berisi nama-nama MC dan PIC yang tadi diberikan Matthew kepadanya.
"Ryan, rapat kemarin aku tidak ikut karena aku izin kedukaan. Aku tidak mau menjadi MC. Aku mau jadi PIC lomba puisi." kata Alex.
"Oke. Siapa yang sukarela mau menjadi MC untuk acara Hari Valentine?" tanya Ryan.
"Tidak ada?" tanya Ryan lagi.
__ADS_1
"Oke. Kalau tidak ada yang mau berarti aku saja yang menjadi MC." kata Ryan.
"Kalian semua sudah setuju, 'kan?" tanya Ryan.
"Sudah." jawab 25 orang lainnya. OSIS di SMA Tunas Bangsa II berjumlah 26 orang.
"Kalau begitu rapat hari ini sampai disini saja. Terima kasih atas kerjasamanya." kata Ryan singkat. Ia bangkit dari duduknya lalu keluar bersama dengan yang lainnya dari ruangan itu.
...****************...
"Um.. Ryan." panggil Matthew. Saat ini, mereka berada di lobi sekolah.
"Apa?" tanya Ryan.
"Kamu yakin mau menjadi MC juga?" tanya Matthew dengan raut wajah penuh kekhawatiran.
"Iya." jawab Ryan singkat.
"Tapi, bagaimana dengan.. kamu 'kan juga harus bermain basket, bernyanyi, serta berpidato juga? Apa kamu yakin untuk menjadi MC juga?" tanya Matthew ragu. Ia bukan meragukan kemampuan Ryan, ia meragukan tubuh Ryan. Bagaimanapun, ia tahu kalau Ryan baru saja sembuh dari penyakit demamnya.
"Iya, aku yakin. Gapapa. Aku akan baik-baik saja. Jangan khawatir." sahut Ryan.
"Baiklah. Tapi, jangan terlalu keras pada dirimu. Kamu bisa meminta bantuanku kapanpun." kata Matthew.
"Sama-sama. Apa kamu akan pulang sekarang?" tanya Matthew.
"Tidak. Aku meminta Pak Herman untuk menjemputku jam 7." jawab Ryan.
"Oh. Kalau begitu, aku pulang dulu. Sampai besok." sahut Matthew sambil berjalan menuju ke mobilnya.
"Ya. Sampai besok." balas Ryan.
...****************...
"Tu-.. Ryan. Ada masalah." kata Pak Herman setelah Ryan duduk di kursi penumpang.
"Masalah apa?" tanya Ryan.
"Tuan Besar Jonathan mengalami kecelakaan mobil tadi sore." jawab Pak Herman. Ada beberapa tetes keringat yang terlihat jelas di wajah lelaki paruh baya itu karena cukup kaget tuannya mengalami kecelakaan.
"Apa!" sahut Ryan kaget.
__ADS_1
"Ryan, tenang dulu. Tuan besar langsung dibawa ke ruang UGD tadi." kata Pak Herman mencoba menenangkan tuan mudanya itu.
"Bagaimana aku bisa tenang? Tolong lebih cepat menyetirnya!" seru Ryan.
"I-iya, tuan muda." sahut pak Herman. Ryan dan Pak Herman hanya bisa berdoa agar Jonathan baik-baik saja.
...****************...
"Non Dinda!" panggil seorang wanita paruh baya dengan wajah senang. Ia sangat senang Dinda datang mengunjunginya lagi.
"Mbak Fina!" balas Dinda.
"Bagaimana kabar mbak?" tanya Dinda.
"Mbak baik, non. Kalau non bagaimana? Apa non sehat?" tanya Mbak Fina.
"Aku sehat, mbak. Ini buat mbak dan Kenzo." kata Dinda sambil menyerahkan kantong berisi dua bungkus katering kepada Mbak Fina.
"Non, tidak perlu repot-repot." kata Mbak Fina.
"Tidak kok, mbak. Ambillah." sahut Dinda. Mbak Fina masih tidak mau mengambil kantong itu.
"Mbak Fina. Kumohon, ambil saja." kata Dinda sambil menyerahkan kantong itu lagi.
"Terima kasih banyak ya, non. Entah bagaimana hidup mbak jika mbak tidak bertemu non saat itu." kata Mbak Fina.
"Sudahlah, mbak. Mbak tidak perlu memikirkan itu. Sekarang, mbak punya aku yang akan selalu membantu mbak." sahut Dinda.
"Tapi, mbak gak enak sama non. Non udah banyak bantu mbak dan Kenzo selama ini. Setiap non Dinda berkunjung, non selalu membawakan mbak dan Kenzo makanan enak. Mbak jadi repotin non." kata Mbak Fina.
"Gapapa, mbak. Aku gak merasa direpotin kok. Jadi, mbak jangan merasa gak enak. Oh iya, Kenzo dimana?" tanya Dinda berusaha menelusuri rumah kayu yang butut itu. Tapi, ia tidak menemukan Kenzo disana.
"Dia.." Mbak Fina baru akan menjawab tetapi Kenzo sudah terlebih dahulu mendatangi Dinda.
"Kak Dinda!" panggil Kenzo senang. Ia berlari ke arah Dinda lalu memeluknya.
"Kenzo!" Dinda pun membalas pelukan Kenzo. Namun, ia merasa ada yang tidak beres saat tubuhnya bersentuhan dengan Kenzo. Benar saja, Kenzo sedang sakit demam.
"Kenzo. Kamu kenapa?" tanya Dinda khawatir.
"Tubuh kamu panas begini. Kamu pasti demam. Ayo ikut Kak Dinda ke rumah sakit sekarang!" kata Dinda. Kenzo hanya menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Bersambung.....