Ketos Tampan Itu, Kekasihku

Ketos Tampan Itu, Kekasihku
Percakapan Bu Dini dengan Dinda


__ADS_3

“Kalian bener-bener cepet paham sama materi yang ini. Ibu seneng karena kalian bisa menjawab semua soal dengan benar. Hari ini masih mau lanjut materi lain lagi atau mau udahan?” tanya Bu Dini sembari menatap Ryan dan Dinda.


“Udah malem, Bu. Ibu pulang aja, nanti Ibu cape,” kata Ryan.


“Kamu ini banyak alesan. Ya sudah, Ibu sudahi sampai di sini.” Bu Dini merapikan barang-barangnya dan bersiap untuk pergi.


“Makasih, Bu,” kata Ryan sambil tersenyum.


“Dinda, Ibu boleh bicara berdua sebentar sama kamu?“ tanya Bu Dini sambil menoleh ke arah Dinda.


”Boleh, Bu,” jawab Dinda sambil mengangguk.


“Ayo kita bicara di depan,” ajak Bu Dini.


“Gak usah, Bu. Ibu sama Dinda bicara di dalam aja. Saya permisi keluar,” kata Ryan. Ia langsung keluar dari kamar dan menunggu di luar.

__ADS_1


“Ryan banyak berubah sejak dia mulai kenal sama kamu. Bahkan sekarang dia perhatian banget. Dia rela tunggu di luar kamarnya demi kamu,” kata Bu Dini sambil tersenyum.


“Masa sih, Bu? Awal aku kenal dia, dia cuma penasaran karena aku gak suka sama dia,” sahut Dinda terang-terangan.


”Dinda, dari kecil Ryan selalu menerima banyak pujian. Semua orang suka dia walaupun memang hanya karena wajahnya yang tampan. Sampai suatu hari, dia pernah bilang ke Ibu kalau ada wanita yang nolak dia. Saat itu, dia pasti sudah jatuh cinta sama kamu,” kata Bu Dini sambil tersenyum. Bu Dini sudah menganggap Ryan seperti anaknya sendiri sehingga ia sangat senang ketika melihat Ryan perlahan berubah menjadi orang yang lebih baik dan perhatian terhadap orang lain.


“Ryan orangnya cuek karena dari dulu orang tuanya gak perhatiin dia, jadi dia merasa memerhatikan orang lain bukanlah keharusan, tapi dia sebenernya anak yang baik. Kali ini, menurut Ibu, dia sayang banget sama kamu. Kalau sampai suatu hari nanti kalian berantem dan Ryan sakitin kamu, lebih baik kamu tinggalin dia karena dia gak pernah peduli sama wanita lain selain anggota keluarganya. Kamu satu-satunya harapan buat dia, Dinda. Ibu yakin dia gak akan pernah tinggalin kamu,” imbuh Bu Dini sambil tersenyum. Lalu, Bu Dini berpamitan dengan Ryan yang ada di luar kamar dan pergi meninggalkan rumah Ryan.


“Apa aja yang Bu Dini bilang ke kamu tadi?” tanya Ryan penasaran.


”Apa, ya? Aku lupa,” sahut Dinda sambil menghela napas.


“Eh, aku udah inget. Bu Dini bilang kamu itu orangnya cuek banget, tapi sebenernya kamu orang yang baik,” kata Dinda.


“Cuma itu aja yang dia bilang?” tanya Ryan memastikan.

__ADS_1


“Dia juga bilang kalau nanti kamu sakitin aku berarti aku harus tinggalin kamu,” jawab Dinda.


“Kok gitu?” balas Ryan tidak terima.


“Karena menurut Bu Dini cuma aku wanita yang kamu peduliin selain anggota keluarga kamu. Jadi, kalau kamu macem-macem-” sahut Dinda.


“Kamu mau tinggalin aku, hmm? Jangan harap,” timpal Ryan sambil memeluk Dinda.


“Kenapa? Kamu kira aku gak bisa tinggalin kamu?” tanya Dinda.


“Kamu bisa lakuin itu kalau kamu mau liat aku jadi Ryan yang dulu. Mungkin bisa lebih parah dari Ryan yang dulu,” jawab Ryan dengan nada lemas. Ia juga menutup kedua matanya.


“Sorry, Sayang. Aku gak bermaksud bikin kamu sedih.” Dinda menepuk-nepuk punggung Ryan untuk menenangkannya.


”Engga, Sayang. Aku bersyukur banget kamu ada di sisi aku sekarang. I love you,” kata Ryan sambil tersenyum.

__ADS_1


“Love you too,” sahut Dinda yang juga ikut tersenyum.


Bersambung……


__ADS_2