
Sore Hari Di Kediaman Jonathan
"Huh.. Kira-kira apa anak itu sudah selesai membuat lagunya?" tanya Leo kepada dirinya sendiri setelah ia selesai bermain video games selama satu jam.
"Ryan.. Ryan.." panggil Leo. Ia keluar dari kamar itu setelah tidak bisa menemukan keberadaan Ryan disana. Ia sampai mengelilingi 5 lantai di rumah itu, tapi tetap tidak menemukan Ryan.
"Ada yang bisa saya bantu, tuan Leo?" tanya Pak Eko.
"Ah, bapak tau dimana Ryan? Bukankah tadi dia di kamar?" tanya Leo.
"Dia ada di halaman belakang, tuan." jawab Pak Eko.
"Oh, terima kasih. By the way, bapak tidak perlu memanggil saya tuan. Panggil saja Leo." sahut Ryan.
"Ah, iya tu... iya Leo." kata Pak Eko gagap.
"Baiklah, aku pergi dulu." sahut Leo sambil tersenyum. Pak Eko hanya membungkuk sampai Leo pergi dari pandangannya.
"Ryan.." panggilan Leo terhenti ketika melihat Ryan sedang duduk di bangku taman sambil memainkan gitarnya.
"Apa?" tanya Ryan.
"Tidak. Aku daritadi mencarimu." jawab Leo.
"Kenapa mencariku?" tanya Ryan bingung.
"Kamu tiba-tiba pergi ke sini tanpa memberitahuku!" jawab Leo kesal. Ia sudah mengelilingi rumah itu tetapi ternyata Ryan malah duduk santai di bangku taman.
"Kalaupun aku memberitahumu, kamu tidak akan tau! Kamu memakai headset tadi." sahut Ryan sambil menggelengkan kepalanya.
"Oh, benar..." kata Leo sambil mengusap tengkuknya.
"Sudahlah. Jika tidak ada apa-apa, aku mau main gitar lagi." kata Ryan.
"Ah, sebentar. Apa kamu sudah selesai membuat lagunya?" tanya Leo penasaran.
__ADS_1
"Sudah." jawab Ryan singkat.
"Cepat sekali. Seharusnya orang yang tidak sedang mengalami percintaan seperti dirimu tidak bisa membuat lagu secepat itu." kata Leo.
"Hei. Bukankah kamu sendiri tidak punya pacar?" sahut Ryan kesal.
"Tapi, aku punya gebetan!" jawab Leo tidak mau kalah.
"Terserah." sahut Ryan acuh.
"Ehem.. Maksudku, coba nyanyikan untukku." kata Leo.
"Tidak mau." sahut Ryan.
"Ayolah, Ryan. Jangan pelit." kata Leo. Ia memang penasaran dengan apa yang Ryan buat karena menurutnya Ryan tidak biasanya seperti ini.
"Aku tidak pelit! Hanya saja aku membuat lagu ini bukan untukmu!" hardik Ryan.
"Lalu? Untuk siapa?" tanya Leo.
"Untuk?" tanya Leo.
"Untuk.. Ya, untuk diriku sendiri." jawab Ryan.
"Tidak mungkin. Kamu pasti membuatnya untuk seseorang yang sangat spesial di hatimu, 'kan?" tanya Leo sambil tersenyum dan mengangkat alisnya.
"Tidak!" jawab Ryan kesal.
"Ayolah. Apa itu Angel?" tanya Leo sambil tersenyum.
"Kenapa selalu membahas Angel?" tanya Ryan acuh.
"Lalu.. tidak mungkin.. Dinda?" tanya Leo kaget.
"Hei. Sudah, jangan bicara yang tidak masuk akal. Aku mau kembali ke kamarku." kata Ryan. Namun, Ryan memasang ekspresi yang tidak bisa diartikan sehingga membuat Leo semakin penasaran.
__ADS_1
"Huh. Masih menghindar." kata Leo kesal.
"Ryan." panggil Leo sambil menyusul Ryan yang sudah berjarak 1 meter di depannya.
"Apalagi?" tanya Ryan tanpa menghentikan langkahnya.
"Tidak. Ehem. Jika kamu tidak mau menyanyikan lagunya, maka biarkan aku lihat liriknya." jawab Leo.
"Tidak mau." kata Ryan acuh.
"Ah, Ryan. Kenapa kamu ini?" tanya Leo sambil memasang muka cemberutnya.
"Aku kenapa? Aku juga tidak tau." jawab Ryan.
"Apa?" tanya Leo.
"Hei." lanjutnya saat Ryan berlalu meninggalkannya begitu saja.
"Si pelit ini. Lihat saja besok aku akan mencari tau sendiri." kata Leo sambil menggelengkan kepalanya. Setelah itu, ia pamit dan pulang ke rumahnya.
...****************...
Malam Hari Di kamar Ryan
"Lalu.. tidak mungkin.. Dinda?" pertanyaan Leo tadi benar-benar membuat Ryan terkejut sampai tidak bisa menjawab. Memang benar tadi saat Ryan menulis liriknya itu ia membayangkan wajah Dinda yang tersenyum, tetapi...
"Apa-apaan kamu ini, Ryan? Kamu tidak akan membuat lagu untuknya." kata Ryan meyakinkan dirinya.
"Tapi, sebenarnya lagu ini aku buat untuk siapa?" tanya Ryan sambil memegang secarik kertas yang terdapat lirik lagu yang barusan dibuatnya.
"Huh.. Leo, anak itu!" kata Ryan kesal.
"Lupakan saja, besok kamu harus menjadi MC juga. Istirahatlah." kata Ryan kepada dirinya sendiri. Setelah itu, ia langsung terlelap.
Bersambung......
__ADS_1