
"Manusia tampan yang sama dinginnya dengan es di kutub utara." gumam Ryan sambil mengancing jas biru tua miliknya. Hari ini, Jonathan Hartono, Ayahnya, akan pulang ke Jakarta dan akan sampai sekitar 2 jam lagi. Oleh karena itu, Ryan beserta Pak Herman sudah bersiap untuk segera pergi ke bandara menyambut kedatangan Jonathan.
Tok...tok...tok...
"Permisi, Tuan muda." sahut Herman diluar pintu kamar Ryan.
"Ya, masuk saja."
"Tuan.." Herman sempat mematung sesaat sambil tersenyum tipis melihat tuan mudanya itu memakai jas merk mahal. Melihatnya seperti itu, Herman kagum karena ketampanan dan aura ceria dari Ryan semuanya sama dengan Jonathan, Tuan besarnya.
"Apa?" tanya Ryan yang langsung membuat Herman sadar dari lamunannya.
"Ehem. Apa tuan muda sudah siap?" tanya Herman.
"Ya. Saya sudah siap." sahut Ryan. Seusai mengatakannya, Ryan mendapat telepon dari papanya.
Hah? Dia tidak memarahiku karena memanggilnya tuan muda. Ada apa dengannya? Apa tuan muda sedang ada masalah? Hah, masa bodo! Malah bagus jika dia tidak membentakmu, Herman! batin Herman.
"Halo, Nak." sapa Jonathan
"Halo, Pa? Ada apa? Kenapa menelepon? Ryan tidak lupa kok, Pa."
"Tidak, Ryan. Papa tahu anak genius papa memang tidak lupa. Papa mau minta tolong."
"Minta tolong apa, Pa?"
"Papa memang pulang hari ini. Tapi, seperti yang kamu tahu, Ryan. Papa tidak bisa langsung menghandle semua urusan bisnis di perusahaan yang masih belum selesai ditangani. Papa hanya bisa ikut meeting saja hari ini. Bisakah kamu membantu papa menangani masalah-masalah di perusahaan?" pinta Jonathan.
"Urusan apalagi yang belum selesai, Pa? Dan kenapa papa malah meminta aku untuk melakukannya dan bukannya Pak Herman saja?" sahut Ryan malas.
"Nak. Kamu satu-satunya anak cowok di keluarga ini. Papa paham kamu belum berniat untuk memulai bisnis dan tidak tertarik dengan urusan bisnis hanya saja kamu 'kan juga paham kalau papa sudah bertambah tua dan tidak bisa selamanya hidup di dunia ini dan juga..."
"Oke. Hentikan, Pa. Ryan paham. Berhenti membicarakannya lagi. Urusan bisnis apa yang papa maksud?"
"Masih ada beberapa tumpukan berkas-berkas di meja kerja 'kan? Tolong bantu papa kerjakan itu semua hari ini. Tolong nanti setelah kamu dan Herman menjemput papa, kamu pergi ke kantor ya, Nak. Kamu sudah bisa menyetir sendiri 'kan? Papa dan Herman akan mengikuti rapat bisnis dari pengusaha-pengusaha penting. Tolong kerjakan berkas-berkas itu di ruangan papa dan setelah selesai taruh di meja kerja papa di kantor. Mengerti? Nanti papa dan Herman juga akan mengabari kamu untuk menjemput jika kamu sudah menyelesaikannya."
"Baiklah, Pa. Ryan mengerti. Ryan tutup dulu, ya. Sampai nanti." sahut Ryan.
"Tunggu sebentar lagi, Pak Herman. Saya akan ke meja kerja dan mengambil dokumen yang disuruh papa." kata Ryan kepada Herman.
"Baik, tuan muda. Silahkan." sahut Herman sambil membungkukkan badannya. Sopan santun memang sudah biasa terjadi di kediaman Tuan Besar Jonathan Hartono, salah satu pebisnis sekaligus konglomerat tersukses dan terkaya di Asia.
"Tuan muda, anda tidak apa-apa?" tanya Herman sambil melihat kaca spion ke arah bangku belakang. Ia sebenarnya tidak ingin menggangu tuan mudanya, hanya saja pikirannya tidak tenang saat melihat tuan mudanya dengan ekspresi berkerut itu.
"Ya. Memangnya saya bisa kenapa?" sahut Ryan.
"Baik. Tentu anda tidak kenapa-kenapa, tuan muda. Saya yang terlalu banyak berpikir." sahut Herman.
"Hmm.." sahut Ryan.
"Manusia tampan yang sama dinginnya dengan es di kutub utara? Dia bahkan bukan siapa-siapa? Teman pun tidak?" gumam Ryan yang daritadi memikirkan omongan Dinda hari Kamis kemarin.
"Lantas, apa aku harus jadi temannya dulu?"
"Tidak! Untuk apa! Menjadi teman tidak lebih baik dari sekarang yang bukan siapa-siapa."
__ADS_1
"Ahh. Wanita itu. Beraninya dia menganggap aku bukan siapa-siapa. Apa dia tidak tahu kalau aku adalah siswa tertampan di sekolah SMA Tunas Bangsa II?"
"Tidak! Tidak, Ryan! Kamu yang tertampan di seluruh Kota Jakarta ini."
"Tidak! Satu kabupaten!"
"Gadis itu! Bagaimana bisa dia tidak menyanjung ketampanan seorang Ryan Jonathan? Tidak! Setidaknya dia 'kan masih bisa menyanjung kemampuan ku di bidang olahraga dan pelajaran."
"Hei, Ryan! Kamu kenapa? Kenapa malah memikirkannya sih? Lupakan saja jika dia tidak peduli padamu! Dia memang gadis yang hanya tahu belajar."
"Tapi, kamu juga sama saja sepertinya, 'kan? Hanya belajar dan bahkan mengikuti OSN dan lomba-lomba lain sampai kelelahan." Ryan menghela napasnya yang terasa agak berat.
"Aku penasaran gadis seperti apa dia sebenarnya?" tanya Ryan yang sedari tadi berbicara kepada dirinya sendiri. Tiba-tiba ia menyadari kalau ia sudah melupakan sesuatu.
"Pak Herman."
"Iya, tuan muda."
"Aku tadi di telepon papa untuk pergi ke perusahaan sendiri nanti. Aku lupa membawa mobil ku sendiri tadi. Bagaimana ini? Apa kita harus putar balik?" tanya Ryan di sela-sela kemacetan jalan raya.
"Jangan khawatir, tuan muda." sahut Herman tenang. Herman segera menghubungi salah satu asistennya yang ada di perusahaan karena kebetulan jalanan memang padat saat itu sehingga ia sempat menelepon asistennya.
"Halo." sapa Herman datar.
"Halo, Tuan Herman. Ada yang bisa saya bantu?" tanya asistennya itu.
"Tolong segera bawa mobil BMW perusahaan yang berwarna putih yang ada di parkiran di lantai 32 ke Bandara sekarang!" perintah Herman.
"Baik, tuan. Saya akan segera pergi." sahut salah satu asistennya itu.
"Tuan muda." panggil Herman.
"Iya, ada apa?" sahut Ryan yang tersadar dari lamunannya.
"Mengenai masalah mobil, anda tidak perlu khawatir lagi. Saya sudah bereskan semuanya." jelas Herman.
"Hmm.." balas Ryan.
"Tuan muda." panggil Herman.
"Kita sudah sampai di bandara, tuan muda." lanjutnya.
"Ya sudah. Ayo, jalan! Ingat untuk memanggil ku Ryan bukan tuan muda!" sahut Ryan.
"Baik, Ryan."
Kenapa dia malah sadar lagi sih? Sudahlah, masa bodo! batin Herman.
"Pak Herman."
"Iya, Ryan?"
"Berapa lama lagi papa akan sampai?" tanya Ryan.
"Sekitar 30 menit lagi, tuan muda." sahut Herman. Ryan hanya menatap dengan sorot mata tajam yang seolah akan menerkamnya.
__ADS_1
Kira-kira kesalahan apalagi yang aku perbuat sampai anak ini menatapku begitu tajam. Ah.. gumam Herman.
"Ehem. Maaf, Ryan. Bapak hanya belum terbiasa." sahut Herman.
"Baiklah. Aku lapar. Aku mau beli makanan dulu di McDonald's di sebelah sana. Bapak tetap disini saja. Aku bisa membelinya sendiri." pinta Ryan.
"Baiklah kalau begitu. Berhati-hatilah." balas Herman.
"Halo."
"Halo, Tuan Herman. Saya sudah memarkirkan mobilnya di sebrang pintu lobby A."
"Baiklah. Terimakasih atas usahamu. Tuan muda yang akan memakainya. Nanti saat tuan muda sudah keluar dari pintu lobby A, segera berikan kunci mobil itu ke tuan muda." sahut Herman.
"Baik, Tuan Herman. Saya paham." Setelah itu, panggilan diputuskan.
Antrian di McDonald's waktu itu cukup padat sehingga memakan waktu 25 menit. Saat akan duduk di sebelah Pak Herman untuk memakan burger dan kentang miliknya, Ryan terpaksa menunda niatnya untuk makan karena papanya sudah datang.
"Papa." panggil Ryan saat melihat sosok papanya dari kejauhan.
"Selamat sore, Tuan besar Jonathan." sapa Pak Herman saat Jonathan sudah mendekat dan berdiri di depan Ryan.
"Apa kabar, Nak?" balas Jonathan pada Ryan.
"Aku baik, Pa." sahut Ryan. Jonathan membalas dengan mengusap puncak kepala Ryan.
"Sore juga, Herman. Terimakasih sudah menjaga Ryan selama satu tahun ini." sahut Jonathan kepada Herman.
"Tidak masalah, tuan besar." balas Herman.
"Baiklah, Ryan. Seperti yang sudah papa bilang tadi di telepon, kamu akan menyetir sendiri ke kantor. Hati-hati ya, Nak. Papa dan Herman akan pergi dulu. Sampai besok." kata Jonathan.
"Baik, Pa. Sampai besok." sahut Ryan.
"Ryan."
"Iya, Pak? Ada apa?" tanya Ryan.
"Mobil yang akan dipakai oleh kamu sudah diparkirkan di sebrang pintu lobby A. Asisten saya sudah menunggu Anda di sana."
"Baik, Pak. Terimakasih." balas Ryan. Ia buru-buru pergi kearah lobby A dimana mobilnya diparkirkan. Ia buru-buru bukan karena suka dengan urusan bisnis, tetapi karena ingin semuanya cepat selesai supaya ia bisa segera beristirahat.
"Ouch..." jerit seorang perempuan yang kesakitan karena tertabrak tubuh Ryan yang berjalan begitu cepat.
"Hei!"
"Hei! Lelaki yang memakai jas biru tua!" teriak perempuan itu lagi. Ryan pun menoleh ke belakang.
"Apa yang kamu maksud itu aku?" tanya Ryan.
"Kamu?" tanya Ryan lagi.
"Ryan?" tanya perempuan itu.
Bersambung.....
__ADS_1