Ketos Tampan Itu, Kekasihku

Ketos Tampan Itu, Kekasihku
Kompetisi Basket (1)


__ADS_3

Matahari bersinar sangat cerah hari ini yang terlihat melalui celah jendela kelas XI A. Ryan baru saja akan beranjak masuk ke dalam kelasnya namun dihentikan oleh seorang wanita paruh baya yang tidak lain adalah Bu Amelia.


"Ryan! Nak!" panggil Bu Amelia dengan kening yang berkerut. Daritadi, Bu Amelia berusaha mengejar Ryan untuk memberitahukan sesuatu.


"Ada apa, Bu?" tanya Ryan yang langsung menghentikan langkahnya.


"Kalian para OSIS harus tentuin siapa yang mau jadi MC dan PIC lomba. Waktunya sampai besok sore jam 6. Ibu tunggu ya, Nak. Semangat!" kata Bu Amelia. Bu Amelia memang memfavoritkan Ryan karena selain berprestasi Ryan juga tampan.


"Baik, Bu." sahut Ryan.


"Baiklah, Nak. Ibu pergi dulu. Sampai nanti." kata Bu Amelia.


Ryan pun mengambil ponselnya lalu menelepon Matthew, wakilnya.


"Halo, bro. Napa?" tanya Matthew di telepon.


"Sore ini kita harus meeting buat acara Hari Valentine. Bantu atur jadwal sama ingetin ke semua anggota." kata Ryan yang langsung berbicara to the point.


"Siap, bro." sahut Matthew.


"Udahan dulu, ya. Mau masuk kelas." kata Ryan.


"Yo! Fighting buat nanti siang, bro!" seru Matthew.


"Thanks, Matt." sahut Ryan.


"Welcome." sahut Matthew.


...****************...

__ADS_1


Kring.. Kring.. Kring..


Bel istirahat pertama berbunyi, para murid langsung segera keluar dari ruang kelas masing-masing. Tentu saja, hari ini adalah hari yang cukup spesial karena tim basket SMA Tunas Bangsa II akan bertanding basket melawan tim basket dari sekolah-sekolah lain. Namun, bagi para siswi tentu saja hari ini adalah hari yang spesial karena bisa menonton Ryan bermain basket lagi.


"Wah, gila, gila! Aku sudah mau pingsan sekalipun hanya melihatnya berjalan!" kata salah satu siswi.


"Wow.. Dia memang orang tertampan yang pernah aku lihat seumur hidupku." sahut siswi lain.


"Kapten basket terfav gua cuma Ryan, Let's go, baby!" timpal siswi lainnya.


"Ryan sayang, fighting!!!" teriak siswi lain.


"Hei, hei, kalian!" teriak Angel.


"Ryan itu pacar gua. Jangan macam-macam. Gua yang harus menontonnya paling depan. Siska, minggir lu!" lanjutnya.


"Enak saja. Gua duluan yang sedari tadi berdiri disini supaya bisa melihat sayangku bermain dengan jarak yang dekat. Lu aja baru datang, kenapa lu egois sekali mau merebut tempat gua?" sahut Siska kesal.


"Bener. Ngapain lu disitu? Minggir sana!"


"Jadi, lu mau minggir sekarang atau..."


"Yah, lima tante-tante mulai berulah lagi deh." desah Matthew. Ya, sebagai wakilnya Ryan, ia sangat mengerti bagaimana Ryan kesulitan menghadapi wanita satu ini.


"Apa yang kalian perdebatkan?" tanya Matthew berjalan mendekat menghampiri Angel dan Siska.


"Ini si Siska gak tau diri berdiri disini. Ini 'kan tempatnya Angel!" sahut Karen.


"Bener tuh." timpal Mellisa.

__ADS_1


"Tapi, gua duluan yang berdiri disini dari satu jam yang lalu!" seru Siska.


"Ryan!" teriak Matthew. Ia memang sengaja meneriakkan nama Ryan supaya Angel and the geng berhenti membuat keributan.


"Matt?" tanya Ryan.


"Apa kamu akan tampil sekarang?" tanya Matthew.


"Aaaa, cepat lihat. Ryan disini!" teriak salah seorang siswi. Kini, para siswi sudah mengerubungi Ryan dan Matthew.


"Siapa yang tampil? Aku hanya akan berlatih saja." sahut Ryan. Ia pun meminum tiga teguk air di botol minuman yang sedang ia pegang saat ini.


"Aaaa, lihat! Bahkan walaupun hanya minum saja dia sangat tampan!" kata seorang siswi.


"Cih. Apa-apaan itu? Ryan 'kan baru mau berlatih. Kenapa semua orang sudah memujanya?" kata Joseph dari kejauhan.


"Oh, benar juga. Kamu akan bertanding nanti siang ya. Oke, semangat! Aku pasti akan menonton dan bersorak untukmu!" kata Matthew antusias.


"Thank you, bro." sahut Ryan. Ryan pun berlatih basket bersama timnya. Walaupun baru berlatih, kemampuan Ryan dalam bermain basket bukan main. Ryan sangat mahir dalam permainan ini. Inilah yang membuatnya berhasil menjadi kapten basket semenjak dirinya masih duduk di bangku kelas 8 SMP sampai sekarang.


"Ryan! Ryan! Ryan!" teriak semua murid kecuali... Joseph dan beberapa murid yang iri dengan Ryan.


"Aaaaa, Ryan! Tampannya!" teriak para siswi yang menonton.


"Let's go, bro!" teriak para siswa. Teriakan mereka tentu saja berbeda dari teriakan para siswi. Jika para siswi berteriak karena Ryan tampan, para siswa berteriak karena Ryan akan mencetak gol.


"Gol! Yes! Woo! Ryan, kamu yang terbaik!" teriak para siswa lagi setelah Ryan berhasil mencetak gol untuk yang ketiga kalinya.


"Ryan! Aku mendukungmu, sobat!" teriak Leo sambil tersenyum. Ryan sempat menoleh dan tersenyum ke arah Leo setelah selesai mencetak gol. Walaupun Leo adalah sepupunya, tapi Leo sudah seperti seorang saudara baginya.

__ADS_1


"Terimakasih, Leo." kata Ryan yang nyaris tidak terdengar.


Bersambung...


__ADS_2