
“Ceritain,” kata Leo.
”Ceritain apa?” tanya Alexa.
“Masalahmu itu, aku bakal dengerin semuanya,” jawab Leo.
“Kamu peduli atau cuma kepo?” tanya Alexa.
”Menurut kamu?” Leo balik bertanya.
“Kamu peduli. Kamu mau aku kembali ke jalan yang benar sekalipun semuanya udah telat,” jawab Alexa sambil tersenyum miris.
“Kamu udah tau, ‘kan?” tanya Leo sambil menatap mata Alexa.
“Ya, kamu selalu bilang kalau semuanya belum terlambat selama aku masih hidup,” sahut Alexa sambil mengalihkan pandangannya.
“Tapi kalimat kamu itu salah,” kata Alexa sambil menertawai dirinya sendiri.
“Maaf,” kata Leo.
“Maaf? Kenapa kamu minta maaf?!” bentak Alexa.
“Kamu tau kalau aku udah cinta sama Ryan dari dulu. Kalau bukan karena ada Dinda di hidup Ryan, aku pasti bisa mendapatkan hatinya lagi,” imbuhnya.
“Awalnya, aku pikir saat kamu udah balik ke sini dan liat realita di depan kamu, kamu akan mundur. Kamu memang orang yang pantang menyerah, tapi kamu berada di jalan yang salah, Lexa,” sahut Leo sambil menghela napasnya.
“Terus kenapa kalau aku salah? Ya, salahin aja aku!” teriak Alexa sambil tersenyum.
“Aku dateng ke sini karena aku mau kamu ceritain detailnya, bukan karena aku mau salahin kamu,” kata Leo.
“Abis aku cerita, kamu gak bakal salahin aku?” tanya Alexa.
“Memangnya kapan aku pernah salahin kamu?” sahut Leo.
“Iya, aku yang gak pernah baik sama kamu. Kamu selalu peduli sama aku selama ini. Bahkan, di saat aku ninggalin kamu, kamu masih mau bantu aku. Sebenernya kenapa?” tanya Alexa sambil terus memukul dadanya sendiri. Leo merasa kasihan kepada gadis di hadapannya saat ini sehingga ia langsung memeluk Alexa untuk mencegahnya melukai diri sendiri.
“Aku mengerti penderitaanmu selama ini. Mencintai seseorang tapi tidak dicintai memang menyakitkan. Tapi yang kamu lakuin itu bukan karena cinta, Lexa. Itu adalah obsesi. Jangan sakiti diri kamu sendiri,” kata Leo.
“Cinta dan obsesi… Apa bedanya?” tanya Alexa sambil tersenyum.
__ADS_1
“Level tertinggi dari mencintai adalah melepasnya saat kamu tau kalau dia udah bahagia bersama yang lain,” jawab Leo.
“Dan obsesi adalah ketika kamu mau selalu mendapatkan semua yang kamu mau dengan cara apa pun. Kedua hal itu berbeda,” lanjutnya.
“Kenapa sampai hari ini kamu masih mau sabar sama aku?” tanya Alexa sambil tertawa.
”Karena kamu berharga,” jawab Leo.
“Kamu selalu bilang begitu setiap kali aku melakukan kesalahan!” seru Alexa sambil memukul dada Leo.
“Semua orang berhak bahagia karena mereka berharga, Lexa,” sahut Leo. Ia tidak peduli kalaupun Alexa akan memukulnya sampai puas hari ini.
“Aku berharga di mata siapa?” tanya Alexa sambil tertawa miris.
“Tuhan, aku, orangtua kamu, dan-” jawab Leo.
“Ryan gak termasuk, ‘kan?” sela Alexa.
“Ryan pasti masih menghargai kamu, Lexa,” jawab Leo. Alexa baru saja mau membuka mulutnya lagi. Namun, Leo langsung mencegah Alexa berbicara tentang Ryan lagi.
“Belajarlah mencintai dirimu dulu dan orang lain akan mencintaimu. Aku mau liat Alexa yang dulu. Alexa yang ceria dan manis. Alexa yang pengertian. Alexa yang lembut dan bisa bergaul dengan semua orang,” kata Leo.
“Leo… Aku gak bakalan bisa balik jadi Alexa yang dulu lagi,” sahut Alexa sambil menggelengkan kepalanya.
“Gimana caranya?” tanya Alexa dengan tatapan tidak percaya.
“Cerita sama kamu terus semua masalahnya bakal selesai?” lanjutnya.
“Gak bakal langsung selesai, tapi bisa selesai,” jawab Leo.
“Oke. Kejadian tadi sore di sekolah kamu, itu memang karena aku,” kata Alexa.
“Aku minta tolong sama salah satu murid yang sedang bermain basket. Aku kasih dia uang yang banyak walaupun tugasnya cuma lempar bola basket ke kepala Dinda satu kali,” lanjutnya.
“Aku juga minta Clarissa buat bantu aku cari tau tentang kekurangan Dinda. Bukan, aku gak minta dia. Aku paksa dia,” kata Alexa lagi.
“Kamu paksa dia pake apa?” tanya Leo.
“Aku bilang sama dia kalau aku bakalan ancurin perusahaan Papanya. Dia sayang sama Papanya jadi aku tau kalau dia gak bakal berani bohong sama aku,” jawab Alexa dengan santainya.
__ADS_1
“Kenapa kamu harus paksa Clarissa?” sahut Leo.
“Aku mau liat Dinda nangis dua kali. Kalau Dinda nangis dua kali, Ryan bisa nangis lebih parah dari itu,” kata Alexa sambil tersenyum licik.
“Jadi, target kamu Dinda atau Ryan?” tanya Leo.
“Awalnya cuma Dinda, tapi aku jadi menyeret Ryan dan Clarissa juga. Sekarang kesalahan yang aku buat udah terlalu banyak, aku udah gak bisa balik lagi jadi Alexa yang dulu,” jelas Alexa sambil tersenyum sinis.
“Gak ada kesalahan yang gak bisa dimaafin, Lexa,” sahut Leo.
“Aku gak peduli kamu ngomong apa, Leo. Pokoknya aku gak bakal bisa balik jadi Alexa yang dulu,” kata Alexa menegaskan.
“Oke, kamu gak perlu balik kalau kamu gak mau. Tapi semua masalah yang udah kamu buat harus kamu selesaiin,” sahut Leo.
“Jadi, aku harus minta maaf ke mereka?” tanya Alexa.
“Iya,” jawab Leo.
“Dinda sama Clarissa memang orang yang baik. Mereka pasti maafin aku, tapi Ryan? Ryan gak bakal maafin aku,” kata Alexa.
“Lexa, Ryan bakal maafin kamu kok,” sahut Leo.
“Dia aja udah gak mau ketemu aku lagi,” kata Alexa.
“Itu karena dulu kamu mau balikan sama dia padahal dia udah suka sama Dinda. Jadi, dia gak mau ketemu kamu. Tapi sekarang, kalau kamu ketemu dia buat minta maaf, dia gak bakal nolak buat ketemu kamu,” sahut Leo.
“Kamu yakin?” tanya Alexa.
“Iya, aku yakin,” jawab Leo dengan nada tegas.
“Lexa, aku mau kamu berdamai sama diri kamu sendiri juga. Percaya sama aku. Kalau kamu mau minta maaf, hidup kamu bakal lebih tenang,” kata Leo.
“Jadi, besok ikut aku buat minta maaf sama mereka, ya?” lanjutnya.
“Tapi-” kata Alexa yang masih ragu untuk menyetujui pertanyaan Leo.
”Jangan takut, aku bakal selalu ada di samping kamu besok,” sela Leo sambil tersenyum.
“Makasih, Leo,” kata Alexa yang ikut tersenyum. Kali ini, senyuman yang ia tunjukkan adalah senyuman bahagia.
__ADS_1
”Sama-sama,” sahut Leo.
Bersambung……