
"Anak-anak, hari ini ibu mau menyampaikan tentang tugas kalian. Tolong dengarkan baik-baik."
"Baik, Bu Rosa."
"Kepala sekolah memberikan kalian tugas baru. Tugas kalian adalah membuat suatu produk lalu meminta testimoni produk tersebut dari orang lain. Tidak boleh meminta kepada teman sekelas. Bulan depan kalian akan mempresentasikan tugas kalian. Kelas kita adalah satu-satunya kelas yang terpilih. Jadi, bulan depan kalian harus presentasi di depan aula sekolah. Jadi, tolong persiapkan baik-baik. Apa kalian mengerti?"
"Kami mengerti, bu."
"Kalian akan bekerja dengan kelompok. Satu kelompok lima orang ya. Kalian boleh tentukan sendiri kelompoknya tapi harus ada cowok dan cewek. Kalian sekarang akan menentukan kelompok dan membuat produknya. Jika waktunya tidak cukup, kalian harus mengerjakannya diluar jam pelajaran."
"Baik, bu."
"Din, kita bertiga barengan, yuk!" ajak Amanda dan Ayu kompak.
"Oke."
"Aku ajak Budi juga ya." kata Amanda.
"Permisi."
"Leonard?" tanya Ayu kaget.
"Apa aku bisa bergabung dengan kalian?" tanya Leo.
"Tentu saja bisa." jawab Ayu. Tapi, Ayu izin meninggalkan kelompok dan membuat kelompok baru bersama Rangga, Samuel, dll.
Leonard. Sejak kapan dia dekat dengan Dinda? Huh, aku tidak tega dengan Rangga dan Clarissa jika begini. Aku harus membuat kelompok baru. batin Ayu.
"Kamu mau sama siapa, Ayu?" tanya Amanda saat Ayu izin meninggalkan kelompok.
"Aku sama Samuel dan Rangga aja. Nanti sisanya aku cari."
"Kita masih kekurangan satu orang lagi loh." sahut Amanda.
"Kalian kan bisa mengajak Clarissa bersama kalian?" sahut Ayu sambil mendesah.
"Ah, iya benar. Terimakasih ya, Ayu." sahut Amanda.
"Kamu kenapa tidak bergabung dengan mereka?" tanya Bryan kepada Ayu.
"Bagaimana mungkin aku bisa bergabung dengan mereka jika ada Leo?"
"Memangnya kenapa dengan Leo?"
"Tidak apa-apa. Sudahlah, kamu mau bergabung dengan kelompok kami gak?"
"Tentu." sahut Bryan. Kelompok Dinda berisi Dinda sendiri, Leo, Clarissa, Amanda, dan Budi. Sementara itu, kelompok Ayu akhirnya penuh. Ada Ayu, Rangga, Bryan, Samuel, dan Brenda.
Kring..Kringg..Kringgggg
Bel pulang sekolah berbunyi. Murid-murid sudah bersiap-siap. Ada yang bersiap mengikuti ekstrakulikuler, pergi ke tempat les dan pulang ke rumah masing-masing.
"Kalian berencana akan bertanya kepada kakak kelas dan adik kelas?" tanya Leo.
"Iya." sahut Dinda.
"Kalau begitu apa aku boleh menanyakan ke Ryan saja terlebih dahulu?"
"Ryan? Memangnya dia akan setuju untuk memberikan kita testimoni?" tanya Amanda.
"Kenapa? Bukankah kamu teman masa kecilnya?" celetuk Dinda.
"Dia adalah orang yang temperamennya gampang berubah. Walaupun aku temannya, aku tetap tidak bisa memastikan dia akan membantu kita." Amanda menjelaskan.
"Itu benar sekali." sahut Leo.
"Jadi, mau bagaimana?" tanya Budi.
"Tentu saja bisa. Aku akan memaksa dan memohon padanya." sahut Leo.
"Kenapa kamu bersikeras meminta testimoni darinya?" tanya Budi heran.
"Tenang saja. Dia akan memberikannya. Pasti." sahut Leo dengan senyum tipis di wajahnya.
...****************...
"Ryan." seseorang memanggilnya dari belakang.
"Apa?" sahut Ryan.
"Bisakah kamu mencoba produk ini dan memberikan testimoni?" tanya Leo.
"Aku? Kenapa?" sahut Ryan.
"Apa maksudmu kenapa?" tanya Leo heran.
"Kamu kan bisa meminta tolong ke yang lain." sahut Ryan.
"Tapi, aku mau dari kamu dulu baru yang lain." jawab Leo.
"Huh. Jangan hari ini." sahut Ryan.
"Oke. Kapan kamu bisa?" tanya Leo.
"Entahlah. Aku lelah. Aku mau pulang dulu. Sampai nanti." jawab Ryan.
"Ada apa dengannya?" tanya Leo kepada dirinya sendiri.
...****************...
Di sebuah ruang baca pribadi yang megah, ada seorang pria tampan yang sedang berpikir keras.
"Ah. Yang benar saja."
"Bodoh! Kenapa kamu malah memikirkannya lagi?" Ryan memaki dirinya sendiri. Ia masih terbayang tentang momen kebersamaannya dengan Alexa dan Leo.
*Di balkon tempat tinggal Alexa*
"Sayang."
"Hmm?"
"Kamu masih marah sama aku?"
"Gak kok. Sana, kamu main aja sama Leo sepuasnya." menolehkan kepala ke arah yang berlawanan.
"Sayang." Ryan tidak menyahut. Alexa berdiri lalu berlari ke ujung. Ryan masih acuh tak acuh dengannya. Tapi, ketika Alexa mulai hampir meloncat Ryan langsung berlari dan menangkapnya.
"Apa kamu sudah gila? Kamu bodoh atau gila? Beraninya kamu mau loncat kebawah sana." menunjuk ke arah bawah.
"Kenapa sayang?" sahut Alexa.
"Apa maksudmu kenapa? Kamu mau mati?"
"Jika aku mati, apa kamu akan memaafkanku?"
"Apa! Kamu tidak boleh mati. Aku tidak akan membiarkan kamu mati." Ryan berteriak. Alexa hanya tersenyum lalu menghadapkan pandangannya ke arah perkotaan di depan rumahnya.
"Kamu tahu apa?" Alexa bertanya.
"Apa maksudmu?" balas Ryan.
"AKU, ALEXA CAROLINE, HARI INI AKU MAU LANGIT DAN BUMI BERSAKSI KALAU AKU SANGAT MENCINTAI RYAN JONATHAN!" teriak Alexa.
"Hei. Apa kamu benar-benar sudah gila?" tanya Ryan. Ia hanya menghela napasnya panjang.
__ADS_1
"Aku gila jika kamu tidak mau memaafkanku. Kumohon maafkan aku, ya? Ah, percayalah padaku." Alexa merengek.
"Baiklah. Aku memaafkanmu, Puas?" sahut Ryan.
"Terimakasih sayang." Alexa dan Ryan berpelukan sambil menikmati indahnya pemandangan di depan mata.
"Wah wah. Ada yang pamer kemesraan disini." seseorang tiba-tiba datang dari belakang dan tertawa terbahak-bahak.
"Leo?" tanya Alexa.
"Leonard, sedang apa kamu disini?" tanya Ryan dengan muka datarnya. Ryan segera melepaskan pelukannya dari Alexa.
"Hahahahahah." Leo masih tetap terbahak-bahak.
"Sudahlah. Tidak apa-apa. Lanjutkan saja." lanjut Leo. Ryan hanya menatapnya tajam.
"Haha iya itu um..Maaf aku tidak bisa mengendalikan ini. Haha. Ryan tolong jangan bunuh aku." kata Leo.
"Siapa mau membunuhmu? Lagipula kamu tidak punya pacar jadi mati pun tidak jadi masalah kan untukmu?"
"Hei. Aku tahu aku memang jomblo tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya denganku!" Leo membentak Ryan sambil tertawa.
"Abaikan saja dia. Dia memang sudah gila." kata Ryan kepada Alexa. Mereka berdua berpelukan lagi.
"Astaga teganya mereka berpelukan seperti cacing di depanku." kata Leo kepada dirinya sendiri.
"Leo, apa kamu benar-benar kesepian?" tanya Alexa.
"Terkadang aku merasa begitu." sahut Leo.
"Kalau begitu carilah pacar." sahut Alexa sambil tertawa.
"Benar, carilah pacar. Kalau perlu sekalian saja download aplikasi pencari jodoh dan ikut kencan buta sana." sahut Ryan.
"Terserahlah." Leo hanya bisa pasrah.
"Huh! Ryan, sadarlah. Kamu harus sadar! Dia sudah meninggalkanmu, kenapa kamu masih saja terbayang tentangnya?" gerutu Ryan kepada dirinya sendiri. Ia kembali membaca hasil rapat OSIS tadi sore. Ryan tidak tidur semalaman.
...****************...
"Selamat pagi, Ryan."
"Pagi."
"Ryan, kapan kamu bisa memberikan testimoninya?"
"Aku tidak tahu."
"Ayolah." Leo memohon.
"Kenapa? Kamu hanya mau berteman denganku jika aku membantumu?" desah Ryan.
"Tidak. Bukan begitu." sahut Leo.
"Kamu sekelompok dengan siapa?" tanya Ryan.
"Apa? Bukankah biasanya kamu tidak ingin tahu?"
"Jawab saja apa susahnya!"
"Aku sekelompok dengan Amanda, Budi, Dinda, dan Clarissa."
"Apa?"
"Kenapa?"
"Tidak ada Ayu dan Rangga?"
"Kenapa? Aku juga tidak tahu kenapa mereka tidak ikut bergabung dengan kami."
"Jadi, kapan kamu setuju membantu kami?"
"Kenapa? Karena jika aku yang memberikan testimoni produkmu pasti laku?"
"Hehe. Apa kamu juga bisa memberikan tanda tanganmu sekalian?" Ryan tidak menjawab.
"Nanti jam 4 sore datanglah kerumahku dengan teman sekelompokmu. Jika terlambat, kalian akan..."
"Iya. Aku mengerti. Sampai nanti." Leo menyahut dengan nada getir. Ryan tidak menjawab. Ia langsung pergi menuju ke kelasnya.
...****************...
"Selamat datang, Tuan Leo." Kepala pelayan di rumah Ryan menyapa dengan ramah.
"Apa kabar, Pak Bagus? Tidak perlu memanggilku sesopan itu."
"Saya baik tuan. Saya dengar tuan dan Tuan muda Ryan sudah membuat janji sebelumnya. Apa anda sendirian saja?"
"Tidak. Masih ada 4 orang lagi. Hanya saja baru aku yang sampai."
"Baik, tuan Leo." Pak Bagus mengarahkan tangannya kearah dua pelayan perempuan untuk memberikan makanan dan minuman sebagai snack.
"Ini tuan, silahkan dinikmati." kata salah seorang pelayan perempuan.
"Terimakasih. Letakkan saja di meja." sahut Leo sambil tersenyum tipis.
"Baik tuan."
"Kalau begitu, kami permisi dulu." Pak Bagus dan dua pelayan perempuan yang bersamanya pergi dari hadapan Leo.
"Hei Leo."
"Ryan!"
"Kamu sudah menunggu lama?"
"Belum lama kok. Bagaimana kabarmu? Pasti melelahkan bukan setelah rapat OSIS masih harus membantuku? Maaf ya."
"Haha.." Ryan belum menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba Dinda muncul entah darimana. Sorot mata Ryan langsung tertuju pada Dinda.
Wah, cantik sekali dia. Dia memakai kaos, denim, dan celana jeans ke rumahku? Parfum apa ini...sepertinya aku kenal dengan aromanya. Ah, benar. Ini pasti parfum Chanel. Wah, untuk apa dia memakai parfum semahal ini ke rumahku. Apa harus kukerjai dia ya?
"Halo, Leo, Ryan. Apa aku terlambat?"
"Tidak, kamu tidak terlambat."
"Tidak, kamu datang tepat pada waktunya." Leo dan Ryan menyahut bersamaan.
"Tepat pada waktunya?" Leo bertanya. Ia dan Dinda tampak sangat kebingungan.
"Haha.. Tentu. Tadi kamu bilang pasti melelahkan setelah rapat OSIS masih harus membantumu. Tapi, aku tidak membsntumu. Aku membantu Dinda. Benar kan, Din?" Ryan mengedipkan sebelah matanya.
"Um..Itu.. Iya. Kamu memang melakukannya untuk membantuku dan juga kelompokku." Dinda menyahut dengan gugup.
"Kenapa kamu gugup?" Ryan bertanya.
"Apa? Aku gugup? Tentu tidak. Aku tidak gugup kok." jawab Dinda.
"Ehem..Leo." Ryan sengaja batuk.
"Apa? Kamu sakit?" tanya Leo.
"Tidak. Aku setuju membantu kalian." Ryan menarik tangan Leo agar menjauh dari teman-teman kelompoknya. Bertepatan dengan kejadian ini, Amanda, Budi, dan Clarissa datang bersamaan.
"Dengan satu syarat."
__ADS_1
"Apa itu?"
"Jangan beritahu pada teman kelompokmu tentang ini."
"Baiklah. Apa syaratnya?"
"Bilang pada Dinda kalau aku hanya akan memberikan tanda tanganku jika dia setuju untuk pergi ke rumahku lagi besok."
"Tadi kamu bilang jangan beritahu pada teman sekelompokku, tapi Dinda adalah teman sekelompokku!"
"Ah. Intinya bilang saja padanya begitu."
"Wah. Apa maksudnya ini? Kalian mau berkencan?"
"Ya." sahut Ryan.
"Apa! Kamu serius!"
"Jangan berpikiran yang aneh-aneh! Mau saja kamu dibohongi!"
"Lantas untuk apa kamu menemuinya?" Pertanyaan dari Leo ini membuat Ryan benar-benar bingung mau menjawab apa. Ryan berusaha keras untuk memutar otaknya. Ia sedang mencari alasan yang masuk akal.
"Aku. Ya, seperti biasanya. Tentu karena bisnis antara ayahku dengan ayahnya."
"Benarkah? Kenapa kalian tidak dijodohkan saja sekalian?"
"Hei jaga bicaramu!"
"Ya. Aku mengerti."
"Baiklah. Aku harus memberikan testimoni berupa apa?"
"Video dan foto."
"Oke. Apa ada lagi?"
"Tanda tangan pada foto. Bagaimana?" Dinda bertanya.
"Oke. Biar kucoba dulu produknya."
"Leo. Kamu dapat ide ini dari Alexa?"
"Kenapa memangnya?"
"Tidak apa. Baiklah, aku mengerti. Aku bisa direkam sekarang."
"Kamu tidak perlu latihan?" tanya Amanda.
"Hei. Apa kamu sudah lupa siapa aku? Aku adalah Ryan.."
"Ya, ya, ya. Kamu adalah Ryan Jonathan. Manusia paling tampan, pintar, dan memesona di seluruh negeri ini."
"Bagus jika kamu masih mengingatnya. Ingatlah terus."
"Ehem."
"Budi sepertinya sedang cemburu nih sekarang." Leo ikut menimpali.
"Hei. Kalian tidak mengerti rasanya karena kalian belum mengalami." Budi menjawab dengan nada datar.
"Sayang. Maafkan aku sayang." Amanda memeluk Budi di depan semua orang.
"Aduh mataku ternodai lagi." kata Leo.
"Ah. Untung saja mereka tidak berciuman." sahut Clarissa.
"Hei kalian. Rumahku bukan tempat untuk bermesraan dengan pacar!" bentak Ryan.
"Kami tau Ryan. Karena itu kamu carilah pacar supaya kamu tidak kesepian selama Kak Priscilla berada diluar." sahut Amanda.
"Hei kalian tidak usah sok bijak begitu. Nasihatilah Leo juga."
"Kami tidak menasihati. Kami hanya memberitahu." jawab Budi.
"Baiklah. Cepat rekam aku."
"1,2,3. Action!" kata Leo.
"Halo semuanya. Saya Ryan Jonathan. Hari ini saya akan memberikan testimoni mengenai produk I'malwayslovingU ini. Bahannya sangat simple. Produk ini dibuat dari bahan kain flanel halus dan benang tipis berwarna ungu, merah, dan biru. blablabla..." Ryan menyelesaikan video itu tanpa kesalahan sedikitpun. Hasilnya sempurna hanya dalam satu kali pengambilan video.
"Wah, Ryan. Kamu luar biasa! Tidak heran semua wanita jatuh hati padamu." Amanda memuji Ryan.
"Itu benar sekali. Aku memang lelaki yang hampir sempurna. Beruntungnya wanita yang akan mendapatkan hatiku nantinya." Ryan berbicara sambil menoleh kearah Dinda.
"Ehem." Budi hanya bisa pura-pura batuk untuk menyudahi percakapan antara Amanda dengan Ryan.
"Ryan, kusarankan kamu mencari pacar. Jika tidak mau ribet, maka kamu bisa pilih dari antara mereka berdua."
"Apa?" Dinda kaget. Begitupun dengan Clarissa.
"Haha.. Aku hanya bercanda teman-teman. Tidak perlu seserius itu." sahut Budi.
"Huh." Clarissa dan Dinda mendesah bersamaan.
"Sekarang foto ya. Say Cheese." Amanda mengarahkan.
"Wah. Tampan sekali." kata Amanda.
"Lihat ini. Semua fotonya sempurna." Amanda menyerahkan kameranya ke Dinda, Leo, dan Clarissa.
"Memang dia selalu setampan itu." sahut Leo.
"Wow, luar biasa tampan!" gumam Clarissa.
Diliat-liat dia memang tampan, tapi tetap bukan seleraku. batin Dinda. Ryan yang daritadi memperhatikan Dinda merasa aneh. Bagaimana bisa Dinda sama sekali tidak memujinya? Apa seleranya benar-benar buruk?
"Karena semua sudah beres kami harus pulang sekarang. Sudah pukul 19:00 sekarang. Sampai besok, Ryan." kata Amanda. Ryan mengantar mereka sampai ke depan pintu lobi.
"Kami pulang dulu ya. Terimakasih Ryan untuk hari ini. Maaf merepotkanmu." kata Leo.
"Ya." sahut Ryan. Ia kembali masuk ke rumahnya.
"Dimana yang lainnya?" tanya Dinda. Rupanya tadi semua pulang dan Dinda sedang pergi ke toilet.
"Mereka sudah pulang."
"Kalau begitu aku juga permisi. Sampai nanti."
"Tunggu!"
"Kenapa?"
"Kamu.. Ini. Terserah mau kau pakai atau tidak." Ryan menyerahkan kantong mewah dari merek brand ternama, Chanel.
"Terimakasih. Tapi, untuk apa kamu memberikan ini untukku?"
"Parfum yang kamu pakai sekarang parfum Chanel kan? Pakai saja sekalian yang ini."
"Terimakasih. Aku permisi." Dinda segera berjalan pergi keluar. Ryan menyusul di belakang tapi akhirnya memutuskan berhenti.
"Din, sampai nanti! Ingat tentang syarat persetujuan tadi!" Ryan mengingatkan.
"Iya. Sampai nanti."
BERSAMBUNG
__ADS_1