
"Aku harus nanyain kabarnya gak ya?" tanya Dinda saat baru saja duduk di tepi ranjangnya. Ia pun mengambil smartphone-nya yang ada di meja di samping tempat tidurnya lalu menyandarkan tubuhnya pada sandaran ranjang. Akhirnya, ia memutuskan untuk mengirim pesan ke Ryan.
Dinda : Kamu udah sampe rumah?
Ryan yang memasang nada notifikasinya dengan volume yang paling besar pun tahu ada yang mengirim pesan padanya. Ia membukanya lalu sedetik kemudian wajahnya menjadi sumringah karena pesan yang masuk itu ternyata dari pacarnya.
Ryan : Udah sayang ❤
Ryan : Kamu udah mau tidur?
"Apa-apaan ini? Tumben banget dia pake emoji hati," kata Dinda yang lumayan terkejut.
Dinda : Belum, aku mau belajar dulu
Ryan : Aku juga mau belajar
Ryan : Semangat sayang!
Dinda : Makasih sayang 🥰❤
Ryan : Iya, sama-sama sayang
Setelah saling menanyai kabar, tentu saja kedua pasangan muda ini sedang senyum-senyum sendiri.
...****************...
Dinda pun akhirnya pergi melangkah menuju ke meja belajarnya. Ia mengambil buku matematika untuk latihan soal. Ia mulai membuka buku itu dan mengerjakan soal-soalnya di buku latihan. Ryan diujung sana juga sedang berlatih soal matematika. (Jodoh memang sehati ya guys).
Dinda belajar sampai pukul 21:30. Lalu, Dinda akan segera tidur. Sementara Ryan sendiri baru selesai belajar jam 22:30 dan tidur jam 23:30 karena kesibukannya sebagai Ketua OSIS.
Dinda : Sayang, kamu tidur jam berapa?
Ryan : 23:30
Ryan : Kamu udah mau tidur?
Dinda : Udah
Ryan : Good night, sayang. Have a sweet dream. Jangan lupa mimpiin aku ya!
__ADS_1
Dinda : You too
Setelah membalas pesan Ryan, Dinda langsung mematikan smartphone miliknya lalu merebahkan dirinya di ranjangnya yang berukuran king size. Tidak lama kemudian, ia tertidur karena matanya sudah lelah menatap soal-soal matematika sejak tadi.
...****************...
Pagi hari di Rumah Jonathan
Ini pertama kalinya setelah sekian lama Jonathan ikut bergabung duduk di meja makan untuk makan pagi bersama kedua anaknya. Priscilla yang melihat momen langka ini merasa heran.
"Papa gak berangkat kerja?" tanya Cilla sambil mengerutkan dahinya.
"Papa berangkat agak siangan hari ini," jawab Jonathan.
"Pa," panggil Cilla.
"Apa?" sahut Jonathan.
"Soal pernikahanku dengan Alvaro..." kata Cilla. Ia tidak bisa melanjutkan kalimatnya lagi karena perlu menghirup udara di sekitarnya.
"Iya, kenapa?" tanya Jonathan bingung.
"Apa itu benar-benar akan dilaksanakan bulan depan?" lanjutnya.
"Kenapa?" tanya Jonathan setelah mengunyah makanannya.
"Gapapa kok, Pa. Cuma memang Alvaronya udah setuju?" Cilla malah balas bertanya.
"Dia pasti setuju karena kalian berdua memang serasi," jawab Jonathan yang yakin dengan jawabannya. Cilla hanya tersenyum namun senyumannya
"Cilla, menikah itu baik. Pernikahan akan terasa indah selama kalian bisa saling memahami. Selama ini, Papa lihat kamu dan Alvaro cukup dewasa untuk saling memahami antar satu dengan yang lain. Alvaro sepadan denganmu. Dia yang akan membimbingmu ke arah yang lebih baik," jelas Jonathan tanpa ragu.
Tapi apakah pernikahan tanpa cinta juga bisa indah? Ya, walaupun dia baik padaku tapi... apakah dia tetap bisa setia kalau terikat dalam hubungan pernikahan tanpa cinta? tanya Cilla dalam hatinya. Ia terlihat khawatir dan ragu bersamaan. Namun, bagaimanapun juga, ia tahu sekali sifat kedua papa mereka yang memang sama-sama keras kepala dan tidak bisa dibantah lagi keputusannya.
"Hah? Ko Alvaro akan menikah dengan siapa?" tanya Ryan saat sadar dari lamunannya.
"Cicimu, memangnya dia bisa menikah dengan siapa lagi?" sahut Jonathan.
"Apa? Kenapa aku baru tau soal ini?" tanya Ryan sambil menatap ke arah dua orang itu secara bergantian.
__ADS_1
"Cilla, kamu gak cerita ke Ryan?" tanya Jonathan yang bingung karena Ryan tidak tahu soal ini. Bukankah Cilla dekat dengan Ryan?
"Belum sempet, Pa," jawab Cilla.
"Tapi Ryan, kamu juga daritadi kok senyum-senyum terus? Ada apa?" tanya Cilla sambil tersenyum. Perhatian yang Cilla tunjukkan pada Ryan selama ini sudah seperti seorang ibu sungguhan. Ryan tidak langsung menanggapinya. Ia terlihat bingung memikirkan jawabannya. Masalahnya, ia belum bertanya pada Dinda apakah boleh memberitahu hubungan mereka pada keluarganya? Apalagi pada papanya yang sepertinya tidak menyukai Dinda.
"Gak ada," jawab Ryan akhirnya.
"Masa sih?" tanya Cilla sambil menaikkan kedua alisnya.
"Terserah kalo gak percaya," jawab Ryan dengan santainya.
...****************...
Pagi hari di rumah Dinda
Dinda baru saja selesai mandi lima menit yang lalu. Saat ia baru saja selesai memakai pakaiannya, tiba-tiba ada yang meneleponnya. Ia bingung karena siapa orang yang akan meneleponnya sepagi ini?
"Ini 'kan masih jam 6:05... Siapa yang bakal telepon sepagi ini?" gumamnya. Akhirnya, Dinda meraih ponselnya. Saat melihat nama yang ada di layar, ia terkejut dan langsung menjawab panggilannya.
[Dinda] "Halo, Ri?"
[Ryan] "Kamu mau gak kalau kita berangkat ke sekolah bareng?"
[Dinda] "Apa?"
[Dinda] "Ah, boleh,"
[Ryan] "Kamu mau dijemput jam berapa?"
[Dinda] "10 menit lagi,"
[Ryan] "Oke, aku jalan ya Sayang,"
[Dinda] "Iya, bye, Sayang"
[Ryan] "Bye, Sayang"
Setelah panggilan itu diakhiri oleh Ryan, Dinda merasakan ada sesuatu yang berbeda.
__ADS_1
"Nada bicaranya kayak lagi ceria banget... Apa yang bikin dia seceria itu?" gumam Dinda pelan.
Bersambung......