
Ting... Tong...
Bel pintu rumah Ryan berbunyi. Salah satu pembantu yang sudah sangat lama bekerja di rumah Ryan segera membukakan pintu rumah dan ia tampak sangat terkejut.
"Nyonya? Anda sudah kembali?" tanya pembantu itu.
"Iya, Bi," jawab Nadia sopan.
"Silakan masuk, Nyonya," kata pembantu itu. Nadia pun melangkah masuk ke dalam rumah yang super mewah itu dan ia langsung menuju ke ruang tamu.
"Bi, tolong panggilkan Pak Herman ke sini," jawab Nadia sambil tersenyum.
"Baik, Nyonya," sahut pembantu itu.
"Pak, Nyonya mau bertemu dengan Anda di ruang tamu," kata pembantu itu kepada Herman. Herman pun mengangguk sebagai jawaban dan berjalan ke ruang tamu untuk menemui Nadia.
"Ada apa, Nyonya?" tanya Herman sopan.
"Aku mau bertemu dengan Tuanmu. Di mana dia?" tanya Nadia.
"Tuan tidak bisa bertemu dengan Anda sekarang, Nyonya," jawab Herman sopan.
"Aku tidak peduli dia bisa bertemu denganku atau tidak, tapi aku butuh penjelasannya soal pernikahan putriku," balas Nadia.
"Putri? Lu udah lama ninggalin dia," sahut Jonathan yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Herman.
"Gua ninggalin anak-anak karena lu yang larang gua buat bawa anak-anak ikut sama gua," kata Nadia dengan nada tinggi. Jonathan pun memberi aba-aba kepada Herman untuk pergi dari sana.
"Jadi, apa mau lu dateng ke sini hari ini? Penjelasan? Iya, gua jodohin dia sama Alvaro, pemuda yang tampan dan kaya. Pernikahan mereka baik-baik aja. Lu gak perlu khawatir," kata Jonathan yang langsung masuk ke inti pembicaraan.
"Lu aja gak ngundang gua buat dateng ke acara pernikahan anak gua!" seru Nadia kesal.
__ADS_1
"Lu udah gak punya hubungan lagi sama anak-anak," balas Jonathan.
"Terus apa hubungan lu ama mereka? Seorang Papa? Bukannya lu juga gak pernah dengerin pendapat mereka?" tanya Nadia sinis.
"Gua yang besarin mereka sampai sekarang," jawab Jonathan sambil mengedikkan bahunya.
"Di mana Cilla sekarang?" tanya Nadia yang langsung mengalihkan topik pembicaraan.
"Dia lagi bulan madu sama Alvaro," jawab Jonathan.
"Terus di mana Ryan?" tanya Nadia lagi.
"Lu udah lupa berapa umur Ryan? Udah jelas dia masih ada di sekolah sekarang," sahut Jonathan kesal.
"Gua tau dia masih ada di sekolah, tapi sekolah apa? Kelas berapa? Jam berapa dia pulang?" tanya Nadia. Jonathan yang mendengar pertanyaan beruntun dari Nadia pun menghela napas dalam-dalam.
"Herman," panggil Jonathan kepada Herman yang sedang berdiri di sudut ruang tamu.
"Kau antarkan saja Nyonya ke sekolah Ryan nanti. Aku mau bertemu dengan klien sekarang," kata Jonathan sambil bangkit berdiri lalu beranjak pergi dari sana.
"Baik, Tuan," sahut Herman sambil mengangguk.
...****************...
Sore hari di sekolah
"Ryan," panggil Nadia. Ryan menoleh ke pemilik suara itu sambil berusaha mengenali wanita yang memanggilnya itu. Ryan pun menatap ke arah Pak Herman dan Pak Herman hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Ini Mama. Kamu udah gak ngenalin Mama?" tanya Nadia sambil memegang pundak anaknya itu.
"Ma? Kenapa Mama bisa ada di sini?" sahut Ryan bingung.
__ADS_1
"Ceritanya panjang, Nak. Tapi Mama seneng liat kamu udah tumbuh sebesar ini," jawab Nadia sambil tersenyum.
"Ayo kita pulang," ajak Nadia sambil menuntun tangan kanan Ryan.
...****************...
Sore hari di rumah Jonathan
"Saat itu, Mama belum bisa mengendalikan emosi Mama. Seharusnya hari itu Mama gak pergi tinggalin kalian berdua. Maafin Mama, Ryan," kata Nadia sambil menangis.
"Ma, semuanya udah berlalu. Mama gak perlu merasa bersalah," balas Ryan sambil mengambilkan beberapa lembar tisu dan menyodorkannya ke arah Ibunya itu.
"Kamu pasti benci sama Mama, 'kan?" tanya Nadia.
"Aku gak pernah benci sama Mama," jawab Ryan.
"Kamu gak marah waktu Mama tinggalin kamu?" tanya Nadia bingung.
"Awalnya, aku marah. Waktu itu, aku belum ngerti apa-apa. Sekarang aku ngerti. Semua keputusan pasti ada resikonya. Mama milih pergi karena resikonya lebih kecil daripada kalau Mama milih tinggal sama Papa. Iya, 'kan?" tanya Ryan.
"Tapi Mama nyesel ninggalin kalian berdua," sahut Nadia sambil terisak.
"Ma, Mama jangan merasa bersalah lagi. Aku sama Ci Cilla udah maafin Mama dari dulu," kata Ryan sambil tersenyum. Nadia pun merasa lega setelah mendengar perkataan Ryan dan ia mulai menghapus air matanya.
"Boleh Mama tinggal di sini buat jagain kamu?" tanya Nadia.
"Boleh," jawab Ryan sambil mengangguk.
"Makasih, Ryan," kata Nadia sambil memeluk putranya itu dengan erat.
"Sama-sama, Ma," sahut Ryan yang langsung membalas pelukan Mamanya.
__ADS_1
Bersambung......