Ketos Tampan Itu, Kekasihku

Ketos Tampan Itu, Kekasihku
Pertunangan Dibatalkan


__ADS_3

Pagi hari menuju ke sekolah


"Tuan muda." panggil Hendra.


"Apa?" tanya Ryan sambil tetap fokus membaca buku pelajarannya.


"Saya ingin menanyakan sesuatu." jawab Hendra.


"Apa? Katakan saja." sahut Ryan tanpa mengalihkan pandangannya.


"Sebenarnya, seberapa besar Tuan muda menyukai Nona Dinda?" tanya Hendra. Mendengar pertanyaan ini membuat Ryan sedikit terkejut.


"Hmm... aku sangat menyukainya, tapi aku tidak bisa menunjukkan perasaan itu padanya karena Dinda pasti tidak percaya padaku untuk saat ini. Tapi, kenapa tiba-tiba menanyakan ini?" tanya Ryan curiga.


"Tidak apa-apa. Saya hanya ingin memastikannya." jawab Hendra.


"Ya, kalau perlu sekalian mengadu saja pada Papa." sahut Ryan.


"Tuan muda, kali ini saya bertanya bukan karena disuruh. Saya hanya ingin bertanya saja." kata Hendra. Tidak ada sahutan lagi setelahnya karena Ryan memilih untuk diam sampai ia tiba di sekolah.


...****************...


Siang hari di ruang kerja Jonathan


"Hendra." panggil Jonathan.


"Iya, Tuan." sahut Hendra.


"Ikut aku ke ruang kerja!" seru Jonathan. Hendra hanya mengekori langkah Tuannya sampai ke ruang kerja.


"Urus pembatalan pertunangan Ryan dan Clarissa." kata Jonathan sambil duduk di kursi kerjanya.


"Anda yakin sudah memikirkannya dengan baik, Tuan?" tanya Hendra ragu.


"Ya, untuk saat ini, inilah yang terbaik. Aku sudah menanyakannya juga pada Revan dan ia setuju." jawab Jonathan.


Tok... tok... tok...

__ADS_1


"Permisi, Tuan. Ini kopi yang Anda minta." kata Pak Eko sambil menaruh segelas berisi kopi ke meja kerja Jonathan.


"Terima kasih." sahut Jonathan. Pak Eko pun mengundurkan diri dari ruangan itu.


"Tuan, apa Anda berencana menjodohkan Tuan muda lagi di masa depan?" sahut Hendra dengan dahi yang berkerut.


"Tentu saja. Saat ini, terserah Ryan jika ingin bersama Dinda. Lagipula, pacaran anak muda zaman sekarang bisa bertahan berapa lama?" tanya Jonathan sambil menyesap kopinya.


"Saya tidak tau, Tuan." jawab Hendra.


"Tuan... bolehkah saya bicara mengenai keadaan Tuan muda?" tanya Hendra dengan raut wajah serius.


"Apa?" sahut Jonathan.


"Sejujurnya, selama ini Tuan muda... mungkin masih memiliki trauma semenjak kepergian Nona Alexa secara tiba-tiba saat itu. Semenjak saat itu, Tuan muda menjadi sosok yang dingin. Tapi, saat ini Tuan muda menyukai Nona Dinda... bukankah itu bagus, Tuan?" tanya Hendra gugup.


"Hendra, apa Ryan memintamu membelanya?" sahut Jonathan menatap mata asisten pribadinya itu.


"Tidak, Tuan. Tuan muda tidak pernah meminta apapun pada saya." elak Hendra. Kali ini, memang ia sendiri yang mengambil inisiatif untuk mendukung Ryan.


"Ya, berdasarkan kepribadiannya, dia memang tidak akan meminta apapun padamu. Tapi, kenapa kamu membelanya?" tanya Jonathan curiga.


"Pa, kenapa Papa begitu meragukan Ryan?" tanya Priscilla yang langsung masuk ke ruangan kerja Papanya begitu saja.


"Cilla, apa kamu menguping daritadi?" tanya Jonathan yang tidak menggubris pertanyaan Priscilla.


"Aku tidak berniat menguping kok. Hanya kebetulan saja. Tapi, apa Papa mau terus menekan Ryan?" sahut Priscilla.


"Menekan kamu bilang? Kenapa Papa menekannya?" tanya Jonathan.


"Ryan begitu serius terhadap Dinda. Aku bisa memastikan itu." jawab Priscilla.


"Mana buktinya?" tanya Jonathan.


"Apa itu semua perlu bukti? Terkadang, rasa suka datang secara tiba-tiba. Kenapa Papa bahkan melarangnya? Memangnya dulu Papa menikah dengan Mama bukan karena rasa suka?" sahut Priscilla.


"Papa memang menikahi Mamamu karena rasa suka. Tapi, lihatlah sekarang. Ke mana rasa peduli dan tanggung jawabnya sebagai seorang Mama setelah dia melahirkan kamu dan Ryan?" tanya Jonathan.

__ADS_1


"Tapi, kenapa Mama tiba-tiba meninggalkan kita? Itu tidak mungkin! Pasti ada alasan dibalik itu semua 'kan! Tidak ada seorang Mama yang setega itu!" seru Priscilla.


"Mamamu itu wanita mata duitan, Cilla. Papa hanya berusaha untuk mencegah Ryan mendapat pasangan yang licik seperti Mamamu." kata Jonathan.


"Tapi, jodoh 'kan sudah diatur oleh Tuhan, Pa! Bagaimana Papa bisa mencegahnya?" seru Priscilla.


"Cilla, menurutmu jodohmu bisa kamu pilih sendiri? Papa tau jodoh dipilih oleh Tuhan. Tapi, lihatlah, kamu juga cocok dengan Alvaro. Pokoknya, semua yang Papa pilihkan untuk kalian berdua adalah yang terbaik." kata Jonathan.


"Oh, iya. Kamu dan Alvaro akan menikah 1 bulan lagi." sambungnya.


"Apa? 1 bulan? Apa Papa ingin menyiksaku?!" teriak Priscilla yang terkejut karena acara pernikahannya tinggal 1 bulan lagi.


"Menikahlah supaya kamu bisa hidup bahagia, Cilla. Lagipula, Alvaro adalah pasangan yang cocok untukmu. Dia tidak akan menyiksamu." jelas Jonathan.


"Dia memang tidak akan menyiksaku! Papalah orang yang menyiksaku! Papa jahat sekali!" jerit Priscilla yang langsung menghentakkan kakinya dan pergi dari sana.


"Anak muda zaman sekarang... Kenapa begitu emosian?" gumam Jonathan sambil menggelengkan kepalanya.


...****************...


Sore hari di parkiran sekolah


"Tuan muda." panggil Hendra saat Ryan sudah masuk ke dalam mobil.


"Apa susahnya memanggil namaku? Ada apa?" tanya Ryan kesal. Ia sudah ratusan kali mengatakan kepada Hendra untuk memanggil namanya saja dan bukan dengan panggilan 'Tuan muda'.


"Pertunangan Anda dengan Nona Clarissa sudah dibatalkan." jawab Hendra.


"Apa? Benarkah?" tanya Ryan antusias.


"Iya, saya mana berani membohongi Anda, Tuan muda." sahut Hendra.


"Terima kasih." kata Ryan sambil tersenyum.


"Anda mau kemana, Tuan muda?" tanya Hendra bingung saat melihat Ryan yang langsung membuka pintu mobil dengan perasaan senang.


"Aku akan segera kembali." jawab Ryan. Hendra hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2