Ketos Tampan Itu, Kekasihku

Ketos Tampan Itu, Kekasihku
Pernikahan Alvaro & Priscilla


__ADS_3

Pernikahan Priscilla dan Alvaro diadakan di salah satu aula hotel termewah di Jakarta. Aula itu dihiasi dengan berbagai ornamen pernikahan yang begitu indah. Ketika Dinda baru saja menginjakkan kaki di dalam aula, ia melihat begitu banyak orang dan ada sebuah kereta kuda dan seorang fotografer yang akan memfoto tamu undangan yang hadir pada malam ini. Dinda pun ikut mengantre untuk berfoto bersama kereta kuda tersebut. Tidak lama kemudian, foto itu langsung tercetak sendiri dari printer yang ada di dekat sana dan Dinda bisa langsung mengambil foto itu dan menyimpannya.


"Aku ga kenal siapa-siapa di sini, tapi gapapa, aku bisa kenalan sama orang baru," gumam Dinda. Ia mulai menyapa satu per satu tamu undangan yang hadir, terutama kepada teman-teman dari Priscilla. Mereka semua langsung menyukai Dinda yang begitu ramah.


"Ternyata Cici kamu cantik banget," kata Dinda setelah melihat foto-foto pre-wedding Alvaro dan Priscilla yang ditampilkan di layar.


"Nanti kalau kita menikah, kamu bakal jadi pengantin paling cantik di seluruh dunia," sahut Ryan.


"Kita?" tanya Dinda sambil menatap ke wajah Ryan.


"Iya, memangnya kamu mau nikah sama siapa kalau bukan sama aku, hmm?" tanya Ryan sambil memeluk Dinda dari belakang.


"Ryan!" panggil Dinda secara tidak sadar.


"Kenapa, Sayang?" tanya Ryan yang sengaja ingin menggoda pacarnya itu.


"Di sini rame," jawab Dinda. Ryan langsung melepaskan pelukannya saat Dinda mulai merasa tidak nyaman dipeluk olehnya.


"Hai, kalian yang waktu itu ada di cafe, 'kan?" tanya salah satu tamu undangan yang hadir. Dinda dan Ryan langsung menoleh ke samping kanan mereka untuk melihat siapa yang sudah menyapa mereka.


"Iya, Cici..." jawab Dinda bingung. Ia belum mengetahui nama dari Cici yang menyapanya itu.


"Nama aku Stella, aku temennya Priscilla waktu kuliah," kata Stella sambil mengulurkan tangan kanannya untuk bersalaman.


"Halo, Ci Stella," sapa Dinda.


"Nama kamu siapa?" tanya Stella.


"Aku Dinda," jawab Dinda sambil tersenyum.


"Halo, kalian ke sini karena kenal sama pengantin cowonya atau pengantin cewenya?" tanya Stella penasaran.


"Aku adiknya Ci Cilla," jawab Ryan sopan.


"Oh, kamu Ryan? Pantes kamu keliatan familier. Ternyata kamu lebih ganteng kalau diliat langsung daripada di foto," sahut Stella antusias.


"Makasih, Ci," balas Ryan.


"Ryan, Dinda, Cici boleh foto sama kalian gak?" tanya Stella sambil menatap Ryan dan Dinda secara bergantian.


"Boleh," jawab Dinda. Mereka pun berfoto bersama.


"Cici pergi dulu, ya. Maaf udah ganggu kalian berdua," kata Stella yang langsung pergi dari hadapan Ryan dan Dinda. Setelah Stella pergi, Ryan langsung memeluk Dinda lagi.


"Ri, kita jangan pelukan di sini," kata Dinda.


"Kenapa memangnya?" tanya Ryan sambil mengangkat alis kanannya.


"Ini 'kan hari pernikahan Cici kamu," jawab Dinda.


"Iya, terus kenapa?" sahut Ryan.


"Kita pelukannya bisa nanti aja, 'kan?" tanya Dinda.

__ADS_1


"Oke, kamu harus peluk aku nanti," kata Ryan


"Hah? Maksud aku nanti itu bisa kapan-kapan," balas Dinda.


"Iya, kapan-kapan itu abis acara ini," jawab Ryan.


"Yaudah, nanti aku tunggu di sini ya sampe acaranya selesai," sahut Dinda.


"Sayang, aku ga bisa temenin kamu lagi. Aku harus naik ke panggung nanti. Aku pergi dulu, ya," kata Ryan.


"Iya, bye," balas Dinda.


Tidak lama kemudian, acara pernikahan yang sesungguhnya pun dimulai. Pihak keluarga mulai keluar dari pintu belakang aula pernikahan dan berdiri di depan kursi mereka masing-masing. Setelah itu, Alvaro juga keluar dari pintu belakang aula pernikahan itu.


Kemudian, lagu "Beautiful In White" pun mulai dimainkan oleh para pemain musik terkenal di negeri ini. Selagi lagu itu dimainkan, Priscilla keluar dari pintu belakang aula pernikahan itu dengan memakai gaun pengantin berwarna putih yang sangat indah. Gaun pengantin itu dibuat khusus untuknya oleh salah satu fashion designer dari Indonesia. Priscilla juga memakai anting dan kalung yang terbuat dari emas putih.


Setelah lagu itu selesai dimainkan, Alvaro segera menekuk lutut kirinya dan memakaikan cincin di jari manis Priscilla. Kemudian, kedua pengantin itu berciuman. Lalu, kedua pengantin itu saling menyuapi kue pernikahan. Mereka juga menyuapinya kepada orang tua mereka.


Setelah itu, pengantin wanita melempar bunga yang dipegangnya kepada salah satu tamu undangan yang hadir. Kemudian, beberapa penyanyi tanah air yang diundang pada acara malam hari ini mulai menampilkan lagu terbaik mereka. Setelah semuanya selesai, para tamu undangan boleh naik ke atas panggung untuk bersalaman dan memberi selamat kepada kedua pengantin. Dinda ikut naik ke atas panggung untuk memberi selamat kepada dua orang yang menikah hari ini.


"Selamat, ya, Ci," kata Dinda sambil menyalami Priscilla.


"Kamu Dinda?" tanya Priscilla dengan nada antusias. Priscilla bisa menebak kalau gadis yang sedang bersalaman dengannya ini adalah Dinda karena ia pernah melihat foto Dinda di ponsel Ryan.


"Iya, Ci," jawab Dinda.


"Kamu cantik banget! Nanti kita harus ngobrol lagi, ya," sahut Priscilla sambil tersenyum.


"Oke, Ci," kata Dinda yang langsung membalas senyuman itu.


"Dinda, kamu tunggu di ruang tunggu aja, ya. Ruang tunggunya ada di sebelah kiri aula ini. Nanti Cici bakal ke sana," kata Priscilla setelah mereka selesai berfoto.


"Oke, Ci," sahut Dinda.


...****************...


"Halo, makasih ya udah mau nungguin Cici," kata Priscilla sambil duduk di sebelah kiri Dinda.


"Iya, Ci," sahut Dinda sambil mengangguk.


"Cici kelamaan ya datangnya?" tanya Priscilla sambil tersenyum.


"Engga kok, Ci," jawab Dinda sambil menggelengkan kepalanya.


"Dinda, gimana hubungan kamu sama Ryan?" tanya Priscilla.


"Baik, Ci," jawab Dinda sambil tersenyum.


"Kemarin Ryan pergi sama kamu, 'kan?" sahut Priscilla.


"Iya, Ci. Aku sama Ryan perginya rame-rame sama temen-temen yang lain juga," jawab Dinda.


"Cici di sini ternyata," kata Ryan yang baru saja membuka pintu ruang tunggu.

__ADS_1


"Ryan," panggil Priscilla.


"Kenapa, Ci?" sahut Ryan.


"Kamu kok bisa dapet pacar yang cantik, baik, ramah padahal kamu gak ramah?" tanya Priscilla.


"Ci, aku memang gak ramah. Tapi karena itu, aku jadi bisa pacaran sama Dinda," jawab Ryan sambil tersenyum.


"Kamu bisa dapet pacar yang kayak Dinda, Cici udah bisa tenang," sahut Priscilla sambil tersenyum.


"Iya, Ci. Cici tenang aja," kata Ryan.


"Oke," balas Priscilla.


"Cici istirahat aja dulu, kita bisa ngobrol lagi nanti kalau Cici mau," kata Dinda setelah melihat wajah Priscilla yang kelelahan.


"Mau! Kamu tulis aja nomor handphone kamu di sini," sahut Priscilla sambil menyodorkan ponselnya ke arah Dinda supaya Dinda bisa menuliskan nomor ponselnya pada kontak di ponsel Priscilla.


"Ini, Ci," kata Dinda sambil menyerahkan ponsel itu ke tangan Priscilla.


"Makasih, ya, Dinda. Kamu boleh pulang sekarang. Cici pergi dulu, ya, bye," sahut Priscilla sambil melambaikan tangannya.


"Sayang," panggil Ryan.


"Iya," sahut Dinda yang langsung menatap wajah pacarnya itu.


"Cici aku gak tanya yang aneh-aneh sama kanu, 'kan?" tanya Ryan.


"Gak, memang kenapa?" sahut Dinda penasaran.


"Gapapa sih," jawab Ryan.


"Peluk aku dong," kata Ryan.


"Kamu masih inget aja," sahut Dinda sambil bangkit berdiri lalu memeluk Ryan. Ryan segera membalas pelukan itu sambil tersenyum.


"Aku kangen banget sama kamu," bisik Ryan.


"Kita 'kan udah ketemu tadi," sahut Dinda.


"Iya, tapi aku tetep kangen. Mungkin karena kamu terlalu cantik," kata Ryan sambil menatap wajah Dinda dari jarak yang sangat dekat sampai Dinda menjadi salah tingkah.


"Aku juga kangen sama kamu," kata Dinda pelan.


"Makasih, Sayang," sahut Ryan sambil tersenyum.


"Sayang," panggil Dinda.


"Hmm?" jawab Ryan.


"Aku harus pulang sekarang," kata Dinda.


"Iya, kabarin aku ya kalau kamu udah sampe di rumah," sahut Ryan sambil mengusap kepala Dinda.

__ADS_1


"Oke," kata Dinda sambil mengangguk.


Bersambung......


__ADS_2