Ketos Tampan Itu, Kekasihku

Ketos Tampan Itu, Kekasihku
Rencana Tunangan


__ADS_3

Lobi SMA Tunas Bangsa II


“Akhirnya ujiannya selesai juga,” kata Leo sambil menghela napas panjang.


“Iya, lega banget rasanya," sahut Rangga sambil tersenyum senang.


“Karena ujiannya udah selesai, kita mau pergi ke mana nih sekarang?" tanya Ayu yang selalu mengajak mereka semua untuk pergi bersama-sama.


“Mau ke mall?” cetus Clarissa.


“Masa ke mall mulu, bosen ah,” kata Rangga.


“Terus kita mau ke mana?” tanya Clarissa sambil menatap wajah Ayu.


"Um.." Ayu mulai memikirkan tempat-tempat kencan yang tidak membosankan.


“Guys, aku sama Dinda gak ikut pergi ya kali ini,” kata Ryan.


“Kenapa? Kalian mau ke mana?” tanya Leo penasaran.


“Ke rumah aku, bye,” jawab Ryan yang langsung menuntun Dinda pergi dari situ. Leo pun menggelengkan kepalanya karena ia sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


...****************...


Mobil yang Ryan kemudikan sudah berhenti di garasi rumahnya. Ia segera melepas sabuk pengaman yang ia kenakan dan menoleh ke arah Dinda yang duduk di sebelahnya.


“Sayang, kamu gugup?” tanya Ryan dengan lembut.


“Iya, sedikit.” Dinda mengangguk. Ryan pun menautkan kelima jari tangan kirinya dengan kelima jari tangan kanan Dinda.


”Kamu gak perlu gugup, Sayang. Aku bakal selalu gandeng tangan kamu kayak gini di dalam nanti,” kata Ryan sambil menatap kedua mata Dinda untuk meyakinkannya.

__ADS_1


“Makasih, Sayang,” sahut Dinda sambil tersenyum.


“Sama-sama. Ayo masuk,” ajak Ryan yang ikut tersenyum setelah melihat pacarnya tersenyum. Mereka berdua pun masuk ke dalam rumah dan langsung disambut oleh Pak Herman yang entah sejak kapan sudah berdiri di dekat pintu rumah Ryan.


“Selamat siang, Tuan Muda,” sapa Pak Herman sambil membungkuk hormat.


“Siang juga, Pak Herman," balas Ryan sambil tersenyum. Pak Herman pun mengalihkan pandangannya kepada wanita yang berdiri di samping kiri Ryan.


"Selamat siang, Nona Dinda," kata Pak Herman sambil membungkuk.


"Selamat siang, Pak." Dinda tersenyum sambil mengingat Ryan yang sekarang berdiri di sebelahnya ini adalah Ryan yang ramah kepada semua orang.


“Halo, Ryan, Dinda. Kalian udah di sini dari kapan?" tanya Nadia dengan ramah.


"Halo, Tante. Aku sama Ryan baru aja sampe di sini," jawab Dinda sambil tersenyum. Meski ia agak gugup karena ini pertama kalinya ia bertemu dengan orang tua Ryan.


"Kamu tegang, Dinda. Jangan takut, Mama gak gigit kok," kata Nadia sambil tertawa untuk mencairkan suasana. Sementara itu, Ryan masih diam saja seperti patung.


"Dinda, Tante penasaran waktu itu gimana Ryan menyatakan cinta ke kamu. Boleh gak kamu ceritain ke Tante?" tanya Nadia sambil tersenyum.


"Ma..." Ryan menghela napasnya, tidak percaya dengan apa yang baru saja Mamanya tanyakan kepada pacarnya.


"Mama cuma bercanda kok." Nadia tertawa melihat ekspresi Ryan yang pasrah.


"Jadi, kapan kalian menikah? Mama mau cepet-cepet punya cucu," cetus Nadia sambil menatap Ryan dan Dinda secara bergantian.


"Ma, aku sama Dinda baru aja selesai ujian. Pengumuman kelulusan aja belum, masa Mama udah mikir sampe ke sana?" tanya Ryan kaget.


"Memangnya kamu takut gak lulus?" sahut Nadia sambil menatap kedua mata Ryan.


"Bukan gitu, tapi aku sama Dinda belum kuliah." Ryan segera mengalihkan pandangannya dari Mamanya.

__ADS_1


"Dinda, kamu mau kuliah di mana?" tanya Nadia sambil menatap wajah Dinda.


"Di University of London, Tante," jawab Dinda sambil tersenyum.


"Kamu suka kota London, ya?" balas Nadia penasaran.


"Iya, Tante." Dinda mengangguk sambil tersenyum.


"Sama dong. Tante juga suka banget ke kota London. Kapan-kapan Tante bakal main ke sana deh, sekalian ketemu kamu di sana nanti," sahut Nadia dengan antusias.


"Oke, Tante," kata Dinda sambil tersenyum senang.


"Kalau Ryan mau kuliah di Harvard University karena jurusan kedokteran di sana bagus," sahut Nadia sambil menatap wajah putranya itu.


"Ryan, kamu sama Dinda bakal kuliah di negara yang berbeda. Jadi, kalau kalian masih mau bersama, kalian tunangan dulu aja sekarang," cetus Jonathan yang tiba-tiba muncul di belakang Ryan. Setelah beberapa saat tidak ada yang menyahut, Jonathan menjadi bingung dengan putranya dan Dinda yang tidak menyampaikan pendapat mereka.


"Kalian masih mau hubungan kalian berlanjut, 'kan?" tanya Jonathan memastikan. Ia menatap Ryan dan Dinda secara bergantian untuk meminta jawaban.


"Iya, Pa. Aku masih mau hubungan aku sama Dinda berlanjut," jawab Ryan dengan nada yakin.


"Kalau kamu, Dinda?" tanya Jonathan sambil menoleh ke arah Dinda.


"Iya, Om. Aku setuju buat tunangan sama Ryan." Dinda mengangguk dan tersenyum.


"Kalau gitu, kita cuma perlu pilih hari sama cetak undangannya. Nad, bantu anak-anak juga, ya?" tanya Jonathan yang ingin meminta bantuan istrinya.


"Oke, Mama bakal bantu kalian," sahut Nadia sambil mengangguk dan tersenyum kepada Ryan dan Dinda.


"Makasih, Pa, Ma," kata Ryan sambil tersenyum.


Bersambung……

__ADS_1


__ADS_2