
"Iya, Pa." sahut Clarissa.
"Kami satu sekolah dan pernah bertemu." lanjut Ryan.
"Oh, benarkah?" giliran Jonathan yang bertanya.
"Itu benar." jawab Clarissa.
"Kalau begitu kalian bisa lebih sering bermain 'kan nanti?" tanya Revan.
"Tentu. Jika saya dan Clarissa tidak sibuk." balas Ryan sopan.
Aku tidak tahu dia bisa sesopan itu.. batin Clarissa.
"Kalau begitu kalian tentukan sendiri ya mau kapan." sahut Jonathan.
"Baik, Om." jawab Clarissa. Ryan hanya menjawab dengan mengangguk.
"Jon, gua mau bahas yang pernah gua bicarain dua tahun lalu." kata Revan setelah ia dan Jonathan selesai makan.
"Hmm..Iya. Silahkan, bro." balas Jonathan.
"Jadi, gimana kalau The Big Heart Company kerja sama aja sama perusahaan gua, Lake Company?" tanya Revan.
"Boleh aja sih bro, tapi.." Jonathan blm sempat menyelesaikan kalimatnya namun ia sudah menghela napasnya berat.
"Kenapa, bro?" tanya Revan penasaran.
"Ya.. Syaratnya apa?" tanya Jonathan kepada sahabatnya itu.
"Santai aja, bro. Karena kita udah sahabatan dari SMA, gua gak bakal kasih banyak syarat. Tapi, gua mau bicarain pembagian sahamnya. Gimana? Lu mau bagi gua berapa persen?" jelas Revan.
"Itu sih tergantung seberapa banyak yang lu lakuin buat perusahaan gua. Gua gak bisa tentuin sekarang, maaf ya, bro."
"Hmm.. Gitu ya." sahut Revan tidak suka.
"Atau, gini aja gimana?"
"Apa tuh, bro?"
"Sementara sahamnya gua kasih 35% dulu. Nanti, kalau lu udah gabung dan bikin perusahaan gua berkembang pesat, gua pasti bakal tambahin lagi kok."
"35%?" tanya Revan tidak percaya. Ia menunjukkan raut wajah kecewanya.
"Terus mau gimana, bro? 38% deh, deal?"
"Oke, deal." sahut Revan. Sebenarnya, ia masih belum benar-benar puas. Namun, ia juga tahu tidak mungkin secepat itu sahabatnya mau membagi saham dalam jumlah besar.
"Oke. Gua duluan ya, bro. Bye." kata Revan.
"Oke. Gua juga mau cabut. Bye." balas Jonathan. Mereka pun berpisah.
"Clar."
"Iya, Pa?"
"Bagaimana menurut kamu si Ryan itu? Tampan dan pintar, dia pasti tipe idamanmu dan cocok untuk jadi pasanganmu, 'kan?"
"Apa? Kenapa tiba-tiba papa malah menanyakan ini?" sahut Clarissa kaget.
"Tidak apa-apa, Nak." sahut Revan dari belakang kemudi. Ia melajukan mobilnya secepat kilat.
...****************...
"Perhatian semuanya!!!" teriak Ryan dari radio sekolah yang membuat semua murid yang tadinya berisik seperti kapal pecah karena ada jam kosong tiba-tiba diam dan mendengarkan.
"Dua minggu lagi sekolah kita akan mengadakan acara Valentine. Kami, para OSIS, sudah mempersiapkan yang akan kalian butuhkan saat acara Valentine. Pertama, tentunya ada paket coklat, bunga, kartu ucapan dan juga boneka. Kedua, kami sudah mendiskusikan untuk mengadakan lomba "Valentine's Day". Lomba ini adalah lomba yang cocok untuk kalian baik yang sudah memiliki pasangan ataupun bagi kalian yang masih jomblo. Selengkapnya ada di poster yang akan dibagikan oleh ketua kelas kalian di setiap kelas. Demikian pengumuman dari saya perwakilan OSIS. Terimakasih." lanjut Ryan.
"Hei. Lihat ini!" Rangga yang duduk di samping Ayu itu memperlihatkan poster Valentine yang ia pegang kepada Ayu.
"Ada lomba melukis, menyanyi, puisi, dan gombal? Dengan total hadiah Rp 6.500.000?" tanya Ayu sambil membaca poster yang sudah dibagikan Rangga barusan.
"Wah, ini benar-benar hebat!" lanjutnya.
"Benar 'kan? Kamu mau ikut lomba apa?" tanya Rangga lagi.
"Entahlah. Aku harus memikirkannya dulu." sahut Ayu.
"Huh! Untuk apa dipikirkan padahal belum tentu menang juga?" balas Rangga.
"Hei! Kamu mau aku sumpel mulut kamu pake lakban, ya? Berisik banget sih kayak cewek!" bentak Ayu. Rangga pun terdiam.
"Din, cepat lihat ini!" Amanda bersemangat.
"Kamu 'kan selalu jago membuat puisi. Tapi, kamu juga jago menyanyi dan melukis sih.." Amanda sempat terdiam beberapa saat.
"Ah, Dinda! Kenapa kamu bisa begitu pintar dan berbakat? Sementara aku tidak bisa mengikuti lomba apapun kecuali kalau Budi bersedia mengikuti lomba gombal?" gerutu Amanda. Rangga kebetulan mendengar gerutuan itu.
"Tenanglah, Manda. Seperti yang kamu tahu, dunia memang tidak pernah adil. Bujuk saja Budi untuk mengikuti lomba gombal itu." kata Rangga.
"Apa? Bujuk saja? Hei, kamu juga tahu sendiri kalau dia tidak akan semudah itu mau dibujuk!" sahut Amanda dengan nada kesal.
"Tapi 'kan kalau kamu ngambek dan merajuk dia juga akan luluh!" sahut Rangga.
__ADS_1
"Benar juga. Ah, Dinda. Maaf tadi aku mengabaikan kamu. Ini semua gara-gara Rangga menyela." kata Amanda.
"Tidak apa-apa kok." sahut Dinda.
"Jadi, kamu akan ikut lomba yang mana, Din?" tanya Rangga.
"Iya, kamu mau ikut lomba yang mana?" sahut Amanda.
"Aku belum tahu. Aku akan memberitahu kalian nanti di chat WhatsApp kalau aku sudah memikirkannya." jawab Dinda.
Kring.. Kring.. Kring..
"Yeyy waktunya pulang sekolah! Ayo pulang guys!" teriak Rangga. Semua murid kelas XI D pun merapikan barang-barang mereka dan segera keluar dari ruang kelas.
"Din, kita jalan ke tempat les barengan, ya." Ayu tiba-tiba menepuk bahu Dinda dan mengajaknya untuk pulang bersama.
"Oke. Ayo!" sahut Dinda.
"Hei, apa kalian tidak mau mengajak kami juga?" tanya Rangga dan Samuel.
"Yasudah. Ayo!" jawab Dinda. Mereka menuju ke tempat les dengan berjalan kaki.
Samuel, Dinda, Leo, Clarissa, Ayu, Rangga, dan Joseph satu les. Mereka semua bersyukur karena tidak satu les dengan Budi dan Amanda, kalau tidak pasti sepasang kekasih romantis itu akan membuat mereka cemburu melihatnya dan berujung tidak bisa konsentrasi. Hari ini adalah hari Jumat, hari dimana mereka harus les. Les diadakan setiap hari Senin, Rabu, dan Jumat.
"Halo guys!" sapa Rangga seperti biasanya kepada teman-teman satu les mereka yang sudah sampai duluan.
"Halo, Rangga." sahut Leo.
"Hai, Rangga." sahut Clarissa.
"Yo! Welcome Rangga and Samuel!" kata Joseph.
"Yo! Thank you bro!" balas Samuel.
"Anak-anak, karena semuanya sudah sampai sekarang pembelajaran akan dimulai. Tolong duduk di tempat kalian masing-masing dan jangan ribut. Hari ini ibu akan menerangkan materi tentang matriks. Perhatikan baik-baik, ya! Setelah ini, ibu akan memberikan kalian lks untuk mengecek pemahaman kalian tentang materi ini." kata Bu Eka.
"Baik, bu." jawab semua murid. Bu Eka sudah selesai menjelaskan dan sekarang mereka sedang mengerjakan latihan soalnya.
"Ssst.. Sam."
"Sam!"
"Sammy!"
"Hei! Sam!"
"Samuel Lee!"
"HEI SAMUEL PACAR AYU!"
"Kenapa aku mau mati? Bantu dong nomor tujuh ini. Aku gak ngerti." sahut Rangga.
"Gak mau ah." kata Samuel.
"Hei! Ayolah! Sammyku yang baik!" kata Rangga sambil memohon.
"Ih. 'Sammyku'? Menjijikan sekali." kata Ayu.
"Rangga, apa kamu sakit?" jawab Samuel sambil menaruh tangannya di kening sahabatnya itu.
"Tidak. Kumohon. Mumpung Bu Eka lagi ke toilet." jawab Rangga.
"Huh.. Baiklah. Jawabannya ini." Samuel menyodorkan lembar jawaban miliknya supaya Rangga bisa melihatnya.
"Btw, hadapilah perempuan itu sehabis ini." Samuel menunjuk kearah Ayu.
"Kenapa aku harus menghadapinya?" tanya Rangga.
"Tadi kamu 'kan bilang Samuel pacar Ayu, kamu pikir dia tidak akan memangsamu habis ini?" Samuel menjawab sambil tertawa.
"Huh! Merepotkan sekali. Ini semua gara-gara kamu, Sam. Kamu mengabaikan aku!"
"Haha. Kenapa jadi salahku?" jawab Samuel.
"Ah, sudahlah. Merepotkan sekali!" sahut Rangga.
Les sudah selesai dan lembar jawaban mereka sudah diperiksa oleh Bu Eka. Ada beberapa murid yang langsung pulang seperti Clarissa, Samuel, Joseph, dan Rangga. Kini, hanya tersisa Dinda, Ayu, dan Leo.
"Din, kamu dapat berapa?" tanya Ayu.
"Aku dapat 95. Kalau kamu?" jawab Dinda. Tiba-tiba Leo menyusul mereka sambil berlari dari belakang.
"Aku dapat 90." sahut Ayu.
"Hai." kata Leo.
"Leo? Bukannya kamu biasanya langsung pulang pakai mobil?" tanya Ayu. Ia merasa aneh karena Leo tiba-tiba memilih bergabung berjalan kaki dengannya dan Dinda.
Dia pasti mau bersama Dinda. Hah, aku terpaksa menjadi nyamuk lagi di antara mereka!
"Ah, tidak. Hari ini mobilnya lagi di service jadi aku berjalan kaki dengan kalian sampai ke arah depan situ saja." jawab Leo berbohong. Padahal, mobilnya tidak di service. Ia sebenarnya ingin mengikuti Dinda lagi supaya bisa memastikan apakah Dinda benar-benar anak dari Satrio atau bukan.
"Oke." sahut Dinda dan Ayu bersamaan.
__ADS_1
"Btw, Leo kamu dapat berapa?" tanya Ayu.
"Aku dapat 90, kamu?" jawab Leo.
"Aku juga 90." sahut Ayu.
"Oh, kalau kamu, Din?" tanya Leo.
"Aku dapat 95." sahut Dinda.
"Oh." jawab Leo.
"Guys, aku duluan ya. Bye." kata Leo. Ia segera menuju ke rumahnya untuk mengambil kunci mobilnya dan melajukan mobilnya mengikuti Dinda.
"Oke, bye." sahut Dinda.
"Bye." sahut Ayu. Setelah itu, ia dan Dinda terus berjalan sampai ke depan rumah mereka masing-masing.
"Wah, dia benar-benar anak dari Satrio?" tanya Leo kepada dirinya sendiri setelah Dinda masuk ke rumah besar berlantai 4 yang terletak di ujung jalan.
...****************...
"Ryan."
"Iya?"
"Kamu sepertinya demam, Nak." kata Bu Dian, guru les privatnya.
"Hari ini kita sampai disini dulu aja, ya. Kamu istirahat dulu aja. Kita lanjutkan materi matriks ini lain kali." lanjutnya.
"Tidak kok, Bu. Saya tidak apa-apa. Ibu lanjutkan saja." jawab Ryan.
"Tidak, Ryan. Jangan memaksa dirimu terlalu jauh." sahut Bu Dian. Ia pun beranjak pergi dan memberi tahu Pak Bagus kalau Ryan demam.
"Baiklah. Terimakasih, Bu." sahut Pak Bagus. Ia pun segera menghubungi Dokter Lucy untuk mengecek kondisi Ryan.
Tok.. Tok.. Tok..
"Ryan? Boleh saya masuk?" tanya Dokter Lucy. Ryan pun membuka pintu kamarnya dan terkejut mengapa Dokter Lucy datang pada sore hari padahal ia tidak meminta dokter cantik itu untuk datang.
"Dokter Lucy? Kenapa dokter kemari? Perasaan aku tidak memanggil dokter?" tanya Ryan.
"Memang tidak, Ryan. Tadi saya di telepon sama Pak Bagus, katanya kamu demam. Jadi, saya datang untuk periksa." jawab Dokter Lucy sambil tersenyum.
"Aku tidak demam kok. Pak Bagus berlebihan." kata Ryan sambil duduk di tepi ranjangnya.
"Ayolah. Saya hanya akan memeriksa kamu, Ryan." sahut Dokter Lucy.
"Huh! Baiklah." kata Ryan sambil mengusap wajahnya kasar.
"Kamu demam, Ryan. Lihat, suhu tubuhmu 38 derajat celcius."
"Tidak kok. Aku pasti hanya kelelahan saja." jawab Ryan. Sejujurnya, Ryan dari kecil tidak suka minum obat karena itu ketika ia sakit ia memilih diam saja daripada harus minum obat yang super pahit di lidahnya.
"Ryan, kamu harus istirahat dan minum obat. Ini obatnya. Minumlah 3 kali sehari. Jangan lupa untuk minum banyak air putih juga." kata Dokter Lucy.
"Ah, dokter. Penyakit demamku tidak parah. Kenapa aku harus meminum obat sebanyak 3 kali sehari?" sahut Ryan malas.
"Ryan, kamu tidak mau sakit terus selama berhari-hari apalagi sampai berminggu-minggu, 'kan? Lagipula, sebentar lagi sudah mau hari Valentine dan kalau kamu sebagai Ketua OSIS sakit siapa yang akan berpidato? Jadi, minumlah obat dan cepatlah sembuh." jelas Dokter Lucy.
"Wakilku 'kan bisa saja menggantikan pidato itu." jawab Ryan.
"Tapi, kamu 'kan bisa menyatakan perasaan cintamu ke Dindamu itu?" kata Dokter Lucy sambil tertawa.
"Aku tidak menyukainya. Sungguh, aku benar-benar tidak menyukainya." kata Ryan.
"Haha. Baiklah kalau begitu. Saya harap Leo yang akan menyatakan cintanya kepada Dinda itu. Jangan sampai hatimu sakit lagi saat itu terjadi, ya." sahut Dokter Lucy.
"Dokter, jika Anda sudah selesai memeriksa saya maka tolong pulang saja. Pak Bagus akan mengantar Anda sampai ke pintu keluar." kata Ryan dengan pandangan mengusir.
"Haha. Baiklah. Saya pamit." kata Dokter Lucy. Ia segera beranjak pergi dan meninggalkan rumah mewah berlantai 5 itu.
"Dia cantik sekali. Ah, dia benar-benar manis." gumam Ryan saat melihat postingan terbaru di Instagram Dinda. Tanpa sadar, ia menekan tombol like lagi pada foto itu.
"Hei, Ryan! Kamu sudah gila, ya! Dia tidak cantik dan tidak manis. Kamu memang sudah gila." Ryan mengacak-acak rambutnya.
"Ini gara-gara Dokter Lucy bicara sembarangan. Aku bahkan tidak menyukainya. Ya, Ryan. Kamu memang tidak menyukainya." kata Ryan kepada dirinya sendiri.
Epilog:
"Ryan, kalau kamu sudah sadar bahwa ternyata kamu menyukai Dinda, segeralah siapkan hadiah untuknya saat Valentine nanti. Waktumu hanya tinggal dua minggu lagi." kata Dokter Lucy.
"Terus? Dokter, jangan bercanda." sahut Ryan.
"Saya tidak bercanda, Ryan. Berikan saja dia bunga, cokelat, dan boneka. Kalau perlu, ajak dia kencan juga." kata Dokter Lucy serius.
"Dokter. Tolonglah. Bagaimana jika dia menolak diajak kencan olehku? Bukankah aku akan kehilangan harga diriku di hadapannya? Lagipula, aku pernah memberikannya parfum." tanya Ryan.
"Haha. Kamu memiliki wajah yang sangat tampan dan juga kamu sangat berbakat. Wanita mana yang tidak terpesona olehmu? Bagaimana mungkin dia akan menilakmu?" sahut Dokter Lucy.
"Dia berbeda." balas Ryan.
"Kalau begitu, carilah cara untuk meluluhkan hatinya. Baiklah. Saya pergi sekarang. Saya pamit. Ingat, waktumu hanya dua minggu." Dokter Lucy segera meninggalkan rumah mewah berlantai 5 itu.
__ADS_1
"Jadi, waktuku hanya dua minggu saja?" gumam Ryan.
Bersambung...