
"Kalau begitu, kasih tau aku siapa yang kamu sukai." kata Viona.
"Dinda." sahut Ryan.
"Apa?!" tanya Viona kaget.
"Kenapa?" tanya Ryan balik bertanya.
"Ah, tidak apa-apa. Aku hanya tidak menduga kalau kamu menyukainya." kata Viona sambil merapihkan rambutnya.
"Jadi, dia juga menyukai Dinda? Benar-benar merepotkan." gumam Leo yang masih mengamati Ryan dan Viona.
"Oh, kalau begitu aku pergi dulu." kata Ryan.
"Iya, pergilah." sahut Viona.
"Dinda.. Kenapa Dinda selalu beruntung? Sudah pintar, cantik, baik hati, dan juga disukai Ryan. Sudahlah, Vi. Dunia memang tidak adil." kata Viona menghibur dirinya sendiri.
"Apa lagu yang Ryan buat kemarin.. benar-benar ia tujukan untuk Dinda?" gumam Leo.
"Kacau ini. Aku tidak boleh keduluan sama dia." kata Leo. Ia bergegas mencari keberadaan Dinda.
"Din." panggil Leo.
"Iya?" sahut Dinda.
"Leo? Ada apa?" tanya Dinda bingung.
"Tidak apa-apa. Oh, by the way sebentar lagi Ryan akan menyanyikan sebuah lagu. Apa.. kamu berdiri disini untuk menunggunya?" tanya Leo sambil mengangkat alisnya. Namun, raut wajahnya tidak menujukkan muka senang seperti biasanya.
"Hah? Tidak." jawab Dinda sambil tersenyum. Lebih tepatnya, sebuah senyuman yang dipaksakan.
"Selamat siang semuanya. Hari ini aku ingin membawakan sebuah lagu untuk.. orang yang aku anggap spesial. Lirik dari lagu ini aku sendiri yang menulisnya. Semoga setiap orang yang mendengarkan laguku ini bisa merasa tenang." kata Ryan yang sekarang sudah berada di atas panggung.
Bagaimana rasanya?
Memiliki orang yang selalu
Membuat hari-harimu berwarna
Melihatnya seperti melihat cahaya
Di malam yang dingin
__ADS_1
Kaulah pujaan hatiku
Hanya kamu yang ada di hatiku
Kamulah yang tercantik
Di seluruh dunia
Ryan menyanyikannya dengan penuh penghayatan. Sambil tersenyum dan sesekali melirik ke arah Dinda. Namun, Ryan tidak sadar, sedari tadi Clarissa juga memperhatikan dirinya dan Dinda.
"Terima kasih sudah mendengarkan." kata Ryan sambil membungkuk memberi hormat kepada orang-orang yang sudah mendengarkannya bernyanyi.
"Menurutmu, dia pandai bernyanyi?" tanya Leo.
"Ah, i-iya. Entah kenapa aku merasa tenang saat mendengar suaranya." jawab Dinda.
"Kamu benar. Dia memang menulis dan menyanyikan lagu itu hanya untukmu." kata Leo sambil menarik napasnya panjang.
"Apa?" tanya Dinda sedikit terkejut.
"Tidak apa-apa." jawab Leo. Namun, Dinda yakin ia tidak salah dengar tadi.
"Apa mereka.. pacaran? Leo dan Dinda?" gumam Clarissa.
"Manis sekali dia. Sayangnya, dia tidak bisa menjadi kekasihku. Ryan, aku harap Dinda yang kamu sukai itu bisa menyukaimu balik." kata Viona sambil tersenyum.
"Ryan sudah gila! Dia menulis lagu itu untukku! Ica, aku tidak bisa bernapas lagi.." kata Angel dengan antusias.
Huh.. Ada-ada saja anak satu ini. Mana mungkin seorang Ryan Jonathan mau menuliskan lagu untukmu, Gel? batin Ica.
"Wah, Ryan memang sempurna. Siapapun yang jadi kekasihnya nanti, aku akan sangat iri padanya." kata Karen.
"Hei, kamu tidak menyukainya juga, 'kan? Apa kamu mau menjadi sainganku?" tanya Angel dengan nada sinis.
"Tidak. Aku hanya mengatakan fakta saja. Lihat, selain tampan, ia juga pintar dan berbakat. Tentu saja semua siswi akan iri dengan kekasihnya nanti." sahut Karen malas. Ia merasa sahabatnya ini terlalu tergila-gila sampai melebihi batas yang seharusnya.
"Dia menyanyikan lagu ini dengan penuh penghayatan. Hah, tapi sayangnya dia cukup kaku dalam bernyanyi." kata Reynaldo, teman sekelas Ryan.
"Si*l, dia bernyanyi dengan baik." timpal Devan, sahabat Reynaldo dari kelas XI B.
"Hei, kalian. Kenapa malah mengomentari yang tidak-tidak? Kalau mau puji cukup puji saja. Kalian mengomentarinya karena iri tidak bisa bernyanyi dan membuat lagu, hah?" celetuk Angel kesal.
"Astaga. Pantas Ryan tidak pernah melirikmu, Gel. Kamu bahkan sebuas hewan macan." sahut Reynaldo sambil tertawa.
__ADS_1
"Apa lu bilang barusan?" tanya Angel dengan nada meninggi.
"Udah lah, males debat sama macan. Sampai nanti, macan." kata Reynaldo sambil menjulurkan lidahnya.
"Hei." teriak Angel.
"Dadah, macan." sahut Devan, sahabat Reynaldo.
"Si*l, beraninya mereka!" gerutu Angel sambil membuang muka dan mengepalkan tangannya.
"Angel, jangan marah. Mereka hanya belum tahu siapa dirimu." timpal Karen.
"Huh." sahut Angel.
"Gel, Ryan akan bermain basket sebentar lagi. Sekarang mereka sedang bersiap-siap." kata Belinda berusaha mengalihkan perhatian Angel.
"Dimana?" tanya Angel senang.
"Di sana." sahut Mellisa sambil menunjuk ke arah ujung lapangan.
"Tampan sekali sayangku walaupun hanya dilihat dari jauh." sahut Angel. Keempat sahabatnya hanya bisa menggelengkan kepala mereka pasrah.
"Teman-teman." kata Ryan.
"Iya?" tanya Aldi.
"Kita harus melakukannya dengan baik kali ini." kata Ryan lagi.
"Setuju!" teriak seluruh anggota tim.
"1,2,3. Champion, Let's go!" seru seluruh anggota tim. Champion adalah tim basket SMA Tunas Bangsa II kelas XI. Hari ini, mereka akan melawan Soldier, tim basket kelas XII.
Kedua tim pun melakukan jump ball dan bola itu berhasil direbut Ryan. Ia menggiring bola itu menuju ke ring lawan, lalu melakukan gerakan pivot dan memasukkan bolanya ke dalam ring. Leo tersenyum sambil mengingat kejadian masa lalunya bermain basket bersama Ryan yang cengeng waktu mereka berdua berumur 7 tahun.
"Gol!" sorak para murid. Ryan pun tersenyum karena berhasil melakukannya lagi. Kapten Tim Soldier pun mengoper bola dari belakang garis pantul karena memang seperti ini peraturan dalam permainan bola basket.
"Bagaimana bisa dia tetap terlihat cakep sekali walaupun sudah keringatan?" tanya beberapa siswa.
"Aaaa, gantengnya." seru para siswi.
Setelah Ryan berhasil mencetak gol, bola sempat direbut oleh lawan. Karena badan lawan lebih besar, jadi, Ryan agak kesulitan merebut bolanya kembali. Untunglah Dimas berhasil merebutnya.
"Ryan, tangkap!" seru Dimas. Ia melemparkan bola itu ke arah Ryan dengan sangat keras sehingga bolanya mengenai kepalanya dan membuat kulit kepala bagian luarnya mengeluarkan darah. Meski begitu, Ryan tetap men-dribble bola yang sudah diberikan Dimas dan mencetak gol. Ryan terus berlari ke arah ring lawan dan melakukan free throw saat waktunya hanya tersisa 6 detik dan ia berhasil mencetak gol lagi. Setelah itu, wasit langsung menyilangkan tangan di depan dada pertanda ganti pemain dan Ryan langsung dilarikan ke rumah sakit.
__ADS_1
Bersambung......