
Pagi Hari di Sekolah SMA Tunas Bangsa II
"Hai, Ryan." sapa Angel. Baru kali ini Angel bersikap waras menyapa Ryan menggunakan nama.
"Dia tidak menyapa kita lagi." kata Ica menghela napasnya.
"Sudahlah, mungkin hari itu suasana hatinya sedang baik atau mungkin hari itu dia mendapat gebetan. Siapa tahu hari ini mereka sudah jadian? Kalian tidak perlu mengharapkan sapaan lagi darinya." kata Ronald sambil tergelak.
"Berisik! Mau gua sambet pake penggaris besi?!" seru Angel.
"Lari, mak lampir ngamuk!" teriak Ronald sambil berlari.
"Ryan." panggil Leo.
"Kamu bahkan tidak menyahutku?" tanya Leo sambil mengerutkan dahinya.
"Apa?" tanya Ryan sambil tersenyum.
"Tidak. Hanya.." sahut Leo.
"Hai, Din." sapa Leo.
"H-hai." sapa Dinda. Ia memberanikan dirinya melihat Ryan sekilas. Mata Dinda dan Ryan sempat bertemu untuk beberapa detik. Setelah itu, Dinda tersenyum lalu langsung berlalu pergi.
Semoga kamu bahagia, Ryan. kata Dinda dalam hati.
"Lihat, kamu memberikan tatapan seperti itu padanya." kata Leo sambil berbisik kepada Ryan.
"Apa maksudmu?" tanya Ryan.
"Daritadi kamu.." jawab Leo.
"Sudahlah. Lupakan saja." katanya lagi.
"Hei, kamu akan bermain basket lagi nanti?" tanya Leo.
"Iya. Kenapa?" sahut Ryan.
"Jangan bermain seperti kemarin!" kata Leo tegas.
__ADS_1
"Aku tidak bisa menjamin itu." sahut Ryan.
"Dasar gila." gumam Leo sambil memasang wajah kesalnya.
"Hei!" seru Ryan.
"Maaf. Aku tidak bilang itu kau." sahut Leo.
"Ryan." panggil seseorang dari kejauhan.
"Ayo kita latihan!" teriak orang itu lagi.
"Oke, Matt." sahut Ryan.
"Sampai nanti, Leo." kata Ryan. Leo hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
...****************...
Siang Hari di Sekolah SMA Tunas Bangsa II
"Ryan.. Ryan.. Ryan.." sorakan para murid terdengar jelas sampai ke balkon sekolah.
"Hai, Leo." sapa Dinda.
"Kamu mau menonton Ryan.. Ah, apa kamu mau menonton tim basket dari sekolah kita?" tanya Leo.
"Aku.. Aku mau tapi.." kata Dinda ragu.
"Tidak apa-apa. Ayo kita tonton dari jauh saja!" ajak Leo sambil mengajak Dinda menonton dari lantai dua.
"Lihat, Ryan jago bermain basket, 'kan?" tanya Leo.
Syukurlah dia tidak bermain basket seperti kemarin malam. kata Leo dalam hati. Leo merasa lega.
"I-iya." jawab Dinda dengan terbata-bata.
"Maaf, aku tidak terbiasa. Aku tidak akan membicarakannya lagi." kata Leo sambil mengusap tengkuknya.
"Tidak apa-apa." kata Dinda sambil tersenyum.
__ADS_1
...****************...
Sore Hari di Taman Kediaman Jonathan
"Ryan." panggil seseorang. Seorang perempuan yang cantik, tinggi, putih menghampiri Ryan. Bisa dibilang fisiknya hampir sempurna.
"Ryan, apa kamu masih mengingatku?" tanya perempuan itu.
"Apa yang kamu mau, Alexa?" tanya Ryan dengan nada dingin seperti biasanya.
"Kenapa memanggilku Alexa? Kamu tidak seperti dulu lagi." sahut Alexa lirih.
"Bukankah kamu juga begitu?" tanya Ryan sambil memberikan tatapan tajam pada perempuan di hadapannya ini.
"Ryan.." panggil Alexa.
"Jangan menanggap aku masih Ryan yang sama seperti dulu. Bilang saja apa maumu!" kata Ryan tanpa menoleh ke arah Alexa. Nada bicaranya jauh lebih dingin dari sebelumnya. Alexa bahkan sampai meneguk salivanya karena terkejut.
"Baiklah. Aku akan langsung saja. Aku kesini menemuimu karena aku ingin kita kembali seperti dulu lagi." kata Alexa sambil berusaha memberanikan dirinya untuk menatap mata Ryan. Ia ingin mencari tahu apakah dirinya masih ada di pikiran Ryan.
"Jangan harap!" seru Ryan.
"Kamu menyuruhku tidak berharap. Memangnya kamu sendiri tidak berharap Dinda menerimamu? Dia juga sudah menolakmu. Apalagi yang kamu harapkan dari perasaannya, Ryan?" tanya Alexa sambil meninggikan nada suaranya. Ryan agak terkejut karena Alexa tahu, tapi, ia berusaha untuk terlihat dingin seperti biasanya.
"Masalah ini tidak ada kaitannya denganmu. Aku cuma ingin bilang satu hal. Jangan mengharapkan apapun dariku!" tegas Ryan.
"Kenapa? Kenapa aku tidak boleh?" tanya Alexa.
"Karena kamu tidak layak." jawab Ryan tidak acuh. Setelah mendengar satu kalimat itu, hati Alexa seperti mau hancur. Alexa tidak bisa menahan air matanya lagi.
"Apa Dinda layak?" tanya Alexa dengan air mata yang masih mengalir di pipinya.
"Iya, dia layak." jawab Ryan.
"Oke." kata Alexa sambil menghapus air matanya.
"Lalu, apa kamu mengizinkanku untuk muncul lagi di hadapanmu?" tanya Alexa.
"Itu hakmu kalau kamu ingin muncul di hadapanku. Aku tidak peduli selama kamu tidak membuat masalah." kata Ryan. Alexa mengangguk lalu segera pergi dari sana.
__ADS_1
Bersambung......