Ketos Tampan Itu, Kekasihku

Ketos Tampan Itu, Kekasihku
Kepulangan Priscilla


__ADS_3

"Maaf. Tapi kamu juga tau, jika kamu terus menunda, tidak akan ada lagi kesempatan yang tersisa." sela Leo.


"Leo." panggil Ryan.


"Iya?" sahut Leo.


"Apa kamu sudah tau?" tanya Ryan.


"Iya, aku sudah tau. Aku tau Dinda menyukaimu." jawab Leo.


"Tapi, kenapa kamu tetap menyatakan perasaanmu?" tanya Ryan sambil mengerutkan dahinya.


"Simple saja. Setiap wanita butuh sebuah kepastian, Ryan." jawab Leo sambil tersenyum.


"Kepastian?" sahut Ryan.


"Wanita tidak sebodoh itu. Sekalipun mereka sangat mencintai seorang pria, tetap saja manusia punya batas kesabaran masing-masing. Jika setelah penantian yang lama perasaannya tidak juga dibalas, tentu ia akan melupakanmu." jelas Leo.


"Jadi, apa kesimpulannya?" tanya Ryan.


"Kesimpulannya adalah jika kamu tidak memberi Dinda kepastian, sekalipun dia sekarang menyukaimu, nanti juga dia akan melupakanmu." jawab Leo.


"Sudahlah, aku sudah memberi tau. Terserah padamu mau bagaimana. Aku pergi dulu." kata Leo sambil menepuk bahu sepupunya itu.


"Kepastian?" gumam Ryan.


Leo ada benarnya juga. Kenapa aku tidak pernah tau itu? tanya Ryan dalam hati.


...****************...


Pagi hari di ruang makan


"Nak." panggil Jonathan.


"Kemarin, papa dengar kamu bilang tidak ingin membohongi Clarissa. Soal apa itu?" tanya Jonathan.


"Perasaanku." jawab Ryan gugup.


"Perasaanmu?" sahut Jonathan yang sedikit terkejut.


"Kenapa? Apa sudah ada gadis lain di hatimu?" tanya Jonathan.


"Ya." jawab Ryan tanpa ragu.


"Kamu yakin? Siapa itu? Apa dia satu kelas denganmu?" tanya Jonathan.

__ADS_1


"Tidak." sahut Ryan singkat.


"Jadi, siapa dia? Ceritakan pada papa." kata Jonathan dengan tatapan wajah curiga. Ia takut jika wanita yang anaknya sukai ini akan sama saja seperti Alexa.


"Dinda Challista, kelas XI D." kata Ryan.


"Lalu? Kenapa kau menyukainya?" tanya Jonathan.


"Hmm..." sahut Ryan yang masih berusaha menemukan kalimat yang tepat untuk menjawab pertanyaan dari Papanya.


"Papa! Ryan! Aku pulang!" teriak seseorang yang berjalan mendekat ke arah mereka berdua.


"Cilla sudah pulang?" tanya Jonathan.


"Sudahlah, Pa. Apa Papa gak kangen sama Cilla?" sahut Priscilla sambil memanyunkan bibirnya manja.


"Kalian berdua selama di rumah baik-baik saja?" tanya Priscilla sambil merangkul Jonathan dan Ryan di lengan kanan dan kirinya.


"Iya, Papa baik-baik saja." jawab Jonathan.


"Aku selalu baik seperti biasanya." sahut Ryan dengan nada datar seperti biasa. Ia lalu berdiri dari kursinya dan berjalan meninggalkan ruang makan itu.


"Anak itu!" seru Jonathan.


"Jika bukan karena aku sudah berumur, aku akan memarahinya karena perilakunya yang tidak sopan." kata Jonathan sambil menggelengkan kepalanya.


"Bisa sibuk apa dia di hari libur begini?" tanya Jonathan kesal.


"Pa, Ryan 'kan Ketua OSIS. Bisa aja dia lagi ada meeting atau keperluan lain." jawab Priscilla.


"Hah, sudahlah. Kamu ini terus membela adikmu itu." desah Jonathan.


"Kenapa kamu pulang lebih awal dan tidak memberi tau papa?" tanya Jonathan.


"Pa, aku 'kan sudah besar. Kenapa aku harus memberi tau?" tanya Priscilla.


"Tentu saja harus. Kamu masih saja anak perempuan yang cengeng bagi Papa." jawab Jonathan sambil tertawa pelan saat mengingat Priscilla kecil yang suka menangis.


"Pa, aku udah gak cengeng lagi kayak dulu!" gerutu Priscilla yang tidak terima dirinya dibilang cengeng.


"Baiklah. Sekarang katakan kenapa kamu pulang lebih awal?" tanya Jonathan.


"Karena aku ada janji ngumpul sama temen nanti sore." jawab Priscilla santai.


"Temen? Temen yang mana?" tanya Jonathan kaget.

__ADS_1


"Temen deket aku yang dulu, Pa. Papa tenang aja, aku gak bakal berbuat onar diluar." jawab Priscilla.


"Bukan itu yang papa khawatirkan, tapi bisa saja mereka mau berteman denganmu karena uangmu, Cilla." kata Jonathan memperingati putri satu-satunya itu.


"Kenapa Papa selalu berasumsi seperti itu? Tidak semua orang itu jahat." sahut Cilla.


"Ryan saat ini benar-benar membuat kepala Papa pusing. Kamu jangan membuat kepala Papa tambah pusing." kata Jonathan sambil memijat pelipisnya.


"Memangnya apa yang dia lakukan? Bukannya dia baik-baik aja?" sahut Priscilla sambil menatap ke arah Jonathan.


"Satu bulan yang lalu, dia bertunangan dengan Clarissa. Tapi sekarang, dia menyukai wanita lain dan ingin membatalkan pertunangan yang sudah Papa dan Om Revan buat dengan begitu meriah. Mau ditaruh dimana wajah Papa dan Om Revan saat ini jika dia berpikir seenaknya saja untuk membatalkan pertunangan?" tanya Jonathan dengan nada tinggi yang menandakan dirinya kesal.


"Tunggu... Tunggu... Apa? Tunangan? Satu bulan yang lalu? Kenapa Papa tidak mengundangku? Setidaknya Papa 'kan bisa memberi tau supaya aku bisa mengobrol dengan Ryan." sahut Priscilla yang merasa kecewa karena dirinya sama sekali tidak tau tentang kabar itu.


"Saat itu, kamu sangat bersemangat untuk membuat karya desain barumu dan memperkenalkannya ke publik. Bagaimana mungkin Papa mengusikmu dengan memberi tau pertunangan yang tidak seberapa ini?" jelas Jonathan.


"Apa maksud Papa tidak seberapa? Aku pikir Ryan tidak akan pernah menyukai wanita lagi setelah kejadian saat itu. Tapi, saat ini dia bertunangan. Bukankah itu bagus?" tanya Priscilla sambil tersenyum.


"Ya, memang bagus. Hanya saja, tadi pagi dia berkata pada Papa kalau dia menyukai wanita lain." jawab Jonathan sambil membuang napasnya kasar.


"Ryan bukan orang yang kayak gitu. Apa Papa yang memaksanya bertunangan dengan seseorang yang tidak dia sukai?" tanya Priscilla.


"Memaksanya? Untuk apa Papa memaksanya? Lagi pula semua yang Papa lakukan untuknya selama ini adalah demi kebaikannya." jawab Jonathan tegas.


"Tapi, Pa, gak semuanya bisa dipaksain..." sahut Priscilla.


"Cilla, kamu pasti lelah karena berada di pesawat selama waktu yang cukup lama. Jadi, kamu harus beristirahat dengan cukup. Pergilah ke kamarmu dan istirahat." sela Jonathan.


"Ok, fine!" sahut Cilla.


...****************...


Pagi hari di The Big Heart Company


"Hendra." panggil Jonathan saat mereka berdua sedang menaiki lift menuju ke lantai dua puluh.


"Ya, Tuan. Apa ada yang Tuan butuhkan?" tanya Hendra.


"Selidiki secara detail siapa itu Dinda Challista. Dia satu sekolah dengan Ryan, kelas XI D. Selidiki diam-diam. Jangan sampai Ryan menyadarinya." kata Jonathan memberikan instruksi yang jelas.


"Baik, Tuan." jawab Hendra.


"Jika sudah, beri tau dalam bentuk dokumen saja. Dan juga, selain Ryan, jangan sampai Cilla tau hal ini." sahut Jonathan. Setelah itu, ia langsung melangkah keluar dari lift untuk menuju ke ruang kerjanya.


"Baik, Tuan. Saya mengerti." kata Hendra. Ia membungkukkan badannya lalu mengikuti Jonathan keluar dari lift untuk berjalan masuk ke dalam ruang kerjanya.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2